Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2011

Restoran ini sempet disebut-sebut sebagai salah satu tempat legendaris yang termashyur di Jakarta. Memajang foto Presiden Soekarno dan orang-orang penting yang pernah ditemuinya di berbagai sudut dan tentunya sembari menawarkan berbagai macam makanan yang semuanya all-you-can-eat. Signature.

Akhirnya sampailah saya di restoran itu memenuhi undangan seorang teman dekat yang merayakan hari jadinya yang kesekian kali (Umur nggak penting bukan? toh nggak ada keriput atau tanda2 penuaan di wajahnya). Anyway, kalau hotel Borobudur mengklaim Sop Buntutnya paling legendaris, di hotel yang dulunya Hotel Indonesia ini, mereka mengklaim bahwa Bubur Ayamnya yang paling legendaris. Terlepas dari legenda apa di balik itu semua, saya nggak ambil pusing, nggak ambil buat diicipin juga, karena temen2 saya juga no-comment, yang bisa berarti nggak enak, biasa aja, atau emang udah kelaperan tingkat akut.

Restoran yang menyuguhkan ke-Indonesia-an ini ironisnya lebih banyak memajang bling-bling di sekitar area makan. Jangan expect lagu2 atau langgam Jawa disini. Anyway, seperti biasa saya muter-muter dulu untuk melihat apa yang disuguhkan, mengenali layout, dan pastinya liat dimana piring bersih berada. Untuk ukuran restoran all you can eat, tempat ini tergolong agak sempit dengan layout yang agak nggak proportional, ada di suatu sudut dimana dibentuk kaya gang (disinilah sop buntut dan bubur ayam ditawarkan). Emang sengaja kali ya, biar berasa beneran di Jakarta, sempit, macet, bau sop buntut, bau bubur ayam juga. Komplit suriplit judulnya.

Makanannya seperti hotel2 lain, cukup beragam, meskipun untuk harga yang sama, Satoo menawarkan sushi bar dan indian food corner yang comprehensive. Disini nggak ada. Sushi yang dipajang keliatan udah layu, mungkin udah kelamaan disitu. Varian dimsum cuman ada siomay aja, diletakkan di deket meja resepsionis, dan emang cuman ada siomay, without the gank seperti layaknya dimsum di tempat lain. Western food dimulai dengan Salmon en croquette, nggak mengecewakan, tapi salmonnya agak fishy alias amis meskipun pastry nya enak banget. Lalu ada beef eye rib, yang masih pinky alias raw, saya skip yang ini karena saya suka yang well done. Fish fillet dengan crab mayo was not bad, tapi yang jadi pemenang malem itu adalah Black Pepper Beef untuk kategori ini.

Indonesian food jadi juaranya disini, mulai dari Nasi Bali (menurut saya porsinya bisa dibuat lebih kecil dan nggak sebanyak itu), mie goreng, nasi goreng, sambel goreng tempe, dan embel-embelnya semua patut dicoba, menjanjikan rasa yang Indonesia banget. Peking Duck bisa dibilang nggak niat buatnya, kulit pembungkusnya agak keras diujung2nya, bebeknya nggak terlalu berasa pula, bukan highlight disini rupanya. Di sudut lain ada gourmet cheese platter, tapi adanya goat cheese, matured cheddar dan satu lagi, tapi kok nggak ada camembert. Another skip. Hidangan antipasti seperti roasted vegetables dan olives pun did not do the trick. Skip skip dan skip. Kalau anda penasaran, coba pastanya deh, ini lumayan oke, tapi jangan pesen full portion, jadi bisa coba yang lainnya.

Dessert bar keliatan sangat menarik, tapi surprisingly (lagi-lagi) Satoo menawarkan segala macem cakes dan jajanan pasar ala Indonesia, di Signature ini nggak begitu adanya. Jenis cake yang dipajang nggak lebih dari 12 macem, itu pun nggak semuanya enak (dan nggak ada kue-kue khas jajan pasar). Yang coklat terlalu coklat. Yang enak cuman Lemon cake sama Pistachio apa gitu. Mas-mas nya pun terlihat sibuk sekali, ada yang buat ice-cream, ada yang sibuk menggoreng pisang. Tetep juga, si pisang goreng ini yang jadi juaranya. Belom mateng aja udah pada di-tag orang. Ice-cream? Nggak pas sama lidah saya apalagi yang vanilla. Antrian di dessert bar pun jadi agak panjang, karena cakes itu nggak ada namanya, jadi orang2 akan sibuk tanya apa ini apa itu, sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan dan si mas pun keliatan capek mengulangi jawaban yang sama, menjelaskan lagi nama2 si cake itu. Akhirnya juga balik lagi ke pisang goreng, yang udah jelas pisang, ambil sendiri, nggak usah tanya si mas ini apa itu apa, cuman kudu sabar ya karena digoreng on the spot.

All in all, not bad untuk dicoba, untuk balik lagi saya kasih tanda tanya. Untuk menikmati segala macemnya itu anda harus menginvestasikan Rp 276 ribu per orang (minus jamu, minus chocolate fountain, minus Indian corner, minus kue-kue jajan pasar meskipun dengan service yang oke banget).

