Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2010

Sejujurnya udah beberapa kali saya liat restoran baru ini. Sekilas modelnya mirip dengan Loewy di Oakwood, warna hitam mendominasi mulai dari kursi, sofa, sampai ke serbet dan menu, semua hitammm. Siang itu emang nggak berencana makan disana, tapi pengen coba juga, jadi saya pun dengan pakaian seadanya (ada sendal jepit joger, ada tshirt yang biasa aja, ada celana pendek).. engga banget deh pikir saya, minder duluan, yang laennya aja eksekutip muda gituhhh ala pacificplace, belom lagi table saya di samping segerombolan tante juta (yang semuanya lebih dari sejuta harganya)..

Ternyata servicenya flawless.. si mbak mempersilahkan saya duduk, mau di luar atau di dalam. Kalau anda ready buat diliatin orang (atau ngeliatin orang) maka saya sarankan duduk di luar.. serasa jadi juri di fashion design competition gitu.. kalau anda mau leyeh-leyeh, saya sarankan duduk di dalam. Gelap-gelap gimana gituuu.

Baiklah, karena saya cuman berdua sama adik saya, dan mengingat itu adalah jam makan siang, maka pilihan appetizer pun jatuhh kepada Caprese. Irisan sundried tomato, ada yang nggak dried tomato, sama buffalo mozarella cheese yang bulet2 dan dingin!!! Saya suka ini, karena cheese nya  nggak pelit, dan ini emang yummy kalau dihidangkan dingin!! Pilihan kedua jatuh pada canneloni, tapi sayang sekali si mbak bilang canneloni dan ravioli ternyata lagi absen, jadi kita pilih grilled beef something2 gitu.. 220 gram. Saya pikir bakal sebongkah gitu, ternyata pas keluar si beef ini dipotong menjadi 3 bagian, dan dialasi salad plus mozarella cheese (lagi!!!). Well done di luar tapi tetap juicy di dalem, sama sekali nggak ada adegan berdarah-darah kali ini. Clean cut. Lalu, karena pada dasarnya sharing is caring and caring is loving, just like me and my sister, makan diputuskan untuk mencoba pizzanya. 2 Sizes yang ditulis di menu, standard atau family size. Ya tentu deh yang standard, ternyata pas dateng itu lumayang gede yang jadi 8 potong!! Nggak kebayang yang family size segede apa pizzanya. Lots of turkey ham, berasa banget olive oil nya and very thin crust!! Yummyyy. Saya nggak tanggung ya kalo anda ngiler sambil membaca blog saya ini. Kejunya juga nggak too much, just a right amount of cheese.

Dessert adalah godaan duniawi terbesar buat saya. Maka tiramisu – a classic choice yang menjadi benchmark sebuah italian restaurant menjadi pilihan saya. Plus fruit pie yang dalam bayangan saya akan membuat hidup menjadi lebih berasa dan berwarna karena buahnya warna warni. Jangan anda bayangkan tiramisu yang porsi imut2.. yang ini lumayan generous untuk 2 orang, rasa coffee nya sangat mendominasi dan nggak terlalu banyak cream cheese. Harus dicoba. Fruit pie nya pun ternyata beneran membuat hidup saya lebih berasa, berasa keras maksudnya, karena basednya agak keras jadi harus berjuang untuk memakannya. Good thing doesnt come easy!! Masih agak terlalu manis menurut saya, tapi ya bolehlah.. not the best i have eaten so far. All in all, kalau suatu saat anda ke PP coba deh makan disini, tapi kalo anda nggak sempet, yaaa silahkan dinikmati ya gambar2 berikut ini. Satu lagi, jangan salahkan saya kalau ternyata keyboard anda mulai basah.

Advertisements

Read Full Post »

Anda pernah terbayang nggak sih orang yang tiba2 banting setir atau setidaknya mencoba sesuatu yang lain, di luar kebiasaan dari profesi nya?? Tapi yang agak ekstreme gitu.. Beberapa waktu yang lalu saya ditawari sebuah kolaborasi TF (trade-for) jadi kerja bareng, dimana nggak ada bayar2an, yang penting semua dapet hasilnya, you happy i happy-lah istilahnya. Yang biasa ngerjain konstruksi terus tiba2 jadi photographer.

