Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2011

:: The story of CX ::

Sekarang saya tau kenapa maskapai 5stars yang ini nggak pernah bisa merebut singgasana si SQ yang sudah 21 tahun consecutively awarded as “Best Global Airline” by Conde Nast Traveller dan countless awards lainnya. Beberapa hari menjelang keberangkatan saya sempet check tentang pesawat apa yang dipake buat sector CGK-HKG dan sebaliknya. I was actually expecting a brand new shell-seat in the Economy Class just exactly like what Cathay has been promoting over the years.

Pas masuk pesawat ternyata nggak begitu kenyataannya. Untung saya nggak jadi upgrade ke Business Class karena ternyata masih lebih bagus Business Class nya GA. Yang ini masih jaman dulu banget kursinya dan trust-me very biasa aja. Flight saya hari itu adalah codeshare bersama American Airlines dan British Airways.

The Welcome Touch – Nggak ada!! Jadi cuman standard Good Morning, go to your right or go to your left. Pas doors closed, safety video pun nggak ada, jadi model lama, cabin crew yang demo di depan aisle. Sebuah pemandangan yang nggak layak buat 5 Stars airline. Perjalanan CGK-HKG itu pun nggak disertai bantal yang biasanya di SQ ada. Kursi yang sempit model lama plus nggak ada bantal kecil. Sesaat setelah take off, cabin crew bagiin juices atau air putih, plus tissue basah (yes, tissue basah bukan anduk hangat kaya di SQ). Returning journey: Kursinya sama aja, cuman bedanya safety video presentation udah pake video, another tissue basah round dan tetep nggak ada bantal kecil.

In-flight entertainment – Ada tapi bukan on-demand, jadi masih model lama. Not very good movies and songs selection. Remotenya ada di bagian sandaran lengan, jadi gampang banget kepencet2. Headset udah ada di seat pocket.

Food – Termasuk harga tiket, tapi porsinya dikit banget. Buat flight hari itu they served breakfast yang isinya yoghurt merk local, fish or chicken. Pas nawarin nya pun kurang descriptive, jadi nggak tau itu fish sama apa atau chicken nya dimasak apa. Ternyata fish was served with rice dan chicken itu chicken noodles. Saya pilih fish, rasanya sih not bad, tapi banyakan tepungnya daripada ikannya dan porsinya dikit banget. Top of that, ada banana muffin in XS size, karena kecil sekali, can’t they just serve a more proper meal gitu kan this is not a budget airline. Abis kelar food service, cabin crew menghilang dan nggak ada another drink round sampe nggak lama pas mau touch down di HKIA. Wow! Untung HKG-CKG masih mending, bread roll nya lumayan, tapi tetep aja porsi nya dikit dibanding SQ.

Service – Biasa aja menurut saya, “Service straight from the heart” yang di claim CX selama ini kayanya yaaa gitu deh. Lack of consistency. Returning leg HKG-CGK saya minta dibawain “Business Traveller’s Magazine” karena CX magazine udah saya bolak balik pas berangkatnya, si mbak cuman bilang “I’ll check and come back to you Sir”, tapi nggak pernah come back atau kasih tau saya itu majalah ada nggak sampai mendarat di CGK. Beberapa kali saya minta extra pillow or magazine or whatever di SQ pasti they will come back to me promptly (kalaupun majalahnya nggak ada, mereka pasti bawain yang lainnya dari Business Class section and ask me to choose). Kesan saya begitu ya, jadi mengurungkan niat buat ikutan Asia Miles or One World Alliance because Krisflyer and Star Alliance gives me much better treatments.

All in all, kayanya kemaren itu yang terakhir kali saya terbang with CX just for the sake mereka fly directly from CGK to HKG. For another extra dollars, you will be getting a service that other airlines talk about. Jadi sama-sama 5star airlines YES, cuman soal consistency itu memang harus dikejar lagi.

Advertisements

Read Full Post »

Ini adalah salah satu product dari BreadTalk Singapore yang ternyata nggak termasuk dilicense atau diproduksi locally di Indonesia. Kayanya juga nggak mungkin diproduksi locally karena bakwa nya itu.