Read Full Post »

Read Full Post »

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Little Penang namanya, didominasi interior berwarna putih dan merah, plus beberapa foto yang diperbesar, menyajikan menu yang mencampurkan rasa Melayu, Chinese dan Indonesia sekaligus. Yang saya notice, ada foto twin tower yang dipajang di salah satu sudut, padahal bangunan itu kan di KL, bukan di Penang, nama restoran nya pun Little Penang bukan Little Key-El. Membuka buku menu segede album foto akan membuat anda bingung menentukan pilihan. Ada berbagai appetizer, main course, dessert and drinks, tapi ada juga individual set, seperti nasi lemak set yang termasuk nasi lemak dan condiments nya plus one side dish.

Anyway, cincau barley saya hadir dengan rasa yang aduhai, kayanya ditambah brown sugar jadi lebih legit, cincaunya sebanyak barleynya, gelasnya pun besar jadi puas minumnya dan pastinya nggak salah pilih meskipun ada beberapa varian dari minuman ini, barley doang, cincau doang, barley pake lemon, barley pake ini dan itu.

Roti Canai beef curry menjadi pilihan buat appetizer, meskipun rotinya nggak sekenyal Penang Bistro, tapi okelah rasanya, lebih mirip kaya kulit pastel, karena langsung patah pas disobek. Main course yang berupa prawn mayonaisse hadir cantik dengan bunga warna pink gonjreng. Anda jangan membayangkan udang yang utuh, digoreng tepung, lalu dibalur mayonaisse kaya di restoran lainnya. Yang ini udah berupa lempengan gitu, udangnya seperti udah dicincang kasar, tapi soal rasa tetep nikmat. Berikutnya adalah Chinese beef steak, warna-warni meriah pokoknya. Rasanya ok, tapi sayangnya agak terlalu berminyak dan beefnya nggak konsisten (ada yang empuk, ada yang alot), mungkin next time harus coba black pepper beef instead.

Dessert? Harus saya skip kali ini, karena nggak ada yang menarik sepertinya. Foto pancake durian/pineapple nggak menggoda saya sama sekali. Sisanya? Standard deh, es teler, es kacang merah, dan es es lainnya. Ada es cendol durian, tapi duriannya sold out.

Overall it was a good dining experience, bersahabat di kantong, menu yang lumayan bisa dipilih buat semua orang. Jadi kalau anda masih bingung nanti siang makan dimana, coba deh ke Little Penang di Mal Puri Indah. Saya nggak tau ya apa ini cabangnya yang di Taman Anggrek itu, tapi soal rasa saya bilang yang ini lebih enak. Selamat mencoba!!

Read Full Post »

 

 

 

 

 

 

 

Kalau di luar negeri sih nama bekennya “Pineapple tart”, terus kenapa ya pas sampe di Indonesia namanya jadi “Nastar”, ataukah karena berasal dari nanas? terus berupa tart? jadi ‘nastart’ terus disempurnakan sesuai lidah pelafalan jadi nastar? Penting nggak penting ya.

Maafkan kalau entry blog saya belakangan ini semua adalah makanan. Harus diakui sejujur-jujurnya we love eating! Pertanyaan pertama kali kalau lagi berkunjung pasti ‘Udah makan belum?’. Anyway, setelah mencoba nastar kanan kiri dari yang terkenal sampai yang homemade, yang ini saya dikasih tadi pagi abis ngajar. Pantesan yang buat adem ayem beberapa hari di BBM, ternyata lagi sibuk buat isi dan mbulet-mbuletin si nastar, terus ditaro di tempatnya satu-satu sebelum akhirnya ditoplesin.

Saya tebak sih isinya ada campuran kejunya di kulitnya, terus dalemnya nanas asli, tapi kurang asem, kalau tekstur kayanya udah pas ya. Mungkin isinya bisa lebih gedean lagi, jadi nendang sesuai sama tebel kulitnya. Hayooo kalau si tante pembuat nastar ini lagi membaca blog saya sekarang, jangan marah ya tante, ntar saya gak dibuatin lagi!!

Read Full Post »

 

 

 

 

 

Saya lupa kapan tepatnya saya mulai jatuh hati pada si sandwich ini. Dari sejak dulu di London sandwich menjadi pilihan utama saya buat urusan perut, gampang didapat, ada dimana-mana, dari yang guilty pleasure version sampe yang low calories version juga ada, mau isi apapun juga ada, dari berbagai jenis roti apapun juga ada.

Saking ngilernya (atau desperatenya) cari sandwich bar model Subway di Jakarta dimana kita bebas memilih (Admit it, we love to choose!!) mulai dari roti, isi, dressing, sayur dan sebagainya, akhirnya pas ketemu si herb foccacia ini di Kemchicks, saya langsung membelinya, karena di rumah ada ham and cheese yang soon or later bakal dimakan juga. Maka jadilah sandwich super gampang dan super gak ribet ini. Voilaaa.. begini deh hasilnya.

