Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2011

No, no, bukan saya maksudnya. Beberapa hari yang lalu timeline di Twitter saya diramaikan dengan adanya semacam workshop untuk fashion week di Jakarta. Disebutkan juga bahwa merk-merk dan designers local itu sebenernya punya kesempatan untuk mengembangkan dirinya ke luar negeri. Nggak usah jauh jauh dulu ke luar negeri, mari kita amati yang terjadi di dalam negeri.

Industri fashion local itu kaya nafas senen-kamis, sebentar dibilang eksis, sebentar dilupakan. Beberapa designers pun sepakat untuk menjadikan sebuah atap sebagai wadah untuk showcase designs mereka; pas pembukaan ramenya ajubilah, tapi beberapa bulan setelah itu nggak terdengar gaungnya. Ulasan demi ulasan di majalah mode pun cuman seiprit doang, kalo mereka lagi ada show ya baru dibahas, kalo engga sepertinya lebih menjual apa yang lagi ngetrend di kiblatnya. Kondisi ini kemudian disusul dengan ide-ide baru yang innovative (atau me-recycle conceptnya) supaya lebih bisa diterima dan didekatkan pada si pemakainya. Cuman sayang sekali, nasibnya nggak jauh beda. Beberapa tempat untuk designers local dengan jalur ready-to-wear kayanya kok sulit untuk bertahan. Satu lantai yang full isinya local designers semua bisa dibilang super-sepi untuk ukuran hari biasa. Weekend bolehlah ada crowdnya, tapi dari sekian ratus atau ribu pengunjung yang melantai, 90% itu window-shoppers, 8% nya pegang-pegang doang, nyoba2 doang, sementara 2% nya sukur-sukur jadi beli. Atau kurang dari 2%?

Harga yang di markup sekian puluh (atau bahkan ratus) persen dari bandrol produksi menjadikan ready-to-wear ini kalah saing dengan merek-merek international yang notabene pun sudah jauh dicintai dari sejak dulu. Ibaratnya kalo merek luar itu semakin mahal akan semakin dicari, semakin berkelas, dan semakin-semakin lainnya. Sementara local brands kaya anak tiri, murah aja belom tentu dibeli apalagi kalo mahal, NO WAY!

Saya sendiri pernah ditawari beberapa kali untuk menjadikan design saya sebagai bagian dari industri yang ready-to-wear ini. Masalahnya adalah, pertama dari awal saya ingin sesuatu yang lebih personal dengan si pemakai, nggak cuman asal design, taro aja di rak sukur2 ada yang mau beli; tapi lebih ke apa sih yang mereka perlu, mereka pengen pake dimana, buat apa, acaranya dan sebagainya. Semakin banyak infonya, maka akan semakin complete perencanaan design sehelai pakaian itu sendiri. Bukankah sebagai si pemakai kita akan lebih senang kalo kebutuhan akan sehelai sandang itu dipenuhi, nggak cuman secara visual, tapi kepuasan batin, yang pada akhirnya “ini tuh gue banget!”.

Kedua, bagian dari mass production, bahwasanya baju-baju yang saya design, saya pajang, saya showcase sedemikian rupa, kalo nggak laku mau diapain? Masuk dalam kategori discounted item?  Ketiga, saya sempet takjub kalau ternyata sehelai kemeja batik yang menurut saya sangat biasa aja dibandrol dengan harga mendekati 1juta rupiah, bukan sutra, bukan tulis. Beneran batik biasa. Sementara itu dengan harga yang (kurang lebih sama) saya bisa berkreasi sesuai dengan kemauan si pemakai, berusaha untuk menampilkan kelebihannya dan menutupi kekurangannya. Dengan ukuran sesuai pas dengannya, nggak cuman semena-mena S, M, L, XL. Everyone is different.

Terlebih daripada itu sebagai seorang designer tentunya akan bangga sekali kalo pake baju yang ini-design-gue-loh. One of a kind nggak akan ada yang ngembarin. Cuman nggak semuanya begitu kali ya, buktinya seorang designer local kenamaan pun malah memakai merek yang bukan namanya. And there will be a fashion. Menurut saya, sang designer itu sendiri otomatis akan menjadi ambassador untuk brandnya, bahkan brand image itu pun akan terbentuk dari image dirinya.

All in all, saya sangat percaya bahwa sebuah sesi komunikasi antara si designer dan si pemakai itu sangat penting, supaya tau maunya kaya gimana, supaya bisa pas ukurannya, supaya nggak ada yang ngembarin, supaya special kalau semuanya customised, dan supaya hasil akhirnya sesuai pas banget kaya yang si pemakai mau. Nggak cuman sekedar liat,  milih, nyoba, bungkus atau taro lagi. Option is in your hand (and your wallet!)

Read Full Post »

No, not my wedding but my sister’s wedding. After almost a year of planning, countless number of vendors, unlimited supports, prays and efforts. Here we gooo..

This slideshow requires JavaScript.