Pada dasarnya seorang photographer yang biasanya foto2in gedung, terus baru belakangan mencoba sesuatu yang baru yaitu fashion photographer, didukung dengan seorang assistant yang serba bisa (Dari ngatur lampu, sampe beli nasi padang buat makan siang), lalu seorang make up artist yang sangat humble meskipun udah beberapa kali make up in kanvas-kanvas kondang dan beberapa kali nongol pula di majalah. Plus 3 orang model yang nggak kalah lah sama model-model bule itu, malah belakangan saya baru tau kalau salah satu dari mereka itu emang udah lumayan tinggi jam terbangnya. Model buat JakartaFashionWeek, model buat video clip ini dan itu, model buat iklan ini dan itu, belum termasuk yang foto2 doang. Amazing. Kalau mereka bisa bekerja dengan seluruh hati, saya juga nggak boleh kalah dong.

Hari yang cerah itu saya emang bangun extra pagi, supaya bisa siap2in semuanya, terutama ya bajunya. Total hari itu saya merasakan gimana jadi seorang designer plus stylist yang bajunya dipinjem untuk sebuah sesi pemotretan. Cape dan melelahkan, tapi super fun!! Berikut ini cuplikannya:

Please come and join our Facebook page here!!

Read Full Post »

Ini bukan ajang pemilu ya, tapi sesuatu yang menyatakan bahwa hidup itu adalah sebuah pilihan. Life is about choices. Kayanya bukan choices yah, tapi lebih ke choosing. Coba deh anda pikir, dari anda kecil pun anda pasti udah disuruh memilih kan, mau permen atau mau ice-cream. Kadang pun cuman boleh milih satu, kalo udah permen ya permen aja, kalo udah ice-cream ya ice-cream aja, sukur-sukur kalo bisa dapet dua-duanya yang kayanya nggak mungkin. Saya mendingan ice-cream dong nikmatnya lebih lama, daripada permen, belom 5 menit juga abis kan. Mungkin sebenernya kita dididik ya untuk nggak serakah dengan pilihan-pilihan itu. Mau permen, mau ice-cream toh rasanya semua sama-sama manis. Tapi kadang kita juga jadi kalap, mau semuanya. Dididik bahwa sebuah pilihan itu harus mengorbankan lainnya.

Pernah nggak anda mikir, kalau diberi pilihan itu enak, misalnya pas anda lagi ngerjain test, terus ada multiple choice, salah satu dari a, b, c, atau d itu adalah jawabannya. Anda tinggal silang atau lingkarin aja mana yang bener. Jadi ibaratnya salah satu itu punya 25% untuk dipilih, kecuali kalau salah soalnya ya. Balik lagi, anda akan lebih seneng kan kalo ditanyain, mau pake gula atau engga, mau merah atau putih, mau french fries atau mashed potatoes. Ujung-ujungnya kalau anda nggak tau jawabannya pun, ya udahlah maen feeling aja atau itung kancing. Kira2 mana yang masih nyambung atau nyerempet-nyerempet dikit, sukur-sukur bener kan.

Cuman sadar atau engga, dibalik semua pilihan anda itu ada konsekuensinya. Ibaratnya anda nggak mungkin dalam suatu saat nggak mengorbankan salah satu untuk pilihan anda tadi. Kalau jawaban anda A, berarti anda mengorbankan B, C, dan D. Plus ditambah embel-embel belom tentu jawaban anda tadi bener. Kalau anda nekat untuk memilih semuanya, yang ada malah salah kan. Padahal tadinya anda mau cari aman aja. Mungkin sama aja kali ya, kalau cari pendamping hidup. Si A kurang ini, si B kurang itu, eh siapa tau si C, tapi kalau ternyata si C salah gimana? Hayuluuuu. Pilihan anda, semua adalah pilihan, dimana anda nggak mungkin bisa milih ABCD. Kalau ABCD digabung mungkin jadi idaman anda, tapi nggak mungkin kan.

Saya juga bisa milih nih mau tulis asal-asalan tiap hari, atau tulis sesuatu yang siapa tau eh bisa jadi sumber inspirasi buat oranglain, tapi perlu beberapa malam buat semedi, sebelum akhirnya dirumuskan di blog ini. Kembali ke pilihan2 itu, kadang juga ada kalanya dimana pilihan itu nggak ada yang sreg satupun. Abis gimana dong? Daripada nggak milih kan. Berapa kali coba anda dengar kalimat kaya “Elo sih milih-milih.. Cari yang kaya apalagi sih?”.. Ada 2 hal, pertama, emang kita berhak memilih kan kalau urusannya buat sampe akhir umur. Kedua, memilih itu gak salah, meskipun tetep ada hal-hal yang harus dikorbankan. Nggak sesuai, tapi ya udahlah.

