Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2011

SUN MOULIN BOULANGERIE – bakery yang ini lumayan terkenal di KL sejak jaman saya kuliah disana. Anda nggak perlu repot mencarinya karena di setiap ISETAN supermarket dipastikan ada bakery yang ini. Menyajikan berbagai macam roti dan danish dan pastries, termasuk belgian waffle dan cakes, serta beraneka kue mini, Sun Moulin selalu menjaga konsistensi rasanya. Harumnya roti udah semerbak ketika anda memasuki ISETAN KLCC lantai 4 dan pastinya gara-gara si Sun Moulin ini. My pick adalah berbagai macam sandwich yang dipajang di display tapi kebanyakan dilabel ‘consume today’ jadi memang harus abis di hari ketika anda beli, kalau anda masih lapar, coba deh belgian wafflenya.

DOME CAFE – ini juga ada di Jakarta, tapi somehow KL dan Jakarta memang beda, baik dari segi pilihan menu maupun porsinya. Dome Cafe di KL banyak dijumpai di shopping malls terkenal, sebut saja Lot10 (tapi udah pindah entah kemana), KLCC dan The Pavilion. Berbagai pilihan termasuk pasta, sandwich, burger, all day breakfast atau local food such as Nasi Lemak, Ikan Assam bisa menjadi pilihan anda. My pick will be the wild mushroom soup. Dari dulu saya nggak pernah bosen order yang satu ini, mushroomsnya sangat generous, nggak terlalu creamy and just slurpy.

THE LOAF – bakery yang ini adalah temuan saya nggak lama setelah The Pavilion buka. Saya nggak tau mereka ada cabang atau engga, yang pasti toko roti ini nggak pernah sepi dari pengunjung. My pick adalah assorted cheesecake yang disajikan seukuran mini cupcakes jadi anda bisa share lebih dari satu rasa, mulai dari strawberry, blueberry, oatmeal, original, sampai oreo dan lain sebagainya. Another pick adalah caramel puff dan custard puff. Ini wajib dicoba. Saya lebih suka yang caramel. Nggak susah kok mencarinya, keliatan dari jalan Bukit Bintang.

JUST HEAVENLY – beberapa tahun yang lalu mereka menawarkan kue-kuenya secara online dan hanya lewat website. Kalau anda order, anda harus bersedia mengambilnya di workshopnya somewhere in Bangsar. Beruntung akhirnya mereka buka juga outlet di The Pavilion, tepatnya di lantai bawah dekat foodcourt. Menawarkan berbagai macam cake, termasuk lemon pound cake, double chocolate cake, banana chocolate cake and the gank, Just Heavenly memang beneran a slice of heaven! My pick is either banana chocolate cake atau blueberry cheesecake. Saran saya jangan berdiri terlalu lama di depan display nya karena for sure anda akan kalap dan beli semuanya. Forget your diet regime, right here, right now!

Advertisements

Read Full Post »

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Read Full Post »

Sepertinya hanya segelintir orang-orang terdekat saya yang tau kalau dulu berat saya pernah mencapai 96kg. Gendut banget kaya balon mau meletus, kira-kira begitu lah yang biasanya dilontarkan teman-teman saya.

Sejak duduk di bangku SMP saya mulai merasa ada yang nggak bener di tubuh saya. Pasalnya hampir tiap kali saya mengikuti pelajaran olahraga keesokan harinya saya dipastikan sakit. Kalau teman-teman saya justru merasa segar setelah lari keliling lapangan, saya merasa kebalikannya. Breathless seperti mau pingsan, lemas dan nggak bisa nafas teratur. Ketika itu berat saya masih mencapai angka 70an. Masih teringat ketika itu disuruh lari keliling sekolahan (bukan lapangan) menjadi sebuah nightmare sendiri untuk saya. Bagaimana engga, kalau lewat dari 5 menit maka dapet bonus squat jump dihitung dari berapa menit telatnya. Bisa dipastikan saya orang terakhir yang mencapai garis akhir, dimana teman-teman saya sudah berkumpul dan udah ngobrol. Saya masih harus menyelesaikan acara lari-larian itu dan bonusnya juga. Dipastikan keesokan harinya saya jatuh sakit, badan saya panas dingin. Sejak itu acara olahraga menjadi sebuah mimpi buruk yang berkepanjangan, setidaknya seminggu sekali. Puncaknya saat orang tua saya mendatangi pihak sekolah dan meminta kebijakan supaya saya dibolehkan untuk nggak ikut olah-raga selama sebulan. Panas dingin yang pertamanya biasa aja ternyata menjadi gejala typhus yang lama.