Bakwa sendiri adalah nickname dari si dendeng dan yang paling enak emang the pork bakwa dibanding beef atau chicken. Nah konon katanya yang bikin si bakwa delight ini enak karena irisan daging bakwanya itu disupply dari salah satu produsen bakwa terkenal di negara itu (berinisial BCH). Terus dikasih taburan wijen di atasnya, dikasih mayonnaise, bakwanya itu G6 (garing-garing-gosong-gosong-gimana-gitu) pas dan komplit, available only in BreadTalk Singapore if i am not mistaken.

Pernah iseng coba cari di BreadTalk Jakarta yang ada bakwanya udah diganti ayam gitu jadi rasanya kurang nendang. So all in all, this is not just an ordinary bakwa delight, but this one is surely delighted!! Try yourself.

Read Full Post »

Ini bukan ilmu astronomi ya, tapi sebuah ilmu makanan enak-enak, sinful tapi enak. Jadi gimana dong, mau being sinful aja gitu? dan sejenak melupakan diet anda terus berlama-lama berdiri di rak dingin itu dan bingung menentukan pilihan. You know why? Karena semuanya menggoda untuk dibawa pulang!! Selalu saya kesini meskipun menguatkan iman untuk nggak kesini lagi tapi tetep aja tergoda.

Kalau anda belanja di Market Place Paragon abis cashier coba jalan ke arah kanan anda, maka anda akan menemukan toko ini. Modern tapi italiano jadi ada macem2 di dalemnya, termasuk ready-to-eat lasagna, pizza, scones, muffin and everything. Jangan lupa blackforest and tiramisu nya (AGAIN) are-to-die-for!! MUST-MUST-MUST!! Kalau anda masih merasa bersalah juga coba deh rayu teman anda atau siapanya anda untuk share the guilts.

Itu belum termasuk flourless chocolate cake, triple mousse chocolate cake, apple crumble with fresh cream, banana chocolate cake, blueberry cheesecake, new york cheesecake, lemon crumble, and the whateverssss..

Afterall, percaya nggak percaya, semakin lama anda berdiri di rak itu akan semakin banyak yang anda bungkus buat dibawa pulang. Jadi saran saya coba dipikir dulu baik2 mau yang mana, terus udah deh, bayar then OFF you goooo..

Read Full Post »

Supermarket yang satu ini memang kesukaan saya tiap kali berkunjung ke Singapore. Ada beberapa cabang yang biasanya terletak di lokasi-lokasi strategis dan menawarkan banyak barang2 local maupun yang import. Layoutnya mirip2 kemchicks tapi lebih nggak banyak mas dan mbak yang nawarin ini itu. Yang saya suka adalah yang di Paragon karena deket kemana-mana, jadi abis belanja pun nggak ribet bawa belanjaan balik ke hotel.

My top picks adalah beraneka snacks yang langsung di import dari Japan, jadi nggak ribet deh belinya lagi. Saya liat chocolate Meiji tapi nggak liat ada kitkat yang greentea yang tempo hari saya pesen langsung dari teman saya disana. Nggak usah kuatir, karena kemaren saya berhasil menemukan jelly buah-buahan yang dijual SGD5.50 per cup (beli 2 kali, karena pas dicobain enak bangettt then beli lagi, try the blueberry), terus ada juga beraneka abon ikan buat temen makan nasi tapi nggak nemu yang beef, plus saya selalu beli fresh fruit disini daripada di coldstorage di Takashimaya.

Somehow yang market place ini lebih seger dan rasanya selalu enak. Usut-punya usut ternyata pepaya yang saya beli itu bukan Product of Singapore tapi Product of Malaysia. Ah I won’t bother deh yang penting rasanya enak. So here we gooo.. my three top picks:

Read Full Post »

Ini yang kedua kali saya mencicipi mochi yang ini. Tag nya ‘Luxury Japanese Deli’, kenapa dibilang luxury? Mungkin karena packagingnya yang ‘very Japan’, kotak hitam, rapih, ada beberapa layer kertas sebelum akhirnya ada mochi di dalemnya.