Read Full Post »

:: Spiku ::

 

 

 

 

 

 

Yang bener tuh spiku apa lapis surabaya ya? Kayanya tiap orang punya sebutan sendiri2 buat kue lapis kaya gambar di atas. Anyway, berawal dari sebuah acara di TV yang ujung-ujungnya wisata kuliner di kota Semarang, iseng-iseng lah saya contact salah seorang temen saya yang emang orang Semarang.

Reviewnya singkat pas saya tanya apa bener tuh enak, dia bilang enakan Orion di Solo, yang ini oke aja sih, tapi ya not bad buat dicoba. Saya udah sering makan kalau yang versi Orion, tapi versi si Brilliant baru pertama kali. Setelah menanti-nanti sehari semalem, sampailah itu kue di rumah.

Aslinya ada coklat, coklat keju, kismis sama 1 lagi saya lupa. Diputuskan saya order coklat keju dan coklat aja. Mungkin dari bentuknya sama aja kaya spiku biasa, tapi yang ini (katanya) dibuat dari telur ayam kampung asli (berarti saya nggak boleh makan banyak-banyak), dan (katanya) bisa tahan sampai 53 hari, tanpa pengawet. Yang coklat keju, lapisan antara bolunya coklat beneran, atasnya ada keju kering gitu. Nggak terlalu manis dan gurih. Yang coklat doang, coklatnya ada 2 lapis, semuanya coklat beneran. Kalau anda bingung kaya apa rasanya, coba aja dibayangkan makan bolu pake silverqueen atau toblerone jadi lapisannya, kaya gitu deh kira-kiranya. Satu lagi yang bikin saya suka, spiku yang ini nggak nyeretin dan ukurannya mini, jadi langsung abis sekali makan. Yummmm…

Read Full Post »

 

 

 

 

 

 

 

Jangan bingung dulu kalau anda nggak pernah denger cafe yang satu ini. Memang bukan di Jakarta kok tempatnya. Setelah membaca beberapa review terpercaya, maka saya sempatkan berkunjung ke cafe ini ketika saya di Bangkok beberapa waktu lalu. Nggak terlalu overrated kalau dibilang tempat ini sangat populer dengan orang localnya juga. Terletak di Siam Paragon, persis di atas main entrance, cafe yang ini menjanjikan pengalaman kuliner fusion, Thai dan Western, dicampur jadi satu. Kaya gimana ya jadinya?

Teman-teman saya bilang saya beruntung sekali, pertama kali kesini tapi langsung dapet tempat duduk, dan kejadian ini cukup langka di hari Sabtu malam, dimana semua orang tumplek blek di salah satu mall terbesar di Asia itu. Tempatnya cozy, didominasi warna hitam dan perabotan silverish itu.

Begitu saya diberikan buku menu langsung saya foto2in, sampai nggak lama terdengar “Eksyu-mi-Sir-you-cannot-take-photo”. Saya pun langsung menyimpan kembali camera digital saya. Bingung dan kaget. Nggak boleh foto menu nya (takut saya buat KW-nya di Jakarta) atau nggak boleh foto semuanya di cafe itu. Teman-teman saya pun senyum2 aja.

Ternyata ada special menu exclusively created by the Celebrity Chef, ahhh saya nggak inget siapa aja celebrity chefs disana, tapi untungnya signature dish mereka ada fotonya, jadi lebih gampang kan untuk memilih kalau ada gambarnya. Saya langsung menjatuhkan pilihan ke Greyhound traditional turkey, created by inhouse chef, served with stuffing, mashed potato and one and only cranberry sauce!! Salah seorang teman saya bilang, mending pesen beberapa lalu kita share, saya pun langsung mengiyakan, karena semuanya memang menggiurkan.

Baby spinach salad sebagai pembuka cukup mengecewakan, padahal ditulis ‘imported’, ternyata rasanya biasa aja. Saya lebih suka fried wonton yang lebih decent, bersahaja, garing dan penuh isinya. Let’s do the main course then. Turkey saya jadi juara deh malem itu, irisan dagingnya empuk dan banyak, stuffingnya pun rasanya pas. Cranberry sauce nya juga beneran dari cranberry bukan dari selai botolan. Pas pas pas rasanya, nggak heran pake embel-embel ‘specially created by celebrity chef’. Chefnya celebrity apa bukan saya udah nggak peduli, yang penting turkey nya enak. Teman saya memilih untuk makan nasi dan potongan beef, tapi kayanya enak banget, karena belom sempet diicipin tau2 udah abis aja.  So no review on that.

Porsinya lumayan besar untuk di share, itu pun bikin kami kenyang, jadi bener2 skip dessert this round. Tapi will definitely come back for more kalau suatu hari saya berkesempatan ke Bangkok lagi. Service nya no-fuss, hassles-free, Thai hospitality pokoknya. Nggak usah kuatir kalau harganya mahal, karena semuanya cukup dibayar sekitar 300 ribu rupiah saja. Lebih mahal di Jakarta deh kayanya.

Read Full Post »

Older Posts »