Hampir tiap hari saya berdiri di depan kaca dan rasanya susah untuk menerima diri sendiri. Gendut, jelek, nggak keren seperti teman-teman saya lainnya. Lalu sampai kapan mau begini terus? Makan udah dijaga, olahraga menjadi suatu hal yang sama sekali nggak mungkin. Untungnya saya masih termasuk tinggi jadi julukan pendek dan gendut nggak pernah melekat di saya (setidaknya nggak pernah dipanggil doraemon atau sejenisnya). Kalau pas jam pelajaran kosong dimana teman2 saya memilih untuk bermain sepak bola atau basket, saya lebih memilih duduk di kelas dan menyelesaikan tugas untuk keesokan harinya atau sekedar ngobrol dengan teman yang lain.

Singkat cerita, melanjutkan highschool ke negeri kangguru menjadi pilihan saya saat itu. Jadilah saya hidup nge-kost bersama hostfamily saya yang berasal dari Italy. Yep, Italy, yang terkenal dengan orangnya yang ramah, dan sangat ramah ketika menghidangkan makanan. Pasta, pizza, dessert, ini dan itu jadi makanan saya sehari-hari. Makanan yang selalu tumpah ruah setiap harinya. Untungnya saya mulai terbiasa dengan gerakan jalan kaki kemana-mana. Mau ke city harus jalan kaki ke bus stop dulu atau ke train station. Meskipun jaraknya nggak seberapa jauh, tapi awalnya cukup membuat saya ngos-ngosan.

Saya seperti dibangunkan dari mimpi sepulangnya dari sana. Berat saya mencapai 96kilogram saat itu dan saya harus memakai celana berukuran 38. Rasanya malu pada diri sendiri kalau tiap kali mau beli baju selalu cari yang paling besar. Mau beli celana harus cari yang ukurannya 38. Di negeri kangguru itu masih banyak yang jauh lebih tinggi (dan lebih berat) dari saya, tapi untuk ukuran orang Indo saya termasuk buntek, mau meletus. I have to do something about this. Mau sampai kapan seperti ini.

Beruntung my Mom adalah orang yang sangat supportif. Beliau memang penggemar olahraga bahkan sejak sebelum menikah dia udah aktif di sanggar senam, sampai ketika melahirkan saya dan sampai sekarang, sampai saya menulis blog ini. Agak addicted but in a good way. Mulailah dia menyemangati saya untuk berlatih dengan seorang trainer dan merapikan kembali pola makan yang sangat italiano itu. Olahraga teratur dan bervariasi serta diet ketat saya lakukan. Saya tetap berada di meja makan ketika jam makan tiba, tapi saya makan buah dan sayur aja. Itu pun sayur rebus biasa tanpa garam. Sulit pada awalnya, namun menjadi semangat ketika jarum kiloan mulai bergeser ke angka yang lebih layak. Dalam waktu 2 bulan saya sudah menghilangkan 5 kilo dan begitu seterusnya. Saya pun mulai lebih percaya bahwa kalau memang niat ya pasti ada jalan. Tiap orang bilang kurusan saya jadi lebih terpacu untuk kembali ke gaya hidup yang lebih sehat.

Sampailah saya di suatu fase dimana saya harus melanjutkan study ke Malaysia. Beruntung kalau ternyata ada FitnessFirst di dekat kampus dan tempat kost. Berkat dorongan dari seorang teman (yang berukuran extra juga, demi keamanan bersama namanya nggak saya sebut disini) jadilah saya member disana. Hari-hari saya habiskan di gym sepulang kuliah. Tugas-tugas saya selesaikan jauh lebih awal dari dateline nya, semata-mata supaya bisa ke gym! Bahkan ketika final exam tiba, sehari sebelumnya saya masih bisa ke gym. Saya pun menjadi lebih rajin mencari artikel tentang pola makan yang lebih sehat, what’s good what’s not. Setiap kali saya nimbang dan turun, rasanya seperti dianugerahi Piala Oscar, dan itu memicu saya untuk beneran kembali ke pola hidup sehat. Diet ya tetep diet, tapi bukan berarti nggak makan kan. It’s all about what you eat. Kalau olahraga gila-gilaan tapi makan lebih gila lagi ya sama aja bukan. Mulailah saya pelan-pelan untuk me-makeover diri sendiri, menemukan gaya yang dulu sama sekali nggak mungkin.

