Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2010

Join our fanpage in FB by clicking here!!

Advertisements

Read Full Post »

 

 

 

 

 

 

Post saya yang terdahulu tentang awfully chocolate di Jakarta bisa dilihat disini. Yang membuat saya nggak puas, karena di gerai yang di Jakarta, tulisannya “coming soon” semua, tapi nggak pernah dateng setelah beberapa tahun buka disana juga. Bahkan si chocolate ice-cream yang saya tunggu-tunggu pun nggak kunjung hadir. Jadi agak lumayan bosen dengan menu yang itu-itu aja.

Ketika saya di Singapura kemaren ini, berhasil menemukan awfully chocolate di ION Orchard dengan pilihan cake yang lebih bervariasi. Letaknya di Food Republic tapi udah di ujung deket escalator. Concept minimalist tetap diusung, tapi siapa yang nggak tergoda liat dark chocolate and white chocolate cupcakes lagi dadah-dadah di displaynya dan dengan seksinya menggoda anda? (dan saya tentunya).

Belum lagi si ice-cream yang ternyata cuman 2 rasa, either chocolate, atau 1 lagi apa ya, kalau nggak salah white chocolate something ice-cream, relakan coins anda seharga SGD3.80 dan anda udah dapat menikmati si chocolate ice cream ini. Teksturnya was very rich, jadi kaya chocolate yang diparut, terus dijadiin ice cream. Yummy!! Saran saya cukup 1 scoop aja, 2 is a little bit too much.

Dari semuanya yang pastinya menggoda saya adalah si Butterscotch chocolate log cake, yang dijual per 100 gram, kurang lebih seharga SGD6.50an, itu nggak pernah saya temuin di Jakarta. Chocolate cake yang biasa nya juga ada, tapi dijual per 100 gram juga. Kalau anda berniat membelinya seloyang utuh, dipatok di harga SGD25.80. Demi si butterscotch ini saya rela menentengnya sampai ke kamar hotel dan menjaga supaya nggak sampe ancur creamnya.

Pas dibuka, voila, ini kue kok banyak banget creamnya, wangi caramelnya sangat semerbak, dan terpadu dengan si chocolate sponge cake. I am not a big fans of cream, jadi cream itu saya pinggir2in, tapi pas mencoba.. ehhh kok ternyata creamnya enak!! nggak kaya whipped cream biasa, tapi ada rasanya. Lupakan diet, 100 gram kan dibagi beramai-ramai, so you should share the guilts next time!! Kalau anda sekarang lagi di Singapura, atau berencana kesana, coba deh cari si kue coklat yang awfully ini di ION Orchard, ada beberapa cabang lainnya tapi saya rasa paling gampang dicari yang di orchard. Happy Hunting!!

Read Full Post »

Sebuah cake maharasa yang memang dikenal dari jaman dulu kala, bahkan nickname nya pun emang beneran ada di belahan dunia sana. Forest yang memang ditumbuhi pepohonan lebat, lalu buah dari pohon yang berjatuhan itulah yang kemudian diselipkan ditambahin ini dan itu, and voila jadilah si black forest ini atau kerennya ‘Forest Noir’.

Di Jakarta sendiri saya sempat icip2 beberapa black forest, mulai dari si Holland Bakery yang dulunya enak terus nggak tau kenapa sekarang jadi nggak enak, sampai yang hotel bintang 5 sampai outlet restaurant asal luar negeri ternama. Semuanya menurut saya lho ya, biasa aja. Enak sih, tapi nggak bikin kangen. Jadi pada dasarnya, makanan enak tuh banyak, tapi yang ngangenin cuman beberapa aja. Yang bikin saya atau anda rela menghabiskan waktu lembur di gym untuk olahraga lamaan demi asupan calories mahadashyat.

Lalu sampailah saya di negeri tetangga, tepatnya di bilangan Orchard Road, lebih specific lagi di Paragon, di bawah, sebelah market place (nggak sebelahnya persis tapi sederetan) tersebutlah di ujung sebuah apa ya, restoran bukan, cafe juga bukan, kaya tempat jualan gitu lah. Dengan interior putih2 terus display panjang yang mengumbar nafsu duniawi, soalnya semuanya keliatan enak. Sebenernya bukan yang pertama kali saya kesini, blueberry scones itu adalah tambatan hati pertama kali, terus sempet juga cobain sliced pizza nya, beberapa rasa, agak mahal untuk ukuran per slice, but trust me, it makes you beg for more. Anyway, di sebelah kanan ada display kue tentunya (Ahhh, I am having such a sweet tooth!!).

