Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2010

:: Resolution ::

Kalau diartikan, maka makna sesungguhnya adalah ‘determinasi’ atau ‘kemauan yang keras’. Coba deh siapa dari kita yang lumayan sering gembar-gembor soal New Year’s Resolution, bahkan dari jauh hari sebelum December. Tadi pagi pas saya bangun tidur, saya baca tuh timeline di Twitter seperti layaknya lagi baca koran. Ada yang dengan bangga menyatakan resolusi taon depannya, ada yang bilang nggak tau, ada juga yang flashback di hari terakhir tahun ini sampai yang takut jadi tua karena ya otomatis umurnya nambah setahun lagi kan.

Kayanya saya termasuk kategori kedua tuh, yang nggak terlalu peduli mau resolusi apa. Menurut saya pribadi, resolusi awal tahun itu nggak ubahnya seperti fresh start, tapi dari sekian ratus resolusi, kayanya paling satu atau dua yang akhirnya kesampean. Yang lainnya? Yaaa bisa aja mandeg tengah jalan, patah semangat, banting setir, ubah haluan, atau ya karena bosen aja. Di tengah  jalan nggak ada faktor yang mendukung, atau malah hilang dukungan, jadi resolusi ya cuman awal tahun aja. Buktinya dari sekian banyak timeline di twitter dari sekian followers nggak ada yang membahas resolusi mereka di awal tahun 2010 dan hasilnya ketika sampai di hari terakhir tahun ini.

Merumuskan sebuah resolusi ya tentu gampang-gampang susah, tergantung dari niatnya, dan menurut saya (lagi) resolusi itu nggak perlu awal tahun juga kan? Kenapa dibuat awal tahun? Supaya dapet 365 hari untuk berjuang sesuai resolusi masing-masing? Kalau saya mulainya di tengah tahun juga ok kan? Malah dengan jangka waktu yang lebih pendek, harusnya anda jadi lebih semangat menjalankan resolusi anda.

“Pokoknya taon depan gue harus turun 10kg” gitu deh kata seorang teman saya. Taon depan itu harinya sama, jamnya juga sama, apa iya resolusi setaon akan kesampean? Kayanya dalam hitungan bulan lebih seru deh, kaya ikut the biggest looser, atau amazing race. Berlomba melawan waktu itu akan jauh lebih seru daripada berlomba tanpa ada lawannya.

Saya pribadi lebih suka flashback-ing.. Apa yang udah dilakuin taon ini, apa yang udah kesampean taon ini, salahnya apa, benernya dimana, refleksi lah buat taon depan. Kalau taon ini ternyata neraca laba rugi lebih banyak ruginya, ya berarti taon depan harus lebih pinter mengatur cashflow. Kalau toh ternyata taon ini bisa berhemat, ya supaya taon depan sesuai dengan harapan mau segimana hematnya, tanpa harus mengurangi kualitas hidup. Kalau sampai di baris ini anda mulai berpikir, eh iya juga ya, coba deh direnungkan lagi, udah sampai dimana hidup anda, terus mau kemana anda taon depan, dan pastinya hidup akan menjadi jauh lebih indah kalau anda bisa bersyukur dan berbagi dengan yang lain. Kalaupun anda bingung mau berbagi dengan siapa, gampang deh, jangan rempong, leave up your comment di posting yang ini. All in all, have a fabulous and very happy new year!

Read Full Post »

Sepertinya belum terlalu lama resto yang ini membuka cabang pertamanya di Plasa Senayan, lalu minggu lalu sudah terpampang ‘OPENING SOON’ di suatu sudut Pacific Place yang dulunya tempat salah satu chain burger yang nggak bisa survive di Lantai 5 itu. Kalau memang betul ini dimiliki oleh grupnya Sate Senayan, maka memang sate lah mainannya mereka.

Atmosphere restaurannya agak Jawa-jawa gimana gitu, bahkan pertama kali saya kesana, ada si mbok sinden and the gank mengumandangkan lagu-lagu ala Jawa termasuk Bengawan Solo tentunya. Si mbok lengkap kumplit dengan kebaya dan konde yang ukurannya sebesar wajan buat bikin kue serabi. Jadi live musicnya memang tembang lawas ala jawa, bukan live band atau semacamnya. Jalan masuk ke bagian dalam resto ini dibuat seperti gang kecil, namun sayangnya lampu biru khas night club itu entah usulan siapa, nggak matching aja, seperti layaknya makan jeruk sunkist pake bumbu pecel. Begitu masuk, yang pertama anda jumpai adalah panggangan sate yang sangat panjang, dari ujung ke ujung di balik kaca. Tapi yang pasti bukan aroma sate yang anda cium, tapi wangi harum bunga sedap malam yang semerbak. Interiornya dibuat seminimalist mungkin, nggak terlalu jawa, tapi tetep ada aksen jawa dimana2, termasuk tutupan lampu yang berhiaskan aksara jawa kuno dan buku menu yang dibuat seperti kipasan sate beneran, tesate deh pokoknya.

