Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2011

Banyak yang nggak tau (atau nggak sadar) kalau saat ini di hotel-hotel kebanyakan menawarkan loyalty scheme atau preferred program yang hampir semuanya bisa anda peroleh for FREE!

Salah satunya adalah HYATT Gold Passport ini. Nggak ada intention untuk join awalnya, tapi saya pikir why not, toh it costs me nothing. Dibanding dengan program lainnya si GP by HYATT ini lebih simple prosedurnya dan lebih  nggak ribet untuk naik kasta ke tier berikutnya. Cara bergabungnya gampang, bisa isi formulir online, lalu sebutkan membership anda ketika membuat reservasi atau booking kamar di semua HYATT dan mulailah menabung points.

Kalau anda beruntung selalu ada penawaran khusus buat GP members, misalnya bonus points, special rates, breakfast offer, confirmed late check-out dan lain sebagainya. Bill yang anda bayarkan setiap stay itu akan diconvert ke points dan points inilah yang memungkinkan anda untuk earn free nights (tanpa blackout date all year round) atau free upgrade ke the next room category.

Dimulai dengan Gold Passport member, setelah 5 stays atau 15 nights in a calendar year maka anda otomatis akan diupgrade ke Platinum member. Benefitsnya 15% extra points, enjoy the best room available within the category booked, confirmed bed type upon check-in, complimentary internet access, dedicated check-in counter, bonus points, welcome amenities, welcome drinks, airline bonus points, free room upgrade, complimentary breakfast sampai Starbucks giftcard.

Program pesaing dari Starwood Preferred Guest (SPG) mengharuskan anda untuk stay 10 kali atau 25 nights untuk qualify as a GOLD Preferred Guest dengan benefits yang kurang lebih sama dengan HYATT Platinum guest. Kalau diliat dari frequency nya jadi anda harus stay 2 kali lebih sering di Starwood properties yang mencakup 9 brands yang berbeda globally.

Jadi mulai sekarang kalau anda berlibur, coba deh investigasi dulu apa hotel yang akan anda jadikan sebagai rumah kedua itu menawarkan loyalty scheme. Lumayan kan kalau ternyata ada, anda bisa register for FREE, liburan anda yang sekarang bisa digunakan untuk liburan anda yang akan datang, FREE nights atau FREE upgrade, in the name of FREE!!

Read Full Post »

Kalau anda liat foto2 di postingan saya sebelumnya ‘New Nest on the block’, yang saya maksud adalah si Hummingbird Eatery ini. Terletak di Jalan Progo Bandung, paling gampang aksesnya dari studio foto Jonas terus cari aja sederetan sama itu. Tempatnya menarik dan sepertinya ini adalah sebuah rumah yang kemudian direnovasi buat jadi restoran.

Kesan pertama: kaya makan di rumah orang, suasana nya, termasuk layout meja makannya. Dua kali saya kesana untuk dinner dan breakfast, makanannya ok, servicenya juga ok. Harga pun sangat bersahabat. Hummingbird ini salah satu resto di Bandung yang buka untuk breakfast. Jadi kalau anda bosen dengan buffet breakfast di hotel anda bolehlah dicoba disini. Buka mulai pukul 7 pagi for the early riser (termasuk saya).

Menu dinner seperti resto kebanyakan, western food with hint of italian fusion karena saya menemukan semacam macaroni panggang tapi di layered seperti lasagna. Recommended buat yang ini. For a healthier option you can try salmon atau snapper with butter lemon sauce. Porsinya bolehlah dimakan berdua jadi bisa icip-icip semuanya. Kalau anda suka soup seperti saya, coba deh pumpkin soup atau mushroom soupnya, keduanya enak buat jadi starter.

Breakfastnya didominasi dengan telur. Hampir semua item ada telurnya dan sayangnya saya alergi telur. Jadi settle with a basket of bread. Roti tawar disini agak berbeda dengan roti lainnya, tebel, mirip kaya brioche. Sekeranjang isi 5, lagi-lagi bisa di share dengan lainnya. Big breakfast komplit bisa menenangkan anda kalau anda lagi laper, ada juga semacem tortilla wrap berisi sosis, kentang dan telur pake saus tomat yang dirajang (ini mengenyangkan untuk ukuran breakfast), unless if you want to eat your breakfast like a king. Juaranya (pake telur) namanya lupa, tapi berupa roti yang atasnya dikasih bacon and sausage plus ham, terus dikasih telur yang hampir utuh diatasnya.