Tiramisu, Lemon Crumble, Blueberry Cheesecake, Black Forest, Flour-less Chocolate Cake, Triple layered Chocolate Cake, dan cake-cake lainnya menjadi penunggu setia disini. Beberapa sudah saya coba, rasanya emang enak tenan, tapi meskipun keliatannya kecil di box, lumayan buat sharing ber 4 (atau ber 1 buat anda sendiri). Anda cukup merogoh SGD7.50 sampai SGD8. Kalau ukuran kecil nya nggak bisa memuaskan anda, coba deh beli yang agak gedean dikit sekitar SGD11-15 kalo nggak salah, tergantung jenis kuenya. Saya jamin begitu anda ketemu sama mereka, anda lupa deh program diet anda. Sesaat dibuat mabuk kepayang!! O iya saya lupa, di rak sampingnya ada beraneka ragam salad, plus lasagna, plus ini dan plus itu yang siap di bawa pulang. O iya saya lupa, scones nya harus dicoba tuh!! Satu lagi, saya janji deh satuuu lagi aja, jangan lupa cobain lemon butter cake!! Ahhh untuk meyakinkan anda, ini dia fotonya si black forest itu!!

Read Full Post »

:: Raisin Noir ::

Anggur yang ini memang sangat hitam. Sebenernya warnanya ungu pekat, tapi kalau dari jauh memang keliatan hitam. Namanya aja raisin noir yang berarti black grapes atau anggur hitam. Dengan kulit yang tipis, rasa yang sangat manis nggak kaya anggur biasanya anggur ini mampu membuat anda ketagihan termasuk saya. Nggak berasa tiba2 abis 2 genggeman tangan. Teksturnya tetep crunchy dan the best of all: seedless alias nggak ada bijinya!! Once u start, u will never stop!!

Kalau anda masih penasaran, coba deh cari di supermarket terdekat, Ranch Market, Food Hall atau Kemchicks harusnya punya. Yummyyy.. Bagi saya ya jangan lupa!!

Read Full Post »

Ini dia yang dinanti-nanti setelah sebulan lebih hampir dua bulan. ‘The Edge of Batik’ diinspirasi dari ‘edge’ itu sendiri yang berarti sudut. Jadi kali ini detailsnya ada di bagian kerah, lengen (yang runcing ujungnya), dan aksen batik di bagian kantong kemeja. Sebenernya di belakangnya masih ada, tapi nggak keliatan di fotonya. Satu lagi, karena Jakarta masih sering ujan, kayanya mega mendung will do the rest of the work!

For more collection please click our fanpage in Facebook!! or http://linaandlim.weebly.com

Read Full Post »

Kolektor itu simpelnya seseorang yang suka mengoleksi.. bisa apa aja, mulai dari koin, perangko, atau mungkin pacar juga bisa ya. Karena saking maha harganya si koleksi-koleksi, semakin susah didapet, semakin susah dicari, semakin tinggi gengsinya kan kalo ternyata sang kolektor berhasil membawanya pulang. Semakin banyak koleksi yang ‘limited edition’ atau ‘special edition’ maka akan semakin termashyur lah si kolektor itu.

Kalau memang begitu adanya, ternyata memang rakyat negara ini bisa dibilang kolektor visa. Mau kemana-mana kudu pake visa. Semakin susah dapetin visanya, maka semakin naik lah pasarannya. Apalagi dikategorikan dengan single dan multiple entry. Apalagi dikategorikan dengan 1 tahun atau 5 tahun sekaligus. Macem-macem orangnya, maka macem-macem pula jenis visanya. Mau ijo muda, biru muda, pink, abu-abu? Mau pake foto gede, kecil, cap kanan kiri, semua ada bentuknya.

