Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2010

Ini pengalaman saya beberapa bulanĀ  terakhir ya. Bekerja sebagai designer freelance, plus menjadi ehem.. model juga mengharuskan saya untuk mengikuti arus bawah sadar. Kenapa begitu? Karena kalo udah difoto kebanyakan langsung jadi sadar kamera kan tentunya.

Setiap kali saya bilang bakal ada photoshoot, orang akan langsung berpikir saya yang langsung difoto. Sebenernya nggak begitu juga, kadang kala saya hadir hanya karena baju saya dipinjem untuk pemotretan. Masa yang design baju nggak dateng. Assistant? Belum waktunya, pikir saya masih bisa handle beginian sendiri. Anyway, setiap photoshoot akan menyisakan cerita yang dramatis. Nggak selalu drama sih, tapi at least ada pengalaman tersendiri.

Suatu ketika dimana suatu project kolaborasi dilayangkan dari seorang fotografer, saya diminta untuk meminjamkan baju buat photoshoot itu dan hadirlah saya disitu. Ada 3 model yang lumayanlah jam terbangnya meskipun bukan yang ratusan juta sekali jalan di runway. Yang pertama dingin sekali, bukan karena AC ya, tapi karena orangnya dingin aslinya. Posturnya ok, pas didandanin juga ok, begitu fiting bajunya pun langsung ok (beneran figur model, karena baju itu dibuat tanpa ngukur si model, jadi berdasarkan standard size aja). Tapi kok ya pas diajak ngobrol, kaya gimana gitu. Dia jawab kalo ditanya, tapi selebihnya lebih milih diem. Mungkin lagi laper atau karena pemotretan hari itu dia yang pertama di make up jam 9 pagi. Oh well, tapi dia nggak protes ketika si fotografer menyodorkan nasi padang buat makan siang. Abis pula. Mungkin memang kelaperan.

Model kedua dan ketiga lebih rame, lebih bisa menghidupkan suasana. Tau nggak, kalau saya lagi standby buat photoshoot gitu, sekalinya baju itu udah dipake si model, abis dibenerin peniti kanan kiri, saya kan nganggur duduk diem aja, paling maenan Blackberry atau ya ngobrol2 sama si make up artist atau si tukang foto. Pengalaman itu seharian dan liatin baju doang. Kebayang kan kalo model itu diemmm aja. Ok, pas make up emang kudu diem, tapi pas foto bisa lebih berekspresi kan. Lebih bisa berinteraksi dengan sekitarnya.

Lalu di kesempatan lain, saya memang sengaja untuk mencari new talent di tiap photoshoot untuk design saya sendiri. Kali ini saya yang initiate. Karena jadwal si fotografer teman saya yang maha kondang itu sangatlah padat kaya traffic di hari Jumat, maka kita setuju untuk melakukan sesi foto-fotoan itu dalam hitungan hari. Oh my!!! Kelabakanlah saya mencari2 si model, si fotografer pun juga sama. Beberapa muka kita casting diem2 karena cuman liat di facebook aja. Yang kondang pasti mahal, yang baru belom tentu bagus kalo difoto. Muka harus fotogenic bukan gelapgenic. Akhirnya diputuskan dengan standard yang ada untuk minta tolong seorang teman saya. Dia bilang dia suka difoto, mukanya pun ok aja di camera, tapi tetep aja grogi pas udah mulai snap snap. Untungnya si make up artist, si assistant fotografer dan saya sendiri berhasil melumerkan keadaan, jadi si model bisa santai, bisa dibawa fun, dan keliatan bagus tentunya.

Pernah juga suatu saat saya bekerja sama dengan seorang fotografer baru yang agak nggak ter-organise. Baru kali itu sebagai seorang designer, saya merangkap macem2, termasuk casting buat model, terus menentukan property buat foto, sampe harus kasih tau alamat studio fotonya. Sebuah pengalaman yang nggak terlupakan. Beberapa kali saya sampe harus melayangkan ancaman ke temen saya itu, awas lo ya kalo hasil fotonya jelek.