Tahu telur menjadi pilihan utama, disajikan dalam porsi yang cukup besar. Kayanya semua di restoran ini disajikan dalam porsi keluarga, sharing is encouraged. Menyusul kemudian si Sate sapi 6 tusuk disajikan di anglo kecil, dagingnya empuk, gurih dan manis. Saya belum menemukan hidangan sayur yang pas disini, dulu pesen Pecel Ndeso tapi standard aja rasanya, uniknya bumbunya itu berasa tauco, jadi kaya tauge goreng instead of pecel. Kemaren pesen lodeh yang juga biasa aja, enakkan lodeh si mbak di rumah. Nasi Lemak ijo royo-royo juara banget, Nasi warna ijo, gurih ada sate lilitnya 2 berbatang serai plus daging ini dan itu, komplit lah pokoknya. Jadi bukan nasi lemak malaysia ya, pake daging rendang, sambel ikan bilis dan telur rebus, yang ini warnanya ijo merona. Mie Goreng Jawa juga enak kalau anda berniat nggak makan nasi. Nasi Liwet khas Solo ada juga disini, ayam suir opor, pake oseng-oseng tahu-tempe, ada kerupuknya sama sayur krecek dihidangkan terpisah sebagai pelengkap. Saran saya kalau anda pergi ber 5, pesen aja 3 atau 4 main course, udah cukup untuk semuanya. Pepes Bandeng boleh juga dicoba, kaya rempah, tapi sayangnya bandeng nya nggak terlalu presto, jadi agak ribet makannya, bumbunya meriah dan agak pedes buat lidah saya.

Kalau anda masih muat untuk dessert, coba deh serabi solo, isinya 3, rasanya aduhai, coklat/keju, kopyor dan tape. Teksturnya kering, namun agak mblenyek di dalem, bikin kangen pokoknya. Apalagi ditemenin es puter rasa kelapa, pas pas pas. Saya rela balik kesini lagi hanya untuk makan serabi nya (Nggak ada difoto, karena abis duluan sebelum didokumentasi). Belum coba bubur campurnya, tapi sepertinya udah pernah coba di outlet Sate Senayan Food Louvre Grand Indonesia.

Soal harga yaaa okelah, lumayan agak pricey untuk ukuran makanan Indonesia. Servicenya bervariasi, kalau lagi jam sibuk dan meja anda di ujung, bisa jadi anda harus bekerja keras hanya untuk order. Mending duduk persis di depan drink counter, karena pasti ada si mas/mbak standby disitu. Jangan kuatir kalau anda lagi lapar, semua pesenan cepet banget dimasaknya. Akhir kata, enjoy the sate!! Berikut cuplikannya..

Read Full Post »

Kalau dikategorikan mungkin ada banyak tipe ibu-ibu sekarang ini. Ada yang merasa dirinya belum berbuat banyak untuk keluarganya, ada yang merasa dirinya perlu ‘diibukan’ atau bahkan ada yang merasa ‘saya ini udah ibu-ibu lohhh’.

Saya juga tadinya bingung, sebenernya antara adil dan nggak adil. Kalo ada hari Ibu, terus kenapa nggak ada hari Bapak? Salahkah si Kartini itu? Kita seperti dipaksa untuk mengakui bahwa wanita dan pria itu sederajat, tapi kalo urusan hari beginian kenapa nggak ada hari Bapak? Setau saya di luar negeri ada loh Father’s Day, lalu kenapa nggak ada di Indonesia? Apakah karena cuman di Indonesia aja jasa ibu diakui? Bukan mencari pengakuan, kalau memang mempermasalahkan soal kederajatan, ya harusnya sama dong.

Siapa yang tau juga kenapa hari Ibu dirayakan 22 December dari 365 hari dalam setahun? Dan cuman di Indonesia aja. Perayaan Mother’s Day di luar negeri kayanya di sekitar tengah tahun, bukan di penghujung tahun di kala orang udah pada sibuk mau liburan dan menghabiskan cuti tahunan.