Jadi gimana ya ini hubungan diplomasi negara ini ke negara-negara lain? Kalau memegang passport Indonesia yang nggak pake visa cuman ke ASEAN countries plus Hong Kong. Kabar terakhir kalau ke China bisa visa on arrival. Lalu apa kabarnya warga negara bule-bule itu ketika berkunjung ke Indonesia? Majority bisa kok dapet visa on arrival. Kenapa kita nggak bisa ya? Kenapa nggak bisa ngantri visa on arrival ketika ke Schengen countries? atau ketika anda mendarat di Heathrow? Alangkah indahnya dunia kalau nggak perlu fotocopy surat macem2 untuk dibawa ke kedutaan, belum lagi pas foto ukuran beraneka ragam, background macem-macem hanya untuk sebuah VISA.

Masih inget pertama kali saya mengurus student visa pas akan berangkat sekolah di Perth back in 1998. Pake akte ini akte itu, rekening koran ini dan itu, plus surat deposit kalau ada, surat sponsor dan lain sebagainya. Ini jelas-jelas tujuan saya kesana untuk sekolah, pake surat dari sekolah juga bahwa saya sudah resmi diterima menjadi muridnya. Apa karena orang Indo suka menyalah gunakan visa? Dari pelajar lalu berubah predikat menjadi pekerja? Mau ngurus visa untuk anggota keluarga juga sama aja ribetnya.

Ketika melanjutkan kuliah S2 di London, UK, kayanya jumlah surat yang diminta nggak sebanyak ketika mau ngurus visa buat ke Australia. Malah pertama kali minta visa untuk survey tempat kuliah dan lain-lain yang dikategorikan sebagai ‘Holiday Visit’ saya diberkahi dengan visa 1 tahun untuk multiple entry, dan nggak perlu cape-cape antri panas-panas seperti yang sering anda liat di sebuah kedutaan terkenal di Jakarta.

Yang saya heran, waktu saya masih di London dan berniat liburan ke negara-negara Eropa lainnya, maka saya harus membuat Visa lagi yang khusus untuk Schengen countries itu. France, Italy, Germany adalah negara-negara yang selalu rame tourist, jadi di kedutaannya pun selalu ngantri. Malah lebih ribet dengan sistem antri online, nunggu panggilan dan sebagainya. Akhirnya saya putuskan lah untuk apply di kedutaan Sweden. Negara Schengen yang nggak ribet prosedurnya, nggak ada antrian lagi di kedutaannya. Tapi konsekuensinya saya harus terbang ke Sweden dulu sebelum melanjutkan ke negara-negara Schengen lainnya.

Di kedutaan itu terpampang negara-negara dan diperjelaslah kastanya. Kalau Malaysia bisa mendapatkan visa dalam 3 hari kerja, Singapura nggak usah pake visa, maka Indonesia di sub-class terakhir dengan 5 hari kerja untuk sebuah visa. Yang membuat saya terkejut, kita itu disejajarkan dengan negara2 seperti Aljazair, Afghanistan dan yang kaya gitu2lah. Padahal kayanya kita nggak sebegitunya deh. Untungnya dengan status saya pelajar disana, maka surat2 yang diminta pun nggak terlalu ribet. Pas visa itu keluar dengan suksesnya, rasanya kaya dapet hadiah apa gitu. Mungkin anda pikir agak lebay ya, tapi begitulah kenyataannya.

Jadi kalau pada saat ini anda mikir udah berapa banyak visa yang anda koleksi di buku passport anda (atau malah ada yang termasuk daftar ‘coret’), kayanya anda harus bersyukur bahwa koleksi anda semakin banyak. Semakin tinggi jam terbang anda maka konon katanya semakin gampang juga bikin si visa itu keluar. Visa oh Visa, kenapa sih kamu ribet banget dapetnya? Atau anda malah  berniat mendapatkan visa limited edition yang mungkin cuman ada 100 di dunia?

Read Full Post »

:: Merajai Raja ::

Saya sepertinya harus sangat bersyukur kalau ternyata saya dididik di lingkungan keluarga yang memang ‘njawani’ banget. Bahkan di rumah pun harus pake ‘unggah-ungguh’, meskipun mama saya adalah seorang yang modern dan nggak terlalu konservatif, tapi dia selalu menekankan kalau aturan itu harus dipakai, dimanapun kita berada, sama siapapun kita dealing with. “Pokoknya kalo orang punya aturan itu pasti bakal diajeni sama wong lio” begitu katanya suatu hari. Jadi intinya kalau kita punya aturan, kita pasti gain respect dari orang lain.