Sekembalinya dari negeri jiran itu berat saya sukses berada di 75kg. Ukuran celana nggak lagi tuh 38, dengan bangga saya cerita ke mama dan keluarga kalau sekarang celana saya 34 bahkan 32 pun muat. Senangnya. Farewell to 21kg. Kalau anda mau tau seberapa berat itu 21 kg, coba aja angkat barbel 21kg, nah itu deh total lemak dan segala macem yang sudah terbuang. Yang ada badan saya bereaksi keras kalau 2 hari nggak olahraga. Nagih banget.

Ketika melanjutkan S2 ke London – UK, saya pun tetap melakukan gym routine saya. Yang membuat saya lebih senang disana, makanan-makanan yang dijual di supermarket atau dimanapun juga jelas sekali labelnya. Mulai dari yang Fat-free, low GI, gluten free, reduced sugar, sampai asupan calories dan fat nya pun dibuat visible. Jadi bebas menentukan mau makan yang versi full temptations atau mau yang healthier options, semuanya ada. Tanpa sadar gaya hidup begini sukses membawa saya ke angka 70an dan memaintain ini sampai sekarang.

Sepulangnya dari London, saya pun menjadi terbiasa dengan pola hidup disana. Menjadi lebih kritis soal berat badan. Dulu yang saya pikirkan hanya angka terakhirnya yang nongol di timbangan. Sekarang saya baru tau kalau ternyata ada  yang namanya kandungan air, muscle percentage, fat percentage dan lain sebagainya. Saya pun menjadi lebih aware kalau ternyata makan yang terlalu asin atau manis itu nggak bagus buat badan. Saya juga jadi lebih mengerti kenapa orang yang tiap hari ke gym bukan makin sehat tapi makin gendut. Gimana cara diet yang sehat tanpa menyiksa diri, gimana memilih convenient food yang bukan junk food dan lain sebagainya.

So all in all, it is not about predicting your future, but it is all about creating yours. Right here right now.

Read Full Post »

Looking back the line, I have found one of many photo-shoots that we have done in the past. Featuring the first mini collection for Lina&Lim.H, supported by local photographer, make up artist and models too. Here we go!! Another work in 2008.

Photographer: PHOTOBYSONDHIAR t: @photobysondhiar

Make up Artist: YARRY

Wardrobe and styling: LINA&LIM.H http://linaandlim.weebly.com

Model: IKA

Read Full Post »

Aura restoran yang satu ini memang beda dibanding outlet lainnya di Hotel Mulia. Sejak di-facelift menjadi Orient8, jadi semakin eksis di dunia makan-memakan di Jakarta, bahkan jadi talk-of-the-town beberapa waktu lalu nggak lama setelah diresmikan. Menyajikan hidangan Pan-Asian yang menurut saya bisa ditranslate menjadi Asian food yang dicampur a bit of French flair here and there.

Untuk service nggak perlu ditanyakan ya, top-notch pokoknya. Pernah suatu ketika saya datang duluan menunggu beberapa orang teman yang masih memakai jam waktu Jakarta, si salah satu pelayan itu nggak segan-segan menawarkan appetizer untuk saya dan dia sendiri yang mengambilkan beberapa item. Dimana lagi bisa dapet service seperti ini. Ketika persaingan semakin memanas, ya balik lagi ke service yang bisa bikin beda, bikin kangen untuk makan disini lagi, bikin rela mengeluarkan sekian ratus ribu untuk berlama-lama disini. Suasananya bikin anda berada di rumah duta besar mana gitu untuk Indonesia. Let’s do the food then.

SOMETHING TO START WITH – Pilihan appetizer untuk buffet lunch lumayan beraneka ragam. Anda bisa jumpai spring rolls, beef diapain gitu bentuknya mirip corned, lalu ada pasta salad, dan berbagai macam salad yang bisa anda racik sendiri sesuai keinginan. Yang juara adalah shrimp balls, digoreng, tapi dalemnya ada isi semacem ragout disajikan dengan sauce tar-tar. Enak nih yang ini. Lalu ada stuffed tofu, tahu goreng yang diisi daging cincang atasnya, jangan lupa ambil thai chili sauce buat temennya.

PHO – Ini adalah a-must-eat-item disini. Cara mainnya gampang, anda pilih mau isinya apa mulai dari bakso sapi, bakso ikan, irisan daging sapi, dan lainnya, terus kasih ke chefnya, bilang mau pho (baca: fe) atau mie atau apalah disitu, sayurnya mau komplit apa engga, terus kuahnya mau beef stock atau tomyum, tinggal dikasih corriander, bawang putih, shallots, lemon, irisan cabe rawit, semua sesuai selera anda. Voila nggak usah jauh-jauh ke Vietnam buat makan pho, yang ini enak banget. Beberapa teman saya sampai nambah beberapa kali, beef stock, tomyum, beef stock, tomyum. Beef stocknya gurih dan nggak terlalu beefy, sementara tomyumnya (katanya) pedes dan asem, ini saya nggak berani coba.