Kalau anda ke Hong Kong kudu coba yang ini. Bisa dibeli either di supermarket Sogo yang terletak di daerah Causeway Bay atau kemaren baru nemu lagi outletnya di daerah Tsim Tsa Tsui tepatnya di Basement 1 K11 Art Mall.

Ada yang bilang modelnya mirip Mochilla indo, saya sendiri belom pernah coba mochila kaya apa. Yang jelas ada lebih dari 10 varian rasa disini yang bisa anda bawa pulang. Kalau anda bingung memilih, coba beli gift box yang berisi 6 mochi seharga HKD60, sekitar 66 ribu rupiah tapi anda nggak boleh minta rasa yang lain. Kalau nggak berkenan coba aja pilih2 sendiri. Mochi ini dibandrol seharga 10HKD-13HKD, juaranya yang MANGO MOUSSE sama MANGO YOGHURT CREAM. Rasa-rasa lain kaya SAKURA, GREEN TEA, BLUEBERRY CREAM, SWEET POTATO juga menurut saya enak banget.

Kata yang jual mochi ini tahan 3-4 jam di luar kulkas, abis itu kudu cepet2 dikulkasin. Kalau mau makan kudu dikeluarin dulu sekitar 30 menit sampai kulit luarnya jadi kenyal dan dalemnya ada ice cream plus creamnya. Misalnya anda nggak puas sama box isi 6, ada juga yang isi 12. Jadi selamat mencoba ya!!

Read Full Post »

Ini bukan pertama kalinya saya berusaha untuk meyakinkan orang bahwa saya itu multi-profesi. Bukan aji mumpung, tapi lebih ke self-actualisation, dimana saya dituntut untuk loving what I do and most importantly doing what I love. Kadang saya sampai bingung sendiri kalau ditanya kerjanya apa. Saya suka traveling, writing my blog, being a silent observer, knowing more people, at the same time, saya menunjuk diri saya sebagai co-designer di line yang membawa nama saya sendiri dan adik saya yang paling kecil. Belum cukup juga, saya suka mengajar. Ngajar yang pake otak plus ngajar yang pake kordinasi. Maksudnya kordinasi kaki dan tangan, kapan harus ngomong, kapan harus tarik nafas, kapan kudu membawa aura layaknya seorang fighter sejati atau seorang rockstar yang lagi concert. Nggak banyak yang tau juga kalau ternyata dulu saya adalah seorang lecturer, seorang dosen di sebuah institusi perguruan tinggi swasta. Ahem.

Q: Situ anak baru kan di dunia fashion? Terus visi dan misi nya apa buat ke depannya?

A: Sebenernya juga gak baru-baru amat ya, udah jalan sekitar 2 taonan, menuju tahun ke 3. Begini ya, kalau di Indonesia saya merasa men’s wear itu masih dipandang sebelah mata, istilahnya cuman appetizer aja, bukan sebagai main course. Buktinya nggak ada kan disini majalah setebel yellowpages yang cuman membahas men’s wear sementara women’s wear merajalela dimana-mana. Itu gap yang lagi kita usahakan buat ditutup.

Q: Appetizer, dessert, jadi laperrrr.. jadi itu doang buktinya? Bukti lainnya ada??

A: Ada bangetttt.. coba anda jalan2 ke mall gitu atau department store. Baju cowo ya paling gitu2 aja. Terlalu pakem sesuai aturan. Sementara baju cewe yang kayanya udah dieksploitasi abis-abisan. Emang cewe doang yang bisa gaya, cowo juga harus keren kan.

Q: Maksod loooo… terus kenapa harus ada 2 orang? Emang situ ngga bisa design sendirian ya?

A: Enak ajaaa.. Ya kan two is always better than one, buktinya sumpit aja sepasang kan baru bisa dipake, kalo satu doang cuman kaya tusuk gigi dong. Bagaimanapun the power of two can do more than world can revolve.

Q: Situ kan nggak lulusan fashion, terus kenapa pede jaya ikutan ke kiblat sandang?

A: Sotoyyyy deh, tau darimana? Haha emang bukan, tapi passion saya disitu. Nggak cuman asal bikin sesuai kiblatnya tapi menyajikan sesuatu yang baru gitu lho. Yang belum pernah digarap orang atau disentuh sama sekali, masih perawan daerahnya.