Credits to:

  • ProjectArtPlus
  • PF Decoration
  • Angie’s Cake
  • Yarry make up artist
  • Lilis make up artist
  • Photobysondhiar
  • Lina and Lim.H
  • Anne Avantie
  • Shangri-La Surabaya
  • JAVA Paragon Surabaya
  • and everybody else involved – BIG THANKS

Read Full Post »

The Wedding Gown is finally ready to be sent out for wedding in St. Regis Bali next weekend. Click our page for a closer look http://www.facebook.com/pages/Lina-and-LimH/183337348877

This slideshow requires JavaScript.

Read Full Post »

This slideshow requires JavaScript.

Take a closer look for that blings! Swarovski crystals that have been handsewn to this beautiful wedding gown. For yourself or for more info please drop your comment here.

Read Full Post »

Sebuah tempat baru yang lagi ‘hitz’ di Singapura yang terletak di Mandarin Gallery. Gimana nggak hitz, ketika saya dateng jam 9 pagi udah waiting list!! Sebenernya sehari sebelumnya sempet kesitu juga, demi cranberry scones, apa daya pas udah nunggu hampir 45menit, dapet table tapi si scones udah sold out. Kudu terpuaskan dengan blueberry cupcakes. Kecewa akhirnya balik lagi kebesokannya.

Menu breakfastnya beraneka-ragam mulai dari English, American, European, Swiss, Japanese, and some others too. Scones nya udah manggil2 saya di bawah wadah kaca itu. Ahhh tanpa pikir panjang deh, scones for me and English breakfast for my parents. Big breakfast I would say, English breakfastnya termasuk scrambled egg, bacon, baked beans, potatoes, terus roti 2 slice and pork sausage. Nggak mungkin lah ya diabisin sendiri, jadinya saya share ber 3 deh sama papa mama. Rotinya enak, bukan roti tawar instant, dewy and moist. Terus highlightnya si baked beans ini wajib coba, karena bukan baked beans kalengan, tapi beans yang beneran dimasak pake tomato puree, rasanya agak pedes tapi super fresh. Untuk sepiring meriah itu harganya SGD22. Anyway, maaf ya buat yang ini karena begitu sampe di meja udah pada kelaperan jadi nggak sempet difoto.

Sconesnya boleh lah, lebih besar dari ukuran biasanya tapi nggak pake fresh cream yang ini. Ada butter and jam nya. Cranberry nya banyak, teksturnya not bad, rasanya kalo dimakan sendirian juga lumayan ok.

Di tempat ini yang kudu dicoba adalah minumannya yang kalo saya nggak salah baca, rata-rata berbahan dasar madu sesuai nama resto nya. Nature’s Remedy adalah pilihan saya, madu dicampur cinnamon pake es. Suegerrrrr maksimum! Next time kalo anda kesini mendingan cari waktu yang agak offpeak, atau coba taro nama dulu waiting list nya emang bener-bener kelewat lama sih, tapi sebanding sama suasananya dan makanannya. Harganya pun oke juga di kantong.

This slideshow requires JavaScript.

Read Full Post »

:: Lamoda ::

Sebuah tempat makan dengan concept eksis-seeksis-eksisnya karena terletak di atrium Plasa Indonesia ini memang dimasyurkan pada era tahun 90an, sempat menjadi the talk of the town dan menjadi sebuah tempat to see and to be seen. Jadi nggak cuman makan doang. Dimiliki oleh Grand Hyatt Jakarta (meskipun letaknya di Plasa Indonesia dan bukan di dalem hotel), Lamoda menawarkan comfort food, nggak ribet dan enak, beberapa kali direnovasi dan beberapa kali ganti layout serta warna kursi sepanjang sejarahnya.

Dulu tiap kali kesini pasti pesennya Laksa Bandung atau ramen, nggak lupa bawa pulang Tiramisu dan Fruit tartlet. Setelah sekian lama nggak mampir, akhirnya kemarin disempatkan mampir sama Bunda yang ngidam makan disitu.

Beef Chilli Fries menjadi menu pembuka (tapi keluarnya abis main course), cocoklah ini untuk di share, meskipun pake chilli tapi sama sekali nggak pedes. Saya pesen beef rendang pie, yang kulit luarnya enak banget, tapi isinya terlalu kering. Yang juara disini sepertinya malah side salad nya. Kudu pesen salad next time. Fettucine dan Penne nya lumayan, porsi pas nggak terlalu banyak. Iced lychee tea dibandrol seharga Rp 45ribu. Sejarah pun terulang, membawa pulang Tiramisu (tapi nggak pake fruit tartlet kali ini). Rasanya masih sama seperti yang dulu, masih enak, masih creamy, masih mahal juga sih buat ukuran segitu.

Overall, good place buat ngopi-ngopi atau snacking atau dessert-ing, dengan service yang attentive khas Hyatt. Bolehlah kalau sekali2 doang.

This slideshow requires JavaScript.

Read Full Post »

This slideshow requires JavaScript.

 

Read Full Post »