Uniknya lagi Hummingbird ini juga ada guesthouse nya dengan harga yang nggak terlalu mahal dan udah termasuk menu breakfast yang bisa anda pilih. Letaknya di belakang resto and newly opened. Saya nggak sempet observasi kaya gimana kamarnya.

Next time kalau anda ke Bandung bisa dicobain yang ini, tipsnya pesen berlainan jadi bisa share dan icip-icip semuanya. Sayang pas saya dateng for dinner cakenya udah abis, pas breakfast cakenya belum dateng. Kalau anda beruntung kasih tau ya gimana cake nya atau boleh juga sekalian nginep disini.

Read Full Post »

Sepertinya udah lebih dari 1 dekade saya menjadi member setia Krisflyer by Singapore Airlines. Pertimbangan pertama karena dulu pas jaman sekolah di Perth cuman SQ yang menjanjikan connecting flights dengan waktu terbaik dan frequency paling sering (bahkan sampai sekarang) dari Jakarta. Pertimbangan kedua, anggota dari Star Alliance membawa keuntungan sendiri untuk saya ketika terbang dengan anggota lainnya (The largest alliance with 24 members!) yang memungkinkan untuk tetap mengakumulasi mileage nya. Pertimbangan ketiga, dengan segala benefits nya yang termasuk priority waiting list ketika high-season kayanya nggak ada lagi yang harus dipertimbangkan! Best of all, it’s free of charge.

Tepatnya 13 tahun lamanya setia menjadi anggota Krisflyer, mulai dari yang jelata, sampai naik jadi silver lalu upgrade jadi gold, dengan segala fasilitasnya termasuk akses ke Star Gold Lounge (dimana aja), priority boarding ketika di economy, priority luggage tag, priority check-in, priority waiting list, dan segala priority lainnya.

Hasilnya? Lebih dari 10 kali free flights redemption, more than 10 times flights ugprade to Business Class. Everything is for free (kecuali airport tax and fuel surcharge ya).

Pas dulu ke Stockholm dari London sengaja take Scandinavian Airlines, my first time and it was all good!! Masih bisa redeem mileage juga dari LHR to ARN (Arlanda). Pernah juga CGK-BKK-LHR by Thai Airways karena jaman itu TG yang paling murah buat Business Class nya for one year ticket. Miles yang ditabung dari sekian lamanya tinggal diredeem buat kemana aja or free upgrade kemana aja tergantung tabungannya. Lagi-lagi it’s all free. Rajin-rajin terbang, cost nothing for the free flights or even a return upgrade.

So have a look around you as this kind of program would normally cost nothing to enroll and come with heaps of benefits for you to enjoy! From now on you can always travel in style.

Read Full Post »

Read Full Post »

Bermula dari bingungnya mau makan dimana, akhirnya diputuskan lah untuk makan di Pastis yang terletak di Kuningan Suites ini. Saya kebagian tugas untuk membuat reservasi buat dinner hari itu. OK, seperti biasa si mbak di ujung sana menanyakan jam berapa dan sebagainya, smoking or non-smoking dan dengan lantang saya bilang NON-SMOKING. Ngeliat di website dengan suasana yang aduhai dan review makanan yang ok membuat saya semakin yakin bahwa saya nggak salah pilih tempat buat acara hari itu.

Ternyata saya (hampir) salah. Ketika saya dateng, nggak ada orang yang menyambut di depan. Saya kudu masuk sampe si mas-mas di dalem sadar ada tamu. I think seorang supervisor gitu tanya udah buat reservasi belum and I said I did, ditunjuk lah sebuah meja yang terletak di outdoor! Saya menjelaskan bahwa pas saya reserve si mbak nggak nanya mau indoor atau outdoor, dia cuman tanya mau smoking or non-smoking. Si mas dengan enteng dan muka tanpa ekspresi bilang, oh yang di indoor semua udah fully booked. Jadi cuman ada outdoor. Tanpa say SORRY. Saya menyayangkan bahwa si mbak could have been more descriptive in handling my reservation, ngomong dong kalau ternyata adanya outdoor dan indoor udah taken semuanya. Yah untungnya teman-teman saya rela duduk di ruangan terbuka yang lumayan cukup panas itu, otherwise I would have cancelled it and go for other places with much better service!!