Masih inget suatu ketika makan malam bersama beberapa teman, terus ketika pesenan kita udah pada keluar termasuk saya punya, tinggal punya si A itu yang nggak keluar2, dia dengan gaya yang sangat arogan memanggil si mbak, terus ngomong pake nada tinggi ‘mana punya saya, saya pesen kan nggak pake lama, ini temen2 saya punya udah keluar semua’, dan terus terang itu membuat suasana jadi agak gimana gitu, apalagi kalo ngeliat ekspresinya. Emang ngga bisa ya ngomong dengan nada yang biasa aja, toh si mbak juga pasti langsung cek ke belakang. Emang ngga bisa ya kalo nggak protes dan sebagainya, kecuali kalo emang udah ditanyain beberapa kali terus emang pesenan itu nggak keluar2. Padahal si temen saya itu termasuk kaum yang harusnya berpendidikan loh, nggak nyangka aja bisa berkelakuan seperti itu, biar gimana pun si mbak juga manusia kan, yang harusnya dihargai, bukan dikasari dengan kata2 kaya gitu. Toh nggak lama setelah itu pesenannya keluar, dan si mbak tetep dengan ramah nganterin pesenannya, ya siapa suruh juga pesen yang agak rempong, resiko juga kalo keluarnya belakangan kan. Masih dalam batas yang bisa ditolerir menurut saya dan emosi kan bukan jaminan semua masalah bisa selesai.

Kejadian lain seorang tante dengan tentengan harga selangit, yang saya yakin cuman ada beberapa piece di seluruh dunia, makan siang yang ealahhh ternyata mejanya ditaro di sebelah saya. Mungkin ini cara Tuhan mengingatkan saya ya supaya nggak kaget kalau ternyata ada orang-orang kaya gitu hidup di dunia. Namanya juga rumah makan yang sederhana di sebuah mall, bukan yang fine dining atau apalah, si tante dengan rempongnya meminta kursi yang ada sandarannya, plus sebuah kursi lagi buat tentengannya itu. Untunglah setelah semuanya dipenuhi dia tersihir dengan lezatnya ketoprak yang dipesannya. Anda atau saya juga nggak tau ada apa di dalem bumbu ketoprak itu sampe dia langsung diem dan makan sampai habis.

Pembeli adalah raja, tapi bukankah seorang raja itu harusnya nggak semena-mena, harus adil dan bijaksana, apalagi kalo hidup di lingkungan kerajaan ya yang penuh protokoler dan aturan ini dan itu, harusnya tau dong ya gimana cara memperlakukan orang dengan lebih manusiawi. Akankah lebih indah kalo pesenan itu ditanya dengan sedikit senyum, dan nggak usah pake suara yang membuat orang sekitarnya menengok ke meja saya. Sejak itu pun temen saya yang lain selalu mengingatkan ‘elo jangan kaya gitu ya’. Ya iyalah, di rumah pun saya sejak kecil dibiasakan pake kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’, bahkan sampe sekarang.

Intinya memperlakukan orang lain dengan penuh hormat kaya sebagaimana kita mau dihormati kan. Nggak perlu jalan pake dengkul, nggak perlu ngomong pake membungkuk, tapi nada bicara yang biasa aja, terus bersikap apa adanya juga udah menjadikan segalanya lebih baik kok. Kan tiap hari kita jadi Raja, kita beli makanan, belanja ini dan itu, intinya kita adalah raja yang harus dihormati. Tapi kudu tetep menghormati rakyatnya kan, atau raja2 negara tetangga, bukan bisa semena-mena memperlakukan orang hanya karena profesi nya atau tuntutan profesinya nggak seberuntung kita. Kalau sampai baris ini anda manggut-manggut tanda setuju, cuman ada 2 pertanyaan buat anda, apakah selama ini anda udah berusaha menghormati orang lain seperti layaknya anda mau dihormati? atau anda adalah raja mutlak yang ndableg dan nggak bisa diomongin, selalu merasa kasta anda lebih tinggi dari orang lain?

Read Full Post »