MAIN AFFAIR – Siang itu ada udang dimasak pedas ala Thai, lalu ada beef dengan herbs dan lemon, ada duck yang disajikan beserta orange sauce, plus ayam sama satu lagi saya nggak inget. Total ada 5 main dishes yang bisa anda coba. Beef nya lumayan pedas buat saya, herbsnya terasa sekali tapi sangat tender dan meresap bumbunya. Duck dengan orange sauce juga surprisingly refreshing. Jadi nggak peking duck terus, yang ini lain daripada yang lain. Prawnsnya menurut saya biasa aja, mirip bumbu balado. Ayamnya diskip aja buat dessert.

THE SWEET ENDING – Kalau kesini harus dicoba coconut jelly, tapi sayang saya kurang beruntung, si mas bilang kelapanya yang import dari Thai itu belom mendarat jadi nggak ada deh itu coconut jelly kesayangan. Better luck next time. Dessert lainnya disajikan di meja kecil, saya coba singkong ala Thai, not bad tapi santennya terlalu gurih mirip kaya yang di The Cafe. Lalu ada blueberry sponge cake yang disajikan dengan irisan strawberry, yang ini enak. Ada fruit tartlet yang paling saya suka. Kemudian ada beberapa lagi yang saya udah nggak sanggup cobain, beneran kenyang.

Dengan pilihan makanan yang nggak sebanyak The Cafe kayanya tempat ini lebih cocok untuk anda yang seperti saya. Maksudnya nggak bisa makan terlalu banyak. Kalau bisa sih semua dessert dicobain ya tapi apa daya perut udah kaya mau meletus. Untuk minuman, saya rekomendasikan Ginger and Lychee, rasanya fusion tapi enak. Seinget saya mereka juga menyajikan set-menu untuk dinner, jadi anda bisa pilih sesuai kapasitas perut (dan kapasitas kantong tentunya) mulai dari 7-course dinner, 12-course dan 16-course – ini juga udah termasuk semuanya yang disajikan di buffet station. Untuk sekian ratus ribu tempat ini oke banget untuk lunch atapun dinner. O iya, jangan sampai salah kostum ya karena nggak tau kenapa AC di resto ini jauh lebih dingin daripada bagian hotel Mulia manapun juga.

Read Full Post »

Read Full Post »

Untuk review kali ini saya harus membuka-buka lagi foto2 nya di postingan sebelumnya supaya yahhh kebayang lagi rasanya dari sekian banyak yang bisa diicipi disini. Tahun lalu saya merayakan ulang tahun saya disini bersama teman-teman dan sebuah kebetulan kalau tahun ini saya juga dapet meja yang sama. Interiornya nggak ada yang berubah, kalaupun ada mungkin di crystal yang menjuntai2 itu dan ruangan di ujung yang somehow terkesan terpisah karena bernuansa merah sendiri. Servicenya outstanding, lebih casual namun tetap formal, attentive tapi tetap discreet, just how I like it to be.

Appetizer – Karena saya udah kelaparan akut menunggu para tamu yang agak molor jamnya (padahal udah ditulis “We are going to start eating by 6.30pm”) akhirnya saya putuskan untuk mencoba dimsum. Banyak pilihannya mulai dari siomay, hakau, kaya pau (must-try), cha siew pau dan sebagainya. Yang saya cari sebenernya dinner roll, tapi nggak keliatan. Belakangan baru tau ada di sebelah Indian corner.

Sushi corner – Sushinya lumayan bervariasi but a-NO for me, somehow saya lagi nggak kepengen sashimi dan sejenisnya kemarin malem. Diputuskan mengambil appetizernya berupa breaded fish dan cold tofu. Breaded fishnya biasa aja, disajikan dengan sedikit BBQ sauce, tapi cold tofunya boleh dicoba. Yang lain ada kimchi bowl (Skip), lalu ada cold soup warna-warni yang disajikan dalam tube (skip juga) dan ada miso soup juga (terpaksa skip juga). Mungkin anda berminat mencobanya next time?

Main Affair – Bebek panggang menjadi pilihan utama saya, Mulia memang paling juara soal bebek, dari hotel manapun di Jakarta. Saya kira bakal dibungkus kaya di Table8, ternyata engga, jadilah potongan bebek yang lumayan gigantic itu menjadi menu sharing (sharing the guilts and the calories). As expected, bebeknya empuk, gurih, nggak terlalu berminyak dan sangat enak, even dimakan gitu aja. Ada Noodle station juga (Skip lagi), tapi beberapa teman saya merem melek dibuatnya, enak banget katanya. Mereka juga ada pilihan non-halal.