Dari tadi malem timeline di twitter saya dibanjiri berbagai ucapan hari Ibu, emang si ibu-ibu itu pada punya twitter ya? Dan kayanya kok agak berlebihan kalau pake embel-embel ‘Thanks Mom I love you’, bukankah emang sudah seharusnya we love our Mum? nggak cuman pas hari ibu doang, tapi harusnya tiap hari dong. Itu masih belum seberapa dibanding yang ‘I can’t live without you’. Alright, tapi masa iya setaon sekali doang? Memang betul berterima kasih? Atau semata-mata supaya dibaca orang betapa cintanya kita pada si Ibu? Kalaupun memang cinta ya langsung ditunjukkan aja, nggak perlu membanjiri timeline itu kan. Belum termasuk yang di social networking site, kanan kiri ditulisnya I love you Mum.

Jadi ada baiknya hari ini coba anda pikirkan dan direnungkan, kalau memang anda cinta sama Ibu anda, terus apa yang telah anda lakukan selama ini? Udah membahagiakan Mama, Ibu, Bunda atau siapa? Sudah cukupkah yang anda lakukan daripada yang anda gembar-gemborkan di timeline atau di social networking site anda?

Read Full Post »

“Style is an expression of individualism mixed with charisma. Fashion is something that comes after style”

John Fairchild

Check our Facebook here

Read Full Post »

Bermula dari kelabilan nggak tau mau kemana makan siang hari itu, akhirnya saya putuskan untuk mencoba Eat&Eat yang mengusung makanan/jajanan model dulu yang ternyata berkonsep seperti Urban Kitchen atau Marche.

Diiming-imingi godaan duniawi terbesar kemaren ini, pas bener di jam-jam laper, makanan Indo. Yes, I love Indonesian food, apalagi makanan ala Jawa, kaya gudeg, nasi liwet, pecel, siomay, batagor dan sebagainya. Ditambah dengan dessert yang menggoda mulai dari es cincau, es selendang mayang, dan es es lainnya. Siapa yang tahan. Ceritanya mengumbar nafsu kelaperan, tapi kudu tetep terbayang kiloan.

Karena baru pertama kali kesana, saya pun mengisi pulsa berupa kartu yang nantinya bisa dibalikin lagi uangnya. Selanjutnya dilanjutkan tour keliling tempat itu, ada berbagai macem food stall yang siap memenuhi kelaparan anda. Berpikir beberapa kali sebelum memutuskan ‘Sego Pecel Ndeso samping HYATT’. Pake embel-embel ‘samping HYATT’ karena originalnya si pecel ini di Jogja membuka lapaknya di samping Hyatt Regency.

Jangan expect kaya bumbu kacang coklat gitu ya buat pecel, yang ini agak beda, sayurannya pun lain, saya nggak tau apaan, tapi kaya daon singkong gitu. Bumbunya item2 kaya ada bumbu rawon nya yang kering, terus rasanya gurih, manis, asin jadi satu. Nasinya nasi merah. Tahu Bacem nya biasa aja sih, empalnya juga gak ada yang special, yaaa yang penting nggak alot. Minumnya es kunyit asem. Pas deh gue banget!

Lanjut icip2 siomay asli Bandung katanya. Model pake gerobak ala abang-abang pinggir jalan. Not bad, tapi nggak sampe yang mengalihkan duniaku judulnya. Dessert ada macem-macem, es durian monthong sama es cincau jadi pilihan saya. Yang es cincau ijo itu lumayan lah, paling engga saya tau itu beneran cincau bukan ager2 warna ijo tua. Es duren yang ini rasanya harus dishare, kalo sendirian bener2 membuat anda mabuk kepayang. Serasa makan duren dibekuin terus masih disiram duren juga. Amazing, just the way it is.

Tenang aja, food court yang ini lumayan luas, jadi jangan kuatir nggak dapet tempat duduk, walaupun di jam-jam sibuk. Dari tempat saya makan, masih banyak pilihan pemuas selera, mulai dari sop iga, bistik jawa, macem2 soto, kwetiaw goreng, sate ayam, nasi bali, nasi gudeg, nasi pecel, ini dan itu. Yaaaa.. bisa nggak abis-abis deh isian saya kali ini. Kalau anda penasaran coba deh dateng sendiri, ada di Kelapa Gading atau di Gandaria City. Selamat bersenang-senang.

