Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2011

Adem itu dingin sementara ayem itu menenangkan atau tentram. Saya sendiri udah nggak asing lagi dengan restoran yang satu ini, ya sebuah restoran gudeg ala Solo yang terletak di daerah Petojo. Mama dan grandparents yang berasal dari Jogja memberi hawa Jawa yang kuat di dalam diri saya, termasuk tata krama dan khususnya soal selera makan.

Kalau di Jakarta restoran ini menjadi favourit saya sejak kecil. Jualannya ya cuman ‘sego gudeg’ alias nasi gudeg, meskipun ada menu lainnya seperti nasi rawon, gado-gado, nasi timlo atau yang biasa dibilang bakmoy, nasi pecel dan soto ayam atau ayam goreng. Interiornya ya standard deh, didominasi warna hijau tua, termasuk seragam si mbak dan mas mas. Dari dulu ya sama persis kaya gitu nggak ada yang berubah.

Pesenan wajib saya disini adalah nasi gudeg krecek tahu opor. Maklum saya nggak makan ayam atau telor, jadi cukup menikmati gudeg sama kreceknya. Bedanya gudeg solo sama gudeng jogja, kalo gudeg solo itu agak basah karena ada kuah/bumbu santennya yang biasa disebut ‘areh’ disiram diatas gudeg/nasinya, sedangkan kalau gudeg jogja itu keringan, jadi disantap gitu aja pake nasi putih, nggak berkuah. Di Adem Ayem ini tahu opornya juara, karena kadang pun bisa habis. Gudegnya gurih manis, kalau anda suka pedes jangan lupa cobain kreceknya. Saya biasa order extra porsi si kreceknya ini. Nasi gudegnya juga ada beberapa versi, gudeg ayam suwir telor, gudeg komplit, gudeg tok dan gudeg lain2nya.

Dari deretan minuman ada minuman ala jawa kaya es beras kencur, es kunyit asem, terus ada juga es cendol, dan es es lainnya. Soal harga pun sangat bersahabat. Jadi ini salah satu restoran recommended kalau anda doyan gudeg, murah-meriah. Sebagai gambaran siang hari itu saya pesen nasi gudeg krecek tahu opor, extra krecek, nasi bakso kuah, nasi bakmoy plus 2 bungkus nasi sama ayam goreng, totalnya nggak sampe Rp 150 ribu saja (termasuk minum dan 3 bungkus kerupuk).

Monggo dicobain tepatnya di AM. Sangaji 27. O iya kalau anda bertanya-tanya kok tumben nggak ada fotonya, hmmm.. karena pas pesen saya udah laper banget, jadi begitu sampe di meja langsung dimakan. Pas udah mau abis baru inget belom difoto hehe. Lain kali pasti saya fotoin.

Advertisements

Read Full Post »

Bukan curi curi pandang yang pasti, tapi menjadi juri untuk pemilihan Miss Gorgeous Legs Indonesia yang diadakan di Atrium Grand Indonesia hari Sabtu kemarin, pertama kalinya duduk di meja juri!

Saya sempet takjub plus kaget plus excited plus penasaran plus deg-degan juga sih ketika diminta untuk menjadi guest speaker sekaligus menjadi juri untuk miss-miss-an tersebut. Tapi saya pikir ya why not, kapan lagi ya dicoba, kesempatan nggak akan dateng lagi kan. Akhirnya I said YES. 2x meeting dan sekali briefing dengan suksesnya menghantarkan saya duduk di meja juri siang hari itu. Agak WOW juga pas pertamanya dibilang bakal jadi speaker untuk product Crocs yang baru bersama Senior Brand Manager Crocs Indonesia dan Arzetti Biblina seorang model kondang yang anda pasti juga udah tau.

Crocs Tone begitu nama productnya, merupakan toning shoes pertama keluaran Crocs. Konsepnya adalah sepatu/alas kaki yang bisa menstimulasi otot kaki sehingga pada akhirnya kaki indah menjadi milik anda. Nggak terlalu muluk-muluk, dan juga bukan janji doang, tapi bisa dilihat dari model dari product itu sendiri. Jadi istilahnya sepatu ini tetap men-toning kaki anda ketika anda melakukan aktivitas sehari-hari. Bukan berarti nggak olahraga ya, ini versi extendednya, misalnya ketika anda berjalan kaki dari gym ke parkiran, daripada pake sepatu biasa yang notabene fungsinya adalah alas kaki, kalo pake CrocsTone otot kaki anda tetep distimulasi, dipekerjakan, jadi (Semoga) bisa cepat terbentuk indah. Gitu aja.

Acara dimulai dengan sesi tanya jawab seputar product baru ini dengan rekan-rekan media terus kemudian langsung lah saya dihantar ke meja juri bersama seorang perwakilan Metrox (Groupnya Crocs) dan seorang public figure. Nah setelah itu baru deh 8 finalists Miss Gorgeous Legs Indonesia diperkenalkan dengan attributes dari Metrox tentunya. Baru pertama kali jadi juri, antara mata dan kata hati biasa suka nggak nyambung. Yang indah dipandang ternyata gugup banget pas menjawab pertanyaan. Yang kakinya lumayan ok ternyata pas posing itu fake banget. Yang senyumnya cantik itu badannya size 0. Emang sih ini bukan Puteri Indonesia atau Miss Indonesia, tapi ya paling enggak benchmark harus tetep ada kan.

RAN dihadirkan untuk menghibur keramean sore itu, jadi semakin rame tentunya dengan kehadiran fans mereka. Cuman sayangnya meskipun lagunya lumayan ngebeat and they performed really really well (LIVE!) crowdnya adem-adem aja, paling mentok goyang kepala doang. Coba saya bukan juri mungkin saya udah naek meja.

All in all, it was a very memorable experience. Ditunjuk jadi juri dan guest speaker, semoga ini bukan yang terakhir. Kalo taon depan ada pemilihan Mr. Gorgeous Legs mungkin saya berpikir ulang buat jadi juri, mending jadi kontestan kali ya. Acara puncak terpilihlah si Miss buat taon ini, dan saya pun tentunya diberikan sepasang Crocs buat dipakai dan dibawa pulang plus paycheck. Mau lagi deh.

Read Full Post »

Tips di bawah ini bukan dari mana-mana, tapi saya bagi dari pengalaman saya sendiri (Coba baca posting sebelumnya).

  • Diet yang benar itu bukan berarti nggak makan. Tubuh kita memerlukan asupan gizi yang terdapat dalam makanan. Yang benar adalah makan dengan porsi dikit tapi teratur. Hal ini membantu metabolisme tubuh lebih terjaga dan pembakaran tetap jalan meskipun ketika tidur.
  • Diet tanpa olahraga itu salah besar. Percuma kalau anda diet mati2an tapi nggak dibantu olahraga. Berat anda akan segitu-gitu doang. Perlu diingat bahwa olahraga itu tujuannya untuk meningkatkan metabolisme tubuh, bukan supaya anda bisa makan banyakan.
  • Kalau menurut anda olahraga udah bener, tapi kok berat nggak turun-turun ya; mungkin yang harus anda cek ulang adalah pola makan. Nggak usah ampe ekstrim makan rebusan doang, atau sama sekali meninggalkan garam. Biar bagaimanapun badan tetap perlu garam dan lemak dalam jumlah tertentu.
  • Timbanglah berat badan anda di timbangan digital secara berkala. Jangan cuman yang akhirannya kilo aja, tapi upayakan yang ada persentasi air dan otot juga. Jadi anda tau persis, kalau berat anda turun itu yang hilang hanyalah kandungan air atau emang lemak anda yang turun (semoga ya). Makanya jangan heran kalau ada orang yang biasa aja badannya tapi lemak dalam tubuhnya sekitar 30%.
  • Coba mulai ganti gorengan-gorengan itu dengan snack seperti buah atau fat-free yoghurt. Kalau anda kepengen tahu isi atau pisang goreng, buatan rumah jauh lebih sehat daripada yang anda beli di luaran. (Yang baca blog saya nggak ada tukang gorengan kan? kalo ada nggak ada maksud loh ya)
  • Jangan sekali-sekali masuk ke supermarket kalau anda belum makan. Akhirnya semua terlihat menarik dan menggoda. Akhirnya anda beli makanan banyak banget. Akhirnya juga anda harus bertanggung jawab kan.
  • Tanpa maksud membuang-buang makanan, tapi kalau anda memang udah kenyang bungkus aja makanan itu. Aturan lama menghabiskan semua yang di meja cuman merugikan kiloan anda.
  • Nggak ada diet yang cocok buat semua orang, karena tubuh kita diciptakan berbeda-beda. Jadi coba deh anda bereaksi sedikit, gimana kalau anda memotong habis karbohidrat sama sekali dari menu anda, gimana kalau anda menjadi vegan selama seminggu dan lain sebagainya. Nah nanti akan ketawan mana yang paling efektif. Sederhananya tubuh kita perlu asupan komplit secara cukup dan nggak berlebihan.
  • Yang bilang makan malem bikin gendut itu juga nggak sepenuhnya benar. Asupan kalori itu dihitung per hari disesuaikan dengan aktivitas tubuh, jadi bukan per sesi makan. Kalau memang badan anda perlu 2000 kalori per hari ya penuhilah itu yang bisa anda bagi dalam 3 kali makan plus 2 kali snacks misalnya.
  • Set target yang masuk akal misalnya 3-4kg dalam sebulan. Nurunin itu gampang daripada memaintain. Selama proses healthy diet coba anda pantau terus dan sesuaikan juga dengan porsi olahraga dan istirahat anda. Semoga berhasil!

Read Full Post »

Sejak masa sekolah SMP gitu badan saya memang sepertinya lebih berat dibanding teman-teman seumuran. Saya nggak tau apakah ini pengaruh genetik atau apa, karena memang keluarga dari papa yang mengangkut gen tersebut (sementara keluarga dari mama langsing dan tinggi semua). Bahkan keluarga besar papa dengan bangga bilang kalo nggak gendut berarti bukan keluarga. Cehhhh peduli amat pikir saya.

Pas masa sekolah itu pelajaran yang saya paling benci adalah OLAHRAGA. Kenapa? karena pelajaran itu doang yang membuat saya menjadi paling terakhir, paling nggak perform, paling nggak oke. Disuruh lari keliling lapangan udah ngos-ngosan nafas kaya udah mau putus. Pernah suatu ketika disuruh lari keliling kompleks sekolahan (bukan lapangan lagi) dengan 5-7 menit, yang lewat dari 7 menit kudu squad jump (SADIS!). Saya menyelesaikan itu dengan waktu 12 menit hampir 14 menit, plus tambahan siksaan pas udahannya. Bisa dipastikan saya orang terakhir yang lari (atau udah jalan sempoyongan) sementara teman-teman yang lain lagi pada duduk-duduk atau lagi leha-leha. Besoknya saya sakit dengan suksesnya. Kejadian ini berulang tiap pelajaran olahraga. Sebel. Berkali-kali mempertanyakan emang penting ya pelajaran ini?

Sejak itu saya musuh bebuyutan dengan pelajaran olahraga! Mau di raport merah kek whatever, saya nggak peduli. Jam-jam nggak ada guru dimana teman-teman saya yang lain panas2an main bola, saya mending di kelas ber AC atau ke perpustakaan baca buku atau buat PR yang buat besok. Buat saya sport is NO FUN! Berkali-kali saya meyakinkan diri sendiri bahwa sekolah itu buat jadi pinter, bukan jadi atlet kenamaan.

Julukan si gendut otomatis saya sandang, harus bersyukur juga nggak dibilang buntelan, untungnya saya lumayan tinggi. Bongsor deh jadinya, tinggi gendut pula. Kalau saya nggak salah inget, berart saya pas SMP itu udah mencapai 60an mau ke 70kg. Jadi dipastikan bulet sebulet-buletnya. Dibilang kaya bom mau pecah (apa meledak ya).

Puncaknya ketika saya melanjutkan sekolah ke Perth-Australia. Timbangan is my enemy! Nggak pernah berani nimbang, yang saya tau tiap kali beli baju kudu ukuran XL atau XXL, celana kudu 38! Apalagi ketika disana saya homestay dengan keluarga Italiano, yang tiap hari udah pasti dimasakkin. Lengkaplah sudah pasta, daging, pizza, ini dan itu, termasuk dessert dan teman-temannya sukses menemani saya setiap hari sepanjang minggu sepanjang bulan. Sebagai contoh ya menu breakfast: Roti tawar unlimited, sunny sides up 2, sausage 2, kadang fish fingers 4, plus redbean. Lunch: gigantic sandwich isi macem2. Dinner: Salad, pasta, daging/ayam/ikan, potato, plus dessert. Untungnya disini saya dibiasakan jalan kaki, kemana-mana kudu jalan, ke bus stop, ke train station sampai lari (akhirnya bisa lari juga!) mengejar bus.

Suatu ketika entah karena angin apa meniup, saya memberanikan diri untuk nimbang, setelah sekian lama nggak nimbang! DOEEENGGGG.. SHOCKING!! SEMBILAN PULUH ENAM KILOGRAM!! Kurang 4 kg itu berat saya pas jadi 100kg!! GILAAA. Saya stress berat! Ngikutin mulut apa ngikutin berat – itu pertanyaannya. Yang ada di otak: jangan2 ini gue kena penyakit ini ya, jangan2 jantung gue kenapa2 ya, masa iya gue mau 96kg sepanjang hidup gue?? NO WAY!! Akhirnya bertekad kudu, harus, bisa dan musti do something about it!

Mama adalah orang yang paling kuatir saat itu, meskipun dia jaim di depan saya, tapi serem juga kali ya anaknya seberat karung beras! Dia sih dari masa muda emang demen olahraga, mau aerobics kek, mau pilates kek, mau body language kek, pokoknya kudu berkeringat. Akhirnya ketika saya libur panjang di Indonesia, langsung saya disuruh latihan dengan seorang personal trainer yang lumayan memotivasi.

Hari pertama karena nggak bisa lari jadi disuruh sepedaan dulu. Baru angkat-angkat dikit udah ngos2an kaya orang mau pingsan. Hari kedua badan sakit-sakit semua. Hari ketiga kaya mau berenti, tapi nggak enak ati, malu sama diri sendiri. Hari ke empat mulai merubah pola makan dan diet mati-matian. Hari ke lima berat mulai turun. Hari ke enam mulai nantangin timbangan. Hari ke tujuh mulai berasa fungsinya olahraga dan yang pasti saya nggak sakit2 lagi kaya dulu.

Saya jadi semakin rajin membaca artikel2 soal gaya hidup sehat, selain olahraga yang harus diatur adalah pola makan. Ternyata ini yang salah dari dulu. Namanya juga nekad, kudu harus bisa dan mesti kesampean. Saya pengen nggak seberat karung beras, badan jadi lebih sehat, dan tentunya jadi lebih percaya diri kan. Awalnya agak ekstrim. Breakfast minum jus buah dan dua helai roti tawar tok. Snack pagi makan buah lagi. Lunch makan sayur dan daging, strictly no carbs. Sore dan malem makan buah dan jus buah lagi. Teman diet saya ya buah-buahan itu. Hasilnya saya berhasil turun ke angka 80 an dalam waktu 4 bulan dan baru sadar 16kg itu berat juga ya. Perjuangan masih panjang. Saya masih inget banget, baju pertama kali yang saya beli ukuran S itu di NEXT, kaos warna item, rasanya bangga benerrrr. Dulu boro-boro S, kudu XXL.

Lambat laun dengan porsi olahraga dan makan yang saya atur sendiri, saya berhasil turun sampai 78kg sebelum akhirnya melanjutkan kuliah di Kuala Lumpur-Malaysia. Harus beruntung kalau ternyata di tahun 2002 itu kampus saya deket dengan sebuah cabang FF di bilangan Subang Jaya. Berkat bujukan seorang teman, student membership yang cuman RM88 saat itu, plus emang niatnya masih berkobar, jadilah saya join FF bersama Kasman (dia join duluan) and Billy (temen diet sehidup sampe sekarang).

Hari-hari saya habiskan waktu di gym sama temen-temen. Modal banget ya ke gym, kudu beli gym bag, beli sepatu olahraga, beli baju nya, celananya juga, plus jarak yang nanggung antara tempat kost dan gym jadi kudu niat naek taksi bolak balik. Jadwal GX yang masih berupa halaman fotocopy menghiasi kamar kost saya. Kelas-kelas favourite distabillo-in tiap hari. Sempet ngatur jadwal juga sama Kasman (anak Business Administration) sama Billy (anak Finance). Kapan dan kelas apa yang kudu join biar kita bisa join barengan. Tiap kali jadwal baru keluar kita langsung meeting, mau ikut yang mana aja etc. Minggu kalo nganggur pun maennya ya ke gym.

Awal mula join FF masih bingung banget, taunya ini GX rame, full, menyenangkan dan pastinya saya bisa olahraga. Pertama kali ikut kelas BODYCOMBAT saya inget banget, kelasnya SWEE, kayanya pas launching BC18, ada mangas verdes, abis track itu saya langsung keluar kelas, pandangan burem-burem, minum air sebanyak2nya. Untung nggak pingsan, tapi nggak kapok juga. Saya, Billy dan Kasman selalu di barisan paling belakang. Namanya juga anak baru, masih nggak tau mau ikut apa, jadi singkatnya semua kelas dicobain, mulai dari BODYBALANCE, BODYPUMP, RPM, BODYSTEP, CARDIO DANCE (YES, I dance too!!), BODYJAM, sampe ADVANCED STEP yang sukses menghantarkan saya ke pintu keluar karena berasa paling error. Akhirnya udah tau kesukaan masing-masing dan addicted, kalo sehari nggak ke gym rasanya ada yang kurang dan tempatnya udah nggak di barisan paling belakang, tapi mulai merajalela ke bagian depan.

Semakin rajin olahraga, konsekuensinya saya harus menyelesaikan tugas-tugas kuliah duluan, belajar duluan sebelum ujian, pokoknya semua serba duluan. Assignments kudu beres duluan sebelum due-date. WHY? Jadi biar tetep bisa ngegym dan nggak menganggu kehadiran saya di kelas-kelas itu. Saya seneng banget suatu ketika pas balik indo dibilang kurusan, padahal berat saya tetep tapi keliatan lebih singset dan sehat. OK, so I am in the right way. Celana saya 34 saat itu, jadi baju2 yang udah super kegedean dan celana2 yang bisa dijadiin sarung bisa disumbangkan ke orang lain.

Selesai kuliah di Malaysia saya memutuskan untuk mengambil S2 di LONDON-UK (February 2004). SepertiĀ  biasa, search FF dulu disana. Untungnya banyak banget, ya emang kudu niat sih meskipun tempatnya nggak ada yang deket apartment saya di South Kensington dan nggak semua FF disana ada GX Studio nya. Jadi saya harus rela searching kesananya, naik bus nomer berapa atau naek tube sampe station mana. Semua demi OLAHRAGA! Tapi kiblat saya tetep di BODYCOMBAT. Urusan makanan di London jauh lebih sehat. Semua makanan dalam kemasannya ditulis berapa calories nya, berapa sugars nya berapa proteinnya, komplit deh pokoknya. LOW FAT, FAT FREE, NO MSG, LOW SUGAR, NO ADDED SUGAR, HEALTHIER CHOICE, LESS SALT, BAKED NOT FRIED, adalah beberapa label di antaranya. Senenggg bangetttt urusan makan dan berat saya udah jauh lebih stable dibanding sebelumnya.

Sepulangnya dari London, saya menetap beberapa bulan di Singapore karena adik saya yang kecil bersekolah disana. Jadilah saya member FF Singapore dan paling sering ikut kelasnya Julian. Jadi semakin rajin ikut kelas dan dipastikan semua FF nya ada GX studionya. Akhirnya berkat ajakan seorang temen disana (Thanks to Emma) saya diajak ikut BC instructor training yang waktu itu kebetulan diadain di FF Jakarta. Saya inget banget, trainernya ketika itu Ben Tang, trainingnya di FF Plasa Semanggi, tepatnya BC release 29 (sekitar September 2006).

Training selesai. Hasilnya Pass as a Trainee. Balik lagi ke Singapore. Jaman dulu nggak ada mentorship kaya sekarang, akhirnya shadow/teamteach sama si Julian (karena paling sering join kelas dia). Singkat cerita, saya balik ke Jakarta end of 2006, terus langsung diajak Billy ngajar di FF Indo yang waktu itu baru buka belum lama (Billy udah eksis duluan malah pas pertama kali Semanggi buka). Jadilah cover boy sampai akhir tahun 2006, dan kelas pertama saya inget banget tuh February 2007. Sebelumnya tetep teamteach bareng Janis, Jeff, Shinta, Fetty. Pertama jadi team launch pas BC31, certified pas BC33 (Sekarang udah mau BC49!!!). Time flies.

Sekarang berat saya antara 71kg – 73kg. BMI termasuk ideal (lupa scorenya berapa) dan saya paling demen nantangin timbangan, pengennya berat saya itu 70kg. Tapi ya udah yang penting kan sehat. Jadi saya bermetamorfosis dari 96kg sampai jadi kaya yang sekarang. Berasa lebih sehat, lebih ok, lebih percaya diri, lebih berani nimbang. Jadi intinya kudu olahraga teratur, tidur cukup, makan yang ok. Kalau saya bisa, anda juga pasti bisa!!

Read Full Post »

Karena satu dan lain hal saya harus menghubungi Krisflyer call centre di negara sebelah. Biasanya semua airlines’ call centre akan sibuk sekali pas office hour dengan waiting time yang nggak jelas. Akhirnya saya putuskan untuk menelpon di luar office hours, hasilnya tetep aja sibuk!

Press 1 for ini, press 2 for ini, masukkan nomer anggota anda, masukkan password anda, hasilnya? Tetep harus nunggu, automated response yang didapatkan. Sepertinya emang lagi sibuk sekali disana sementara pulsa jalan terus.

Nggak disangka ataupun diharapkan, nggak lama keluarlah email notification di Blackberry saya yang berisi mereka mencoba menghubungi saya namun gagal. Saya pikir ah paling automated response juga. Ternyata saya salah, nggak sampai 1 menit kemudian beneran ada telpon dari seorang agent di call centre disana (+65). Too bad the line got cut off biasalah jaringan indo yang berlomba-lomba jadi paling murah tapi servicenya nggak konsisten.

Di ujung sana saya denger si mbak bilang, the line is not clear Sir, I call you back in the minute. Emang bener, in a minute! Pertama, dia minta maaf karena beberapa kali I was put on hold (which eventually I hung up the call). Kedua, statement langsung ‘how may I assist you ala SQ’ yang saya dengar. For me, that was totally impressive!! and being a (OK) frequent traveller, none of others would do this even the multi stars airline!

Perlu anda ketahui, saya hanya member Krisflyer jelata, Silver masih diperjuangkan, Gold kayanya nggak kesampean apalagi sampe menyandang status PPS atau PPS SOLITAIRE. Jadi nggak salah ya kalau tagline nya ‘the service that even other airlines talk about’.

Read Full Post »

:: Film oh film ::

Pembahasan soal selesainya rumusan pajak untuk film asing beberapa waktu lalu kayanya memang nggak terbukti. Kalo dulu di koran paling engga 2 halaman full hanya buat film, sekarang cuman setengah halaman masing-masing; itupun dengan judul yang semua tau makin nggak jelas.

Belum lagi film-film buatan lokal itu harus bersaing di tengah eksisnya film-film keluaran terbaru yang tetep kiblatnya ke Hollywood. Memang nggak bisa dipaksakan adanya film-film buatan Thailand yang yaaa boleh dibilang daripada nggak ada film lagi mau nggak mau deh nonton, saya sendiri (untungnya) not a movie freak.

Saya bukan fans Harry Potter atau Transformer atau Fast and Furious, intinya nggak terlalu enjoy nonton. Tapi beda juga dengan beberapa teman saya yang ternyata emang ngebet banget mau nonton, akhirnya karena film-film itu nggak masuk ke Indonesia (meskipun janjinya within fortnight) mereka merelakan untuk ber-weekend ria ke negara tetangga buat nonton, movie marathon!

Kalau udah begini yang rugi negara juga kan, devisanya malah lari ke negeri orang. Ini didukung dengan beberapa maskapai yang menawarkan tiket murah abis-abisan ke negara tetangga ya buat nonton itu tadi. Coba aja cek apa kata Lufthansa di website Indonesianya, atau kata AirAsia yang nyindir abis-abisan di twitter bilang “It is not a coming soon!”. Yang lebih merana sebuah comment di Facebook, it’s coming soon (in your neighbouring countries).

Jadi sebenernya agak miris juga ngeliat fenomena ini, kalo emang urusan pajak itu nggak bener then kenapa baru sekarang diributkan, kenapa dulu tenang-tenang aja. Terlepas dari semua itu juga ngga bisa dipungkiri bahwa hanya segelintir film buatan local aja yang bermutu. Lainnya? Ya gitu deh. Tadi pagi sempet melihat sebuah harapan katanya Harry Potter (sequel terakhir) bakal masuk ke Indonesia dalam hitungan hari. Oh right!! Hitungan hari. Saya kok nggak percaya ya (kalaupun iya juga saya nggak akan nonton sih), tapi mari kita lihat aja gimana endingnya semua ini.

Read Full Post »

Meskipun nggak seberapa terdengar promosinya, suka atau engga, inilah dia Jakarta Great Sale. Kayanya nggak cuman dalam periode ini aja semua di sale, tiap hari pun di bulan yang berbeda juga tetep ada lah yang di sale. Saya tergelitik awalnya ketika membaca sebuah artikel yang menceritakan betapa konsumtifnya Jakarta dengan 170 mall yang tersebar di Jabodetabek.

Face it, mau tau gimana negara tetangga keluar dari krisis moneter yang berkepanjangan di tahun 1998? Pemerintah lah yang menstimulasi perkembangan ekonomi dalam negeri. Caranya? Gampang! Stimulate orang-orang