Berada di bagian outdoor emang nggak menyenangkan, selain panas, saya merasa agak-agak left out, karena nggak ada yang standby di bagian outdoor itu, dan nggak cuman saya loh yang makan disitu. Mau minta pepper atau fork and knife seorang temen saya kudu masuk ke dalem and request personally for those things, karena emang lama banget servicenya. Seorang bule yang lagi mau order pun harus rela celingukan beberapa saat karena semua pelayan sibuk sekali di bagian indoor (and nobody takes care of outdoor area!!)

Begitu acara makan selesai saya minta bill, dan butuh that freaking TWO TIMES untuk minta bill ke orang yang berbeda (karena si mbak yang pertama dimintain bill nggak pernah balik lagi), si mas yang dimintain bill untuk kedua kalinya yang akhirnya balik ke meja kami (Waiting time: 20 menit!!). Sorry, no tips at all dengan service quality seperti itu.

To make things worse, pas saya lagi di parkiran mendadak ada telepon, suara di ujung sana “Pak, ini dari Pastis, bapak jadi makan disini?” and I was like WHAT?? Saya bilang saya baru selesai makan dan baru keluar dari sana!! What’s wrong with these people!! That was a total joke!! Jadi itu table buat saya? beneran nama saya? atau table orang dan seharusnya saya dapetnya di indoor? terus kenapa mereka masih ada nama saya di list unchecked? sampe telpon konfirmasi ulang segala jadi dateng apa engga? si mas yang menunjukkan table pun nggak info ke temennya kah bahwa saya udah dateng, duduk dan makan?bayar dan udah pulang?

Untuk makanan yang lumayan enak, kayanya sayang banget nggak diimbangi dengan service yang OK. Kalau nggak begini servicenya saya pasti balik lagi ke Pastis. Semua yang kami pesen was very good indeed, TAPI gesture dan attitude yang membungkus pengalaman pertama saya disitu and I am sorry goodbye, saya nggak akan balik lagi.

Read Full Post »

Mungkin saya termasuk dari sekian ribu orang yang menggunakan bandara International Soekarno Hatta untuk bepergian, terutama terminal 2 ya. Baru pernah dari terminal 3 sekali pas dulu naek AirAsia ke Bali.

Beberapa kali saya berangkat dan balik dari terminal 2 sih memang udah terlihat perbaikan disana-sini, terutama dari toilet2nya yang udah semakin baru, tapi tempat check-in dan lain2nya kayanya ya gitu2 aja, meskipun ada sebagian yang ditutupin plastik gitu semoga aja itu tempat check in baru.

Kalau pas berangkat di jam-jam sibuk pun di Terminal 2 ini antriannya ya gitu deh. Mungkin antrian check-in lebih manusiawi ya daripada antrian di imigrasi. Pernah suatu kali saya terbang dengan pesawat yang lumayan pagi buta, ternyata antrian di imigrasi itu beneran bikin melek. Meskipun udah dipisahkan foreigner dan Indonesian passport, tapi sepertinya pemisahan itu nggak gitu ngaruh terhadap panjangnya antrian. Di satu sisi, seneng juga ya kalau ternyata banyak orang asing ke Indonesia, tapi di satu sisi, antrinya nggak tahan, apalagi saking ramenya kadang harus dempet2an nggak jelas ujung antriannya dimana.

Saran saya coba hindari jam2 sibuk, pagi hari 6am to 10am, atau sore 5pm til 11pm kali ya. Berangkat sekitar jam 11am atau makan siang itu jauh lebih nyaman, karena less hassle, less antri, and less crowded tentunya.

Duty Free Shop unlike di Changi yang mengundang siapapun yang lewat untuk melihat2 doang (dan hopefully belanja), disini kayanya gitu2 aja, maybe dari layout nya yang sama sekali nggak menggoda, atau dari segi harganya. Jujur aja saya belom pernah sekalipun masuk ke Duty Free Shop di terminal ini.