Q: Emang hari gini masih ada yang perawan. Anyway, bagaimana dengan inspirasi design anda? Khususnya men’s wear?

A: Inspired by the world. Kadang pas lagi traveling tiba-tiba aja kebayang eh lucu juga ya kalo bikin kemeja kaya gini atau kayanya keren juga kalo celananya seperti ini. Jadi inspirasinya darimana-mana yang penting harus wearable.

Q: Kalo nyentrik gimana bisa wearable? Mungkin engga mungkin engga mungkin?

A: Ribet benerrr tanyanya, saya nggak nyentrik kok. Gini deh, artian nyentrik itu beda-beda ya buat setiap orang. Yang penting sih orang itu nyaman pas pake sebuah baju gitu. Sekeren apapun kalo nggak nyaman tetep keliatan nggak asik. Jadi bukan asal nyentrik tapi disesuaikan sama personality kan. Baju yang pake kamu? Apa kamu yang pake baju? Hayooo.

Q: Saya dong yang pake baju, eh baju yang pake saya kali ya. Tau deh pusing. Next, beberapa design kayanya agak rebellious buat ukuran men’s wear ya. Gimana tuh?

A: Rebellious nggak salah kan? Maksudnya gini, kain yang biasanya cuman dipake di women’s wear ternyata sah-sah aja dipake buat di men’s wear. Nggak ada yang tau juga kalau form nya udah kemeja atau celana panjang. Nggak salah kok kemeja cowo ada beadsnya atau pake lace yang penting kan nggak cewe banget.

Q: Lalu apa kabarnya batik? Gimana tuh nasib batik-batik anda?

A: Batiknya baik-baik aja kok. Malah semakin kesini batik-batik itu berevolusi, sesuai dengan selera masyarakat. Tau nggak, it always fun to work with batik. Nggak ada aturan khusus, mau diapain pun jadinya bagus.

Q: Ahhh pasti mahal dehhh rancangan situ..

A: Bisa dicek di toko sebelah haha. Enak aja. Ada harga ada barang dong. Coba aja liat baju ready-to-wear di sebuah gerai ternama, kemeja batik doang 1 juta. Kalo situ bikin sama saya harga segitu udah custom-design loh sesuai yang situ mau, ukurannya pas lagi.

Q: Malah promosi diaaa

A: Namanya juga anak marketing, eh tapi bener kannnn, gila aja kalo kemeja gitu doang 1 juta, mending buat di gue deh.

Q: Nggak ada yang lebih murah yaaa?

A: Ada dong, tapi lengennya sebelah doang, mau??

Q: Btw btw btw kan kain Indonesia nggak cuman batik, apa kabar yang lainnya?

A: Emanggg siapa bilang batik doang? Kita juga sering kok combine batik sama kain laen, misalnya tenun Palembang, atau kain dari luar pulau, tenun-tenun gitu.

Q: Udah mau abis nih waktunya, jadi apa dong rencana buat taon ini dan taon depan? Nggak eksis di JFW ya?

A: Hahaha pengennya eksis, situ dong sponsor. Mahal bener deh ikut JFW, kudu nabung dulu atau kejar order dulu haha. Nggak muluk-muluk deh, rencana jangka pendek brand recognition dulu aja, masih banyak yang nggak tau brand saya kan, maklum kepentok budget jadi promosi lewat twitter sama blog aja haha. Jangka panjang yaaaa pengennya bikin show sendiri, dikenal orang, dibanjiri order, jadi kapan situ pesen kemeja sama saya?

Q: Suwerrrr ini terakhir, gimana contact nya??

A: bisa email saya di linaandlim@yahoo.com atau silahkan ke website kita http://linaandlim.weebly.com atau cari di Facebook atau follow di twitter @lim_linaandlim atau cegat saya langsung kalo pas ketemu di mall ya. Hafal kan muka saya?? Tapi kalo di mall saya nggak pernah bawa meteran lhooo..