Read Full Post »

Kalau diartikan secara kata-kata, it means ‘Under the spotlight’. Bisa jadi karena beberapa hal. Pengambilan angle yang memang under the light, atau bahannya yang memang agak mengkilap. Konsep kali ini agak berbeda dari yang sebelumnya, antara classic dan modern, antara casual dan formal. Bahan katun biasa dikombinasikan dengan kain tenun asal India.

Penasaran? Come and join us in Facebook: CLICK HERE

Read Full Post »

Siapa sih yang nggak terbuai kalau dibilang awet muda? Setidaknya itu yang biasa terdengar di sebuah pesta para socialite ibu kota. Ketemu, cupika cupiki, terus yah pake embel-embel yang bawa-bawa soal fisik. Cuman dua kemungkinannya, kalo nggak soal berat badan, ya itu tadi, soal awet muda. Bahkan ada yang terang-terangan mengaku pernah disuntik ini, dilaser itu, dipeeling lapisan kulit terluarnya, semua dengan harga yang aduhai, tapi kata si orang ini yang penting hasilnya. Memang sekilas nggak ada yang tau umur aslinya berapa. Kalo lagi jalan sama anaknya pun terlihat seperti kakak-adik. Trend yang berkembang beberapa tahun terakhir sudah bukan going ageing gracefully, tapi ya siapa sih yang mau keliatan tua, keriput, kusam, nggak menarik? Yang layaknya sebuah barang uji coba, yang pasti nggak laku kalau dijual di pasaran. Jadi fenomena ini yang kemudian berevolusi bahkan semuanya jadi ikut berlomba-lomba untuk selalu terlihat awet muda. Mau yoga, mau botox, mau jamu, mau collagen, mau laser, mau peeling, semua cara dicapai untuk hasil maksimal itu tadi. Ibaratnya, packaging harus ok, lapisan paling luar yang kerap ditatap jutaan mata begitu anda keluar rumah.

Sebuah keadaan yang super-keterbalikannya dengan para tantes yang ingin keliatan awet muda, kalau saya perhatikan di pusat perbelanjaan ibu kota, kayanya anak2 muda aka abg jaman sekarang, sepertinya berlomba-lomba untuk terlihat jadi lebih tua. Menenteng smartphone, gaya bicara yang dibuat-buat, lipstik merah merona, sampai heels yang nggak mungkinlah bisa dipakai berdiri berlama2, semata-mata hanya untuk diakui bahwa mereka udah cukup tua, atau dewasa ya kalau anda keberatan memakai istilah ‘tua’. Itu masih belum seberapa, bayangkan kalau si abg ini suatu hari ke sekolah ternama, pake assistant yang bawain perlengkapan perangnya, terus pake tas mahajuta yang biasa dipake ibunya atau tante2nya itu. Sebuah bentuk aktualisasi diri? Disuruh? Mau pamer? Atau ya sekedar cari sensasi supaya jadi bahan pergunjingan ratusan teman-teman lainnya?

Kenyataannya abg-abg itu memang masih dalam tahap mencari jati diri, tapi di suatu kesempatan yang sama, dimana mereka mau diakui, bahwa mereka juga bisa loh eksis, bisa juga loh begini dan begitu, seperti para rivalnya yang memang sudah pernah makan asam garam dunia. Kesannya jadi maksa, berapa banyak penyanyi anak2 yang dandanannya layaknya seorang diva? Bahkan di suatu ajang pencarian bakat beberapa waktu lalu, ketika diinterview, si bakat cilik ini menyatakan sesuatu yang saya yakin itu hasil suruhan (atau hasil latihan sebelom take). Entahlah itu sebuah aksi untuk mencari penggemar, atau bagian dari pencarian jati dirinya, atau memang dia bener-bener peduli tentang masalah tersebut (ibaratnya anak umur belasan tahun berbicara soal krisis ekonomi dan globalisasi, hellooo..)

Memang nggak bisa dipungkiri bahwa semuanya pengen terlihat awet muda, biarpun ada golongan minoritas yang ‘menuakan’ dirinya, hanya untuk kemudian menjadi yang ‘dituakan’ atau dianggep paling ngerti atau paling expert. Anda pasti tau dong, seorang artis yang memang legendaris, ketika bersanding menjadi juri dengan Sharon Stone di sebuah ajang film international bener-bener kebanting. Tante Sharon dengan usia yang seperti itu, dengan rona kulit yang masih mempesona dibandingkan dengan si artis yang keriputnya terlihat jelas (atau sengaja diperlihatkan), ya pasti tante Sharon lah yang mampu mengalihkan dunia anda kan. More beautiful than you are twenty years ago.. begitu katanya.

Read Full Post »