Sampai disini saya mencoba menyakinkan anda bahwa life is about choices. Masa depan anda itu anda sendiri yang menentukan, anda mau jadi kaya gimana besok, lusa, minggu depan, bulan depan. Kalau anda bilang nasib di tangan Tuhan mungkin bener juga yah, tapi anda jangan sampai salah pilih aja. Intinya, anda berusaha, terus berdoa deh tuh sama Tuhan, inget ya Tuhan bukan buat disuruh-suruh, kalau pilihan hidup anda benar terus anda akan hura-hura, tapi kalo ternyata salah terus anda marah-marah. Coba deh dipikir lagi, is this life that you wanted? 🙂

Read Full Post »

Maksud saya abis world cup fever. Saya sih nggak pernah jadi fans WorldCup dari dulu. Waktu temen-temen saya pada begadang demi satu-satunya goal, kalo saya mendingan tidur daripada besok jalannya melayang laksana mbak Kunti kan. Terlebih dari itu saya nggak pernah juga tau dimana fun-nya maen sepak bola. 2 regu, 11 orang, plus wasit, terus memperebutkan 1 bola, dioper kanan kiri, yang akhirnya menimbulkan teriakan GOALLLLLLL.. kira2 jam 3 pagi buta waktu Jakarta.

Fenomena baru semenjak WorldCup kali ini. Saya sempet liat spanduk Indonesia mencalonkan diri jadi tuan rumah 2022?? Ouuu yeahhhh!! 2022, kalo masih ada yang inget ya Indonesia pernah mau jadi tuan rumah WorldCup. Terus apa kabarnya stadion Senayan? Lalu apa kita panggil aja Inul buat gantiin Shakira? Beda-beda dikit lahhh yang penting kan bisa goyang-goyang juga. Terus theme song nya nggak perlu musisi luar yang bikin, Indonesia punya orang-orang berbakat, penari2 juga tinggal panggil, mau yang kurus, yang gendut, yang setengah kurus, setengah gendut, yang narinya kering, basah, setengah basah, sampe yang mblenyek juga ada!! Keren kannnn.. tapi itu nantiii 2022, masih 12 taon lagiii..

Berikutnya selama WorldCup ini kayanya emang harus memperhatikan jadwal pertandingan. Kenapa begitu? Karena berpengaruh ke jalanan dan lalu lintas. Pernah suatu ketika mulai jam 9 kan, jadi kayanya orang2 pengen berlomba2 duluan sampe rumah, biar bisa mandi dulu, makan dulu, jam 9 tengggg duduk manis di depan TV sambil siap buat jerit-jerit, atau BB di tangan supaya update teruss beritanya. Itu macetnya dimulai even sebelum jam keluar kantor. Hebattttt!!

Lalu fenomena si gurita yang kalo ramalannya bener dipuja-puja laksana dewa, tapi sekalinya salah siap2 aja dijadiin takoyaki atau dimasak jadi sushi. Aneh2 aja ya, prediksi dari si gurita. Nggak tau deh ternyata setelah si Spain menang apa si gurita itu masih idup? Atau sengaja dipelihara buat next WorldCup? Atau udah dirajang dan diiris-iris buat isi takoyaki.. hmmm.. yummyyyyy.

Terus setelah fever ini berakhir.. keadaan kembali ke normal lagi, pulang kantor nggak perlu buru-buru, masuk kantor nggak perlu berjalan melayang lagi, mata pun masih seger, bukan yang cuman tidur sejem 2jam hanya demi nonton bola. Amazing!! Terus kalau anda masih belom puas dengan fever yang kali ini, coba aja setel si Shakira, terus joget-joget tsamina mina waka waka ey eyyyy.. This time for Africa.. Berdoa aja suatu saat nanti lyricnya jadi This time for Indonesia.. kepanjangan yaaa? Ya kalo this time for Jakarta, nanti daerah laen iri dong, kok tiap kali Jakarta jadi anak kesayangan terus.. Indonesia deh biar semuanya dapet.. suatu hari kan.. nggak tau kapan.. Amin..

Read Full Post »

Saya nggak inget deh sejak kapan ada Jakarta Great Sale.. Yang saya inget, slogan Jakarta yang kurang lebih “Enjoy Jakarta”. Menurut saya tag line kaya gitu agak kurang catchy ya.. Dibanding tag line “Indonesia – Dangerously Beautiful”, – dangerous tapi beautiful – entah cuman hoax atau tag line itu beneran ada.