Read Full Post »

:: It’s very Jogja ::

Entah kenapa saya lebih betah kalau harus menghabiskan beberapa hari di Jogja daripada di Surabaya. Perjalanan ke Jogja selalu mengingatkan saya kunjungan tahun lalu ke Kyoto. Somehow I believe these two cities share the same vibes. Rumah-rumah kecil model kuno, orang-orang yang ramah, serta percakapan bahasa Jawa halus atau dikenal dengan istilah ‘kromo-inggil’ yang dulu hanya boleh digunakan di dalam lingkungan Kraton saja mewarnai setiap kunjungan saya ke kota ini dan senang sekali rasanya kalo bisa ngerti dan ngomong fasih (Saya termasuk yang ngerti tapi nggak bisa ngomong fasih, kecuali bahasa jawa ngoko – atau percakapan sehari2 ya).

DAY1: Terbang bersama Garuda Indonesia lagi, diputuskan untuk nggak perlu bawa checked-in baggage. Tepat waktu, service (yang mulai) konsisten dan tepat mendarat juga. Kali ini saya sekeluarga menginap di Santika Premiere Jogja. Nggak terlalu banyak yang berbeda di hotel ini setelah direnovasi beberapa bulan. Pengennya sih di Phoenix atau Novotel, tapi apa dikata kalau ternyata mereka fully booked. Setelah checked-in dan sebagainya, perjalanan dilanjutkan ke berburu batik di daerah Malioboro. Saya nggak ada toko khusus buat belanja batik, yang penting motifnya bagus, bahannya ok langsung aja bungkus. A little words dari saya: batik itu one of a kind, harus nggak ada kembarannya.

Makan siang hari pertama memang sudah dijadwalkan ke warung bakso langganan saya, nggak jauh dari rumah my late grandma (baca postingan sebelumnya “Jogja’s best kept secret). Perut kenyang, hati senang, pengennya bungkus sampe Jakarta. Setelah beristirahat sore di hotel, makan malam dijadwalkan di suatu restoran yang lumayan bersejarah. Di restoran inilah orang tua saya melangsungkan resepsi pernikahan mereka 30 tahun yang lalu. A sweet ending for day 1 (Not so sweet karena saya dipesankan jamu khusus obat batuk racikan rumahan dan emang terbukti manjur sekali minum).

DAY2: Hari ini kudu bangun pagi sekali. Tujuan utama ke Jogja mau ceng-beng-an, jadi nyekar ke kuburan my late grandparents. Kami sekeluarga menyempatkan diri untuk berkunjung at least setahun sekali. Selesai acara sembahyang, waktunya menikmati jajan pasar yang memang sudah dipesan khusus semalam sebelumnya. Tahu bacem, tempe bacem, tia-piang, kompiang dan lemper adalah item sarapan pagi itu. Ahhh pokoknya saya rela nggak makan yang lain demi tahu bacem (and the gank) yang ini.

Perjalanan dilanjutkan untuk berbelanja (lagi) pernak pernik ini dan itu. Nggak repot soal jalan, Jogjakarta adalah kota kelahiran my mum dan saya lumayan familiar karena sering kesini pas liburan sekolah dulu. Makan siang kali ini adalah di BALE RAOS, sebuah rumah makan spesial karena berada di lingkungan Kraton Yogyakarta, menu makanannya pun adalah resep asli yang biasa disuguhkan untuk para Sultan dan kerabatnya (lihat postingan sebelumnya: BALE RAOS). Selesai makan, mari lanjut belanja (lagi) dan dilanjutkan ke hotel untuk beristirahat. Makan malam terakhir saya udah lumayan kenyang, jadi cuman titip martabak manis (disini dibilangnya terang bulan) dan martabak telor (saya skip yang ini) terus makan di hotel. O iya termasuk juga tahu pong. Terus agenda nya adalah packing karena besok harus berangkat pagi sekali.

DAY3: Hasil perburuan di Jogja nggak semuanya bisa saya bawa pulang, akhirnya sebagian harus dikirimkan langsung ke Jakarta. Batik sekian potong, bakpia Merlino sekian dus, Gudeg Yu Djum sekian kotak, roti Trubus sekian potong. Beneran kaya mau pindahan rumah. Ahhh kapan ya ke Jogja lagi..

Read Full Post »

Older Posts »