Italian Corner – Fussili pasta dengan pesto sauce yang dipesan teman saya agaknya kurang nendang, yang berikutnya saya nggak cobain. Tapi menurut saya pastanya biasa aja. Yang enak justru yang udah dimasak, beef medallion with mushroom sauce, very tender, a must-try item disini. Potongannya keliatan kecil tapi lumayan mengenyangkan. Stuffed baked pasta juaranya malam itu. Teman saya sampai bolak-balik 3 kali buat mencicipinya. Ini bukan baked pasta biasa, dibawahnya dilapisi sejenis pastry, crunchy dan garing, keju sebagai toppingnya pun nggak berlebihan. Nice nice nice. Masih ada Seafood Paella dan sauted vegetables dan roasted chicken dan saya skip semuanya.

Thai Job – Di ujung dekat entrance to the left, ada small Thai corner yang menyajikan beraneka racikan salad sesuai selera anda. Yang saya coba Thai beef curry, steamed dory infused with lemon sauce dan perkedel jagung. Beef currynya enak, sangat authentic, nggak terlalu pedes with a generous serving of beef cubes. Dory nya juga enak, ada aroma lemon dan herbsnya sangat mendominasi, jadi wangi dan empuk. Perkedel jagung nya kelewat garing, mungkin si mbak di rumah lebih enak bikinnya.

Mediterranean Piece – Ada sebuah baskom terbuat dari ice yang berisi mussels, oysters, prawns and the gank. Saya nggak terlalu fancy dengan dua items terakhir, jadi saya cuman ambil musselsnya. Condiments berbagai sauce dan tentunya seiris lemon. Voila, enak banget, musselsnya gendut, salsa saucenya nendang, komplit pokoknya. Saya cuman ambil 3 lohhh. Suer. Ah iya, ada vegetable pizza juga kalau anda nggak tahan untuk nggak nyomot seiris aja.

Indonesian Kitchen – Masakan Indonesia nya nggak kalah dengan menu lainnya. Empal suirnya juara sekali. Runner upnya si sambel goreng kentang sama tempe. Sebenernya ini adalah accessories nasi bogana hijau, tapi karena saya nggak makan nasi, jadilah saya ambil aja lauknya. Enak, patut dicoba, rasanya very Indonesia. Begitu juga dengan Soto Betawinya, bumbunya sangat terasa dan dagingnya juga empuk. Saya skip emping, rempeyek dan kerupuknya.

Cheese Platter – Assorted keju kalau anda suka ada disini. Tapi entah kenapa camembert yang udah saya lirik dari awal tiba2 hilang gitu aja. Lumayan macem-macem kejunya ada biscuitsnya juga plus anggur buat temennya.

The Sweet Ending – Serabi Pak Ramli jadi juaranya. Saya bingung juga kenapa dinamain serabi Pak Ramli ya? Apa karena si masnya itu namanya Ramli? Anyway, request buat yang coklat doang, karena beneran enak yang isinya coklat aja buat saya. Yummy to the max. Kue Putu, assorted Thai desserts termasuk singkong disantenin itu kayanya di skip aja deh karena menurut saya rasanya biasa aja. Santan buat si singkong itu terlewat gurih jadi rasanya asin. O iya tapi kalau anda penggemar mochi, coba ambil mochinya hitam dan putih, dua-duanya enak.

Di antara dua pilihan es podeng atau es doger, saya pilih es podeng, rasanya juga traditional banget, servingnya pun generous sekali, dengan topping beraneka ragam, suka-suka ambilnya. Sebenernya masih ada frozen yoghurt, ice cream, assorted cakes this and that, but I was wayyy to full. Nggak sanggup lagi deh rasanya meskipun semuanya terlihat menarik.

Masih ada Indian corner yang menyajikan salmon tikka, chicken tikka, naan bread dan sebagainya dan sebagainya yang harus saya skip. Masih ada grilled station yang menyajikan sosis, ikan, daging, ayam, udang dan sebagainya dan sebagainya yang saya skip juga; sederetan kue kue yang dadah-dadah di balik etalase. Ahhh untung saya masih bisa menenangkan diri dan meyakinkan bahwa there is still tomorrow, jadi eat like there IS NO tomorrow. Dengan harga Rp2xxribu rupiah saja, anda bisa menikmati semuanya itu, apalagi kalau anda termasuk yang big eater harus dicoba deh.

Read Full Post »

Older Posts »