Berbagai credit card dan airlines lounge pun kayanya perlu di facelift, butuh space yang lebih luas, jadi nggak overcrowded di jam-jam sibuk. Holding gate area pun kayanya perlu dibuat seperti di Hong Kong yang menerapkan konsep open space, jadi cuman perlu sekali security check in after immigration and that’s all. Di gate anda tinggal perlu duduk santai sebelum masuk pesawat. Kalau dari pengamatan saya, kadang ada yang harus rela berdiri karena nggak kebagian tempat duduk di boarding gate disini.

Berangkat kelar ceritanya, pas mendarat pun another wholesome story. Mendarat di jam jam sibuk itu berarti anda harus rela ikutan antri di imigrasi kaya ular naga panjangnya bukan kepalang. Belum lagi pilar-pilar dan layout meja imigrasi yang (kadang) semakin membuat bingung kudu ngantri dimana. Anda di First Class? atau Business Class? sama aja kudu antri judulnya. Kecuali anda adalah ‘someone’ yang dijemputin dari pintu pesawat dibuka, terus di-escort sampai pengambilan bagasi sampe masuk ke mobil. Atau mungkin anda adalah anggoda dari club itu yang bisa scan passport sendiri tanpa antri?

Kalau anda sedang beruntung, imigrasi bisa kosong, nggak pake antri, paling 2menit udah beres. Nah kemudian kesabaran anda diuji kembali nunggu bagasi. Conveyor belt yang cuman segitu bakal full dipenuhi sekian ratus penumpang, let’s say 1¬† pesawat itu 300 orang dan yang nungguin bagasi 200 penumpang!! Belum lagi sistem yang menurut saya harus diperbaiki, jadi nggak pake lama tuh bagasi. Kebayang kan gimana sengsaranya kalau 3 pesawat landed almost at the same time.

Belom kelar sampai disitu, antri lagi ya pas mau keluar di custom dimana anda diharuskan untuk meng-scan hand carry items anda sembari menyerahkan formulir bea cukai. Jadi kalo diitung2 ada 3 kali antrian yang harus anda lewati begitu turun dari pesawat.

Kaitannya adalah gimana kita promosi Visit Indonesia Year, kalau sarana dan pra-sarana seperti ini jauh dari menunjang. Coba kita belajar dari negara tetangga, dimana di Changi begitu anda keluar dari pesawat sampai ke area kedatangan nggak lebih dari 18 menit!! Bagasi anda akan menanti anda duluan begitu anda kelar di imigrasi. Area check-in yang sangat luas, duty free shop kaya di shopping malls, apapun yang anda cari ada disana. Imigrasi yang (hampir) nggak pernah pake acara antri. Judulnya kita harus banyak belajar, kapan ya airport kita bisa sekeren dan secepet itu.

Read Full Post »

Di antara hiruk pikuknya iklan sana sini dari si operator yang menawarkan berbagai macam kemudahan, kayanya kok nggak terlalu disupport dengan kualitas yang memadai.

Semua-semuanya menawarkan ini dan itu gratis, bersaing siapa yang bisa kasih gratisan paling banyak, paling lama, seumur hidup! Berjanji nggak mengecewakan, sinyal selalu full. Gratis gitu loh siapa yang nggak mau gratisan?

Saya sebagai pelanggan juga mau dong, tapi kalo iming-iming semua itu tanpa diimbangi dengan fasilitas dan service yang sesuai, akhirnya jadi terbengkalai deh. Janji tinggal janji judulnya. Tapi bukankah janji itu harus ditepati?

Fenomena ini kayanya kita jumpai tiap hari, bahkan sadar atau engga kita udah dibombardir, mulai dari sms, koran, billboard, majalah, media manapun juga tempat si operator ini menawarkan janji2nya.

Membuat saya menjadi berpikir, kok nggak ada ya satu aja dari operator tersebut yang berani mendobrak pasar. Caranya? Kasih harga yang lebih mahal dari rivalnya, tapi bersaing di service consistency and service delivery. Saya rasa nggak semua orang juga aware soal gratisan itu, nggak semuanya pun tertarik kalau ternyata sinyalnya naek turun, kadang pun terlihat full tapi loadingnya lama setengah mati, demi gratis and more gratis. Saya rela bayar lebih asal diimbangi dengan kualitas. Cheap stuff does not mean cheap and lousy service kan. End of the day tinggal milih, mau yang gratis ini dan itu tapi sinyalnya amit-amit atau sedikit mahal tapi anda bisa bbman lancar tanpa masalah.

Read Full Post »

Older Posts »