Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘In campus’ Category

:: Time flies ::

Saya terkejut juga ketika seorang teman saya meng-upload lalu meng-tag sebuah foto. Saat itu kami sedang foto kelas, masih cupu semua tampangnya. Kelas 4SD yang harusnya sekitar umur 9-10 tahun jadi kira-kira 18 tahun yang lalu. Dari beberapa tampang, saya masih inget sebagian besar di antaranya, tapi agak2 lupa juga siapa yang di kanan, di kiri atau di belakang. Saya sendiri masih bulet, bunder, nggak keliatan lehernya. Untung ya hari gini ada media kaya Facebook atau Twitter ataupun social media lainnya, dimana kita bisa stay in touch satu dengan yang lainnya or start searching.

18 tahun setelah kebandel2nya anak SD eh pas ketemu lagi udah hampir nggak ngenalin. Ini terjadi sama saya pas tempo hari lagi jalan-jalan di sebuah mall, terus kayanya liat ini cewe mukanya familiar, nggak berani nyapa sampe cewe yang dimaksud melenggang. Setelah saya inget-inget yap, dia adalah salah satu teman saya pas SD dulu. Ah dia nggak inget saya juga, tapi kayanya kaget juga ya ketemu begitu aja.

Yang dulu badungnya bener-bener badung, eh sekarang malah jadi seorang motivator yang melakukan penyuluhan2 di sekolah-sekolah swasta. Yang dulunya sering gak naik kelas ternyata sekarang jadi pengusaha yang (harusnya) lumayan doing well. Yang dulunya maen kartu di kelas sampe dihukum itu kartu ditempelin di jidat sekarang udah jadi mama tuh buntutnya nggak tanggung-tanggung 4! Yang dulunya jago olahraga, bintang basket, tukang karate eh sekarang perutnya balapan deh ke depan. Not forgotten yang dulu langsing juga ada yang sekarang bunder, begitu pun sebaliknya. Yang tetep bunder atau jadi lebih bunder juga masih ada. Kalau sekarang anda udah mulai mikir sambil senyum-senyum gak jelas o iya gimana ya kabarnya si itu, eh temen sebangku saya kemana ya, eh siapa ya yang dulu pinjemin saya buku, atau pernah gak sih dihukum bareng dijemur di lapangan rame-rame, then it’s time to search for them now.

Time does flies dan nggak ada yang lebih menyenangkan other than catching up with old friends. Don’t you think so?

Advertisements

Read Full Post »

:: Masa orientasi ::

Sudah beberapa kali pas nggak sengaja lewat di sebuah perguruan tinggi ternama, terus di halaman depannya ada anak2 baru yang lagi ospek katanya atau masa orientasi. Saya udah nggak kaget tuh kalau mereka diharuskan pake atribut layaknya billboard berjalan, rambut dikuncir kanan kiri depan belakang, terus masih pake seragam SMA asalnya, dan atribut lainnya. Sama sekali nggak banget deh. Inikah yang disebut masa orientasi? Orientasi apaan? Tujuan dan gunanya? atau lebih nggak banyak bergunanya? begitu batin saya. Kalau misalnya dalihnya itu untuk memupuk kebersamaan, toh abis orientasi juga menghabiskan sekian tahun bersama. Kalau dalihnya untuk mengakrabkan diri, toh abis orientasi juga masih berantem dan tawuran. Jadi?

Saya jadi inget dulu ketika saya baru mau masuk SMA. Betapa repotnya ya setelah paperwork isi formulir ini dan itu, terus ngurus pembayaran, harus bawa balik lagi bukti pembayaran itu dan sebagainya, padahal SMP dan SMA saya itu satu yayasan. Kerepotan itu nggak terjadi hari itu aja, tapi di hari-hari berikutnya. Tas dari karung semen (yang kudu diwarnai dengan di bleach sesuai warna kelompok), papan nama segede billboard (yang kadang harus disambung pake rantai bekas kaleng marie regal), plus perlengkapan upacara yang kudu standby di tas setiap hari.

Itu belum seberapa dibanding menu makan siang yang agak nyeleneh. Ya, kita diharuskan membawa makan siang sendiri. Mulai dari telor mata sapi yang matanya jereng (kuningnya dempetan di tengah), buncis 3cm sebanyak hari lahir anda, atau keripik ikan teri yang matanya ngadep ke kiri semua. Yang repot nggak cuman yang sekolah, orang rumah pun dibuat repot untuk berburu pisang dempet pagi2 di pasar atau mengecek salak yang beranak dan jeruk yang punya baby. Terus ini dibuat dengan tujuan supaya tahan banting selama tahun ajaran? Kayanya nggak berhubungan sama sekali ya. Belum lagi benda2 aneh yang harus dibawa setiap hari, seperti jarum pentul yang ujungnya kotak?

Saya beruntung sekali untuk bisa melanjutkan sisa masa SMA saya ke luar negeri sampai menyelesaikan bachelor dan master degree saya di luar. Pada kenyataannya di luar itu sangat berbeda dengan yang disebut masa orientasi. Orientasi itu ya beneran orientasi, masa pengenalan. Murid-murid baru beserta orang tua atau wali akan dikumpulkan di sebuah tempat pertemuan. Dimulai dengan pengenalan siapa yang in charge di department apa, lalu beberapa guru senior, lalu dibahaslah pathway atau sistem pembelajaran. Jadi dikasih tau subject ini isinya apa, apa aja yang bakal dipelajari, apa aja sistem evaluasinya, apakah 100% coursework, apakah ada written exam? Terus kapan aja hari liburnya, termasuk tanggal2 penting di kalender akademis. Setelah itu semua akan diajak berkeliling kampus, plus informasi2 penting lainnya seperti gimana caranya kalau mau ganti subject, ketemu siapa kalau mau beli kartu buat fotocopy, harus kemana kalau mau tanya-tanya soal tempat kost atau boarding house. Semua dijelaskan secara terperinci. Then it was a wrap!! Beres masa orientasi. Besok mulai kuliah sesuai timetable masing-masing. Bukankah ini jauh lebih penting?

Balik lagi ke masa awal SMA, pake disuruh joget dan nyanyi gak jelas di depan senior hanya untuk sebuah tanda tangan. Itu harus terkumpul sekian ratus tanda tangan dalam beberapa hari. Kalo nggak terkumpul gimana? Ya dihukum lah. Belum lagi acara dimarah2in tanpa sebab yang nggak jelas? pake acara dibentak2 juga. Anda nggak mau kan udah bayar mahal2 eh anak anda dibentak2. Belum lagi acara tanning bersama. Kok bisa? Iyalah, seharian di lapangan dijemur!! Kaya kerupuk kalau mau digoreng, dijemur dulu kan. Masalahnya ini orang  bukan kerupuk.

Saya jadi agak miris gimana gitu liatnya. Pendidikan emang nggak murah. Sempet terpikir ya gimana kalau murid itu berasal dari kalangan biasa aja. Yang untuk bayar daftar sekolah aja mesti utang kanan kiri, demi, demi pendidikan, demi masa depan cerah. Ughhh kalau cerah, kalau berawan atau hujan atau badai? Belum lagi harus bawa makanan dengan menu daging sebanyak 5 buah, ukurannya 3cm x 3cm x 3cm, atau sate yang tusuknya 7cm. Nggak sekalian aja bawa nasi merah, kuning, ijo. Kalau memang tujuannya untuk belajar moral, untuk kebersamaan, untuk supaya tahan banting, kenapa nggak ngumpulin makanan terus disumbangin ke orang yang kurang mampu? atau mengadakan kelas dadakan di bawah jembatan layang? atau mengumpulkan pakaian bekas lalu disumbangkan? toh juga akan tetap melatih kebersamaan, toh juga tetap ngomongin moral, toh juga memupuk pahala kelakuan baik kan. Apa iya bener tetep mengarah ke tujuannya? atau hanya dalih senioritas semata? Kalau dulu gue diperlakukan begitu, sekarang gue juga akan do the same thing ke adek kelas gue. So? Toh lulus SMA atau kuliah yang diliat hasilnya kan? Bukan pas ospek siapa paling creative buat tas dari karung semen kan? Bukan siapa paling banyak ngumpulin tanda tangan kan? Terus kaya gini ya pendidikan nya? Menurut anda?

Read Full Post »

vals-day-001-edited.jpgvals-day-001.jpgvals-day-002.jpg

I received these two cuties for my Valentine’s Day gift yesterday.. Definitely missing someone out there in other continent.. Don’t worry those two cuties are still there in my living room hahaha.. cant really eat the bear though.. it is huge!!! Special thanks to Ncim Maya and Adi for the white rose.. they said it would help me to find my one (which I have already found ;p) I hope they will get married soon too..

Read Full Post »

I have just digged out my research paper for my master that is still there in my laptop. When I look at it again, it is interesting to see how well I have worked it through, even though it was not awarded as merit nor excellence this time unlike my research for my degree when I was awarded as a First Class.

Anyway, my topic was “A Quantitative study – affective based segmentation towards chocolate eaters in Singapore” and there are things about chocolate that you may want to know:

  1. chocolate has been traded actively worldwide and its consumption has been estimated as much as 2.8 million tons per year.
  2. Thais and Japanese prefer to have white or milk chocolate whereas Singapore and Hong Kong consumers prefer to consume dark chocolate (Euromonitor, 2006).
  3. This has brought the global sales to US$ 58 billion in the year 2003, with Europe dominated half of the sales, followed by the American as much as one third and Asia for approximately one tenth (Forbes, 2005).
  4. Chocolate would lessen pain and a good source of magnesium.
  5. It is a prescribed stress-reliever
  6. Chocolate could make someone ‘flies’ if the person consumes 1/3 of his/her bodyweight to get the effect

Based on my research, it has been revealed that there were 6 sub-segments exist within a chocolate eaters market in Singapore; chocolate devoted, self-indulgence, chocolate adventurer, health-conscious, the loyals and the chocolate lovers. It will be interesting to see the same study applies in Indonesia or Jakarta hehehe. Anybody?

Read Full Post »

After (just) one week of break, then who feel like to work on the 2nd day of January 2008 and back to the work. In my office, most of us feel like we are still in the holiday. Thanks for the short and sweet break in Korea – stay tune for the trip report. Thanks (again) for this year calendar that next week on the 10th January there will be another public holiday for us.. Yayyy.. what a nice break after the break.. Just arrived from Seoul yesterday and today there are no students at all.. Cant wait for another holiday.. Wishing everybody a very happy new year!

Read Full Post »

edited-potluck-006.jpg

I am not sure where the term “potluck” comes in, however, it has been a tradition that a MUST do in our office. A semester will not be completed without a potluck. This time the theme is Indonesian, or in short called as “Selera Nusantara”. Ayam rica-rica, bakmi goreng, batagor, ikan acar kuning plus the super duper yummy bolu tape ketan item just to name a few. All gone within an hour.. well-almost..

Read Full Post »

:: Going going gone ::

edited-exam-003.jpgedited-exam-002.jpgedited-exam-004.jpg

If one student has to answer 4 essay’s questions and if one answer would fill 2.5 pages, means for 1 student’s script is equal to 10 pages. You will feel dizzy after you read the magical handwritting just like the samples above.. ranging from the unreadable – almost readable – and super neat and tidy.. then you will be fall asleep.. one.. two.. three.. bip!!

Read Full Post »

Older Posts »