Ya, Jakarta Great Sale (JGS) yang bertujuan untuk apalagi kalo bukan belanja-belanja, mungkin untuk mengembangkan angka economic growth juga ya. Tapi menurut saya, meskipun nggak ada sale pun, orang kita kan emang tetep suka belanja. Bahkan temen saya bilang, belanja itu merupakans stress relieve, bisa bikin orang seneng kalo keluar mall sambil nenteng sesuatu, kalo kata hati saya, kaya anak monyet nenteng setandan pisang mateng. Cihuyyyy.. “Elu keluar mall tanpa nenteng sesuatu tuh pamali banget” begitu katanya suatu ketika. Saya sendiri hampir tiap kali keluar shopping malls pasti nenteng sesuatu kok, apalagi kalo bukan gym bag saya.

Sale sampe 70%, atau discount tambahan kalo menggunakan credit card tertentu. Tapi pada dasarnya ya itu tadi, let’s go shopping. Cuman apa yang kurang ya? Saya kok kaya nggak nangkep ‘geregetnya’ gituh. Beda sama acara serupa di negara tetangga! Bahkan beberapa kali pasang iklan di harian nasional sehalaman!! Bayangkan niat banget kan tourism boardnya. Dari sinipun bisa diliat betapa seriusnya mereka untuk menarik sebanyak2nya orang2 yang suka berbelanja buat invest disana.

Orang mereka pun mengakui, kalo orang Indo gila shopping. Ya, kalo emang lagi buru2, nggak perlu nginep, jadi pagi berangkat, belanja, makan siang, belanja lagi, makan malem, (masih tetep belanja lagi di DFS Bandara sambil nunggu boarding) langsung berangkat balik Jakarta (mungkin pun masih belanja di pesawat) . Ahhh kapan ya saya bisa begitu.. Sebenernya kalo dipikir-pikir, mereka menawarkan lebih dari semua itu. Nggak cuman barang2 yang susah didapat disini (ataupun udah ada disini juga), tapi iming-iming GST Refund untuk turis, yang notabene membuat semua menjadi lebih murah (kayanya). Dengan perencanaan tata kota yang mateng, kita nggak usah takut keujanan (Ataupun kebanjiran), karena semua shopping malls nembus, lewat underpass. Nggak usah repot. Coba deh anda bayangkan, di Jakarta sendiri, dari Senayan City ke Plaza Senayan kudu nyebrang jalan, begitu pun dari Plaza Indonesia ke Grand Indonesia. Alesannya simple, karena mereka beda management, malah mungkin saling bersaing untuk mendapat crowd. Setau saya di Singapura sendiri management tiap shopping malls juga beda-beda, tapi mereka bisa tuh membuat win-win solutions untuk semuanya. Dari segi jiwa pembelanja, lebih gampang toh, nggak usah repot, counter GST refund pun dimana2.. mau belanja tinggal gesek, sampe airport tinggal claim in cash or credit card. Disini? Kayanya belum seperti itu ya.

Belum lagi nih, kemaren saya liat iklannya, salah satu budget airline yang berbasis di Singapura itu ikut menawarkan 50% dari harga tiket biasanya, jadi Jakarta-Singapura cuman USD20.. siapa yang nggak ngiler coba.. Buntut-buntutnya ya ditulis lah di iklan itu Singapore Great Sale.. bener-bener sebuah iming-iming untuk berbelanja disana bukan. Belum lagi beberapa minggu yang lalu, mereka terang2an menawarkan discount card untuk turis asing, tinggal di print, terus dibawa belanja, terus anda dapet discount deh.. di Indonesia? kayanya belum sampe segitunya ya. Seorang teman saya yang biasa mengunjungi Pekan Raya Jakarta (PRJ) malah ngomel2.. katanya discount 70% tapi ya tetep aja harganya udah di ‘mark-up’, atau beneran discount tapi kaya nggak rela.. U know nggak rela? Barangnya yang udah nggak manusiawi gitu lah, atau tetep discount 10% (dengan minimum pembelian 1 juta rupiah).

Kalau disimpulkan, tiket maskapai yang manusiawi, GST refund in cash, deretan toko2 ternama (dengan keluaran terbaru dan dengan stock lebih banyak tentunya), plus underpass yang nggak usah takut keujanan (atau kebanjiran), visitors discount card yang bisa di print sendiri (dan langsung bisa dipake), plus penawaran2 special untuk credit card keluaran regional, kurang apalagi?? Jadi kapan nih kita ke Singapura?? (mumpung masih SALE!!)

Read Full Post »