Berangkat dari pengalaman-pengalaman tersebut, sama sekali nggak membuat saya kapok, karena mereka sebenernya frontliners di industri yang baru mulai saya rajin geluti belakangan ini. Ada model kondang yang ramahnya minta ampun kaya udah kenal lama, ada juga model baru yang nggak cakep-cakep amat tapi songongnya minta ampun. Ada fotografer yang emang udah sangat rapih, sampe tata letak lampu pun udah di layout termasuk background nya, ada yang bener-bener sistem kebut kebutan. Akankah lebih asik kalau semuanya memang udah kenal, memang udah dapet chemistry nya, jadi semuanya fun, dan at the end of the day everybody is happy!! Ahhh kapan ya foto lagi.. udah lama nih nggak foto..

Read Full Post »

Saya nggak akan membahas gimana rumah saya yang sekarang saya tempati, tapi ini adalah posting suatu restoran yang lumayan baru di Jakarta, dan menawarkan sebuah konsep yang lumayan unik. Sebenernya sih nggak terlalu unik menurut saya, karena udah ada sebelumnya ditawarkan restoran lain.

Anyway, dengan outlet pertama di Bandung, si Nanny’s Pavilion ini membuka outlet keduanya di Citiloft, yang kemudian berlanjut ke Pacific Place. Tempatnya homey sama persis kaya yang di Bandung, bedanya kalo di Bandung nggak pake AC, suasana makan di kebun, termasuk nyamuk dan serangga lainnya yang siap menemani anda. Saya belum pernah mencoba yang di Citiloft, tapi yang di Pacific Place lumayanlah. It is not the best, but it is ok. Saya berbicara soal konsistensi pelayanan sih. Kalau makanan ya harusnya sama rasanya maupun servingnya. Pasti udah ada buku panduan yang menjamin cita rasanya. Kunjungan pertama pelayananannya ok banget, meskipun waktu itu semua meja occupied, yang kemaren malem agak beda deh, terkesan lama, dan staffsnya nggak terlalu banyak. A good thing is that semua staffs nya punya product knowledge yang lumayan. Jadi anda bisa tanya-tanya dulu sebelum menjatuhkan pilihan.

Pertama kali makan disini, saya dapet meja yang istilahnya ‘bathroom’ lengkap dengan closetnya, tapi yang ini nggak bisa di flush. Lalu si temen saya ini kapok duduk disitu lagi, bukan karena ngga bisa di flush, tapi terkesan weird gitu, takut ada sambungan langsung dan natural instinct dari alam, if you know what I mean.

Talking about the food, the buttermilk fried mushrooms never failed to impress. Nggak terlalu banyak, tapi cukup buat di share ber 4 (atau ber 1 kalau anda sendirian). Kunjungan pertama saya settled bareng Spaghetti apalah itu, yang not bad, but it could have been better dibanding saingannya restoran sejenis di mal tersebut. Kunjungan berikutnya lumayan bervariasi, tomato soup saya pilih menjadi pembuka. Very creamy, asem dan gurih. Kalau anda nggak suka yang neko-neko, tergolong kaum purist, coba yang ini. Isinya ya sesuai judulnya, tomato doang plus beberapa pieces of crouton. Main course nya tuna mayo sandwich. Saya expect ini sandwich roti tawar segi empat terus dipotong jadi 4 bagian. Ternyata saya salah, ini beneran roti segi empat yang utuh, nggak pake dibelah. Rotinya juga udah enak, isinya yummy, dan dibentuk sedemikian jadi harusnya anda nggak berantakan makannya. Kunjungan berikutnya saya coba steak burger sandwich, yang isinya daging cincang ala burger ditutup cheese dengan roti yang sama. Kayanya yang ini memalingkan dunia saya dari si tuna itu.

Saya nggak kesampaian mencoba dessert, karena lumayan kenyang meskipun keliatannya porsi makanannya si Nanny ini imut-imut. Cuman hasil observasi dari meja-meja sebelah, dessertnya menarik juga. Mungkin lain kali harus settle with desserts aja deh kalo kesini. Kalau next time anda kesini, coba minta duduk di meja yang dibuat dari bathtub, lengkap dengan shower puff, shower cap dan bathrobe buat hiasan di dindingnya. O iya, minumnya pesen Nanny’s special cocktail aja, bisa di share untuk ber 4, blackberry versus mango, tapi tetep aja menurut saya blackberry nya lebih nendang dibanding mango nya. Happy eating!

Satu lagi, saya nggak tau ini perasaan saya aja atau sekedar mindset, porsi di Jakarta lebih banyak dibanding porsi di Bandung? Orang Jakarta makan lebih banyak? atau piringnya lebih kecil sehingga keliatan lebih banyak? Oh well, tetep enak kok.

Read Full Post »

Ini bukan pertama kalinya saya terbang bersama so called budget airline. Beberapa tahun yang lalu udah pernah juga terbang bersama budget and it was a smooth trip, baik ketika berangkat maupun ketika pulangnya. Tapi dengan menjamurnya si ala budget ini, kayanya sekarang saya harus merendahkan sedikit ekspetasi saya ketika terbang bersama mereka untuk yang terakhir kalinya.

Point nya, budget airline ini cuman akan mengantarkan anda dari kota A ke kota B. Mereka nggak pernah janji bakal terbang ontime, mereka nggak pernah janji bahwa service nya bagus banget, mereka nggak pernah janji kalau cabin crew mereka semuanya enak dipandang ala supermodel look yang seragamnya rancangan Pierre Balmain dengan make up merona dan semerbak wanginya, mereka juga nggak pernah janji-janji surga lainnya. Anda bayar ticket yang emang tempat duduk anda. Tempat duduk yang janjinya leathered-seats pun ternyata hanya tempat duduk biasa. Nggak ada bantalnya.

Dengan seiringnya harga yang naik turun tiap hari atau bahkan tiap jam, terus iming-iming kursi gratis – dimana anda hanya perlu bayar tax doang, what else can you expect? Dengan kalkukasi bahwa selisih harga sekitar USD100 atau USD150 untuk perjalanan pulang pergi ke negara tetangga, anda akan pasti merasa murah banget. Lha wong ke Bali aja kadang lebih mahal daripada ke luar negeri kan.

Ternyata selisih harga tersebut adalah harga yang harus anda bayarkan untuk menerima service yang layak, contohnya kalau anda terbang full-service airlines, mereka sanggup membuka lebih dari 2 check-in counters, beberapa jam sebelum keberangkatan, namun dengan adanya embel-embel ‘budget’, counternya pun cuman 2, nggak bisa check in beberapa jam sebelumnya, itu pun dengan si mbak yang mukanya bete banget. Mungkin dari anda juga nggak keberatan kalau di pesawat kedinginan, nggak dapet makan, nggak ada inflight entertainment, jadi anda harus mikir how to entertain yourself di dalam pesawat untuk 1 jam atau 2 jam atau 3 jam. Cabin crew yang biasa aja. Cuman greetings penumpang, ngitung jumlah, terus puff.. ilang deh.. paling nanti mereka berjualan makanan atau minuman, pokoknya anda sampai di tujuan. Kalau ontime ya berarti anda lagi beruntung, kalau ternyata delayed, ya toh mereka nggak pernah suwer untuk mengantarkan anda tepat waktu (tapi saya yakin mood liburan anda pun langsung rusak, apalagi kalau anda udah menyusun rencana untuk hari itu).

Judulnya aja budget, maka terminal tempat mereka mendarat juga termasuk budget terminal, atau bahasa kerennya ‘Low Cost Carrier Terminal’. Terminal yang ini sih nggak beda jauh sama terminal bus, penuh, sesek, sempit, kadang ngantri imigrasi sampe keluar pintu terminal, kayanya sih nggak pake AC, belum lagi kalau anda mendarat bersama sejuta umat lainnya.

Jadi balik lagi, semua pilihan anda, mau full-serviced yang anda akan diperlakukan lebih layak, atau mau budget yang pokoknya sampe ke tujuan. O iya, jangan kaget ya kalau ternyata boarding pass anda itu bukan selembar karton tebal, tapi kaya struk belanja anda di supermarket. Now everyone can fly (cannnn.. of course can, tapi ontime atau engga yaa tergantung lah ya alasan ini dan itu). Selamat terbang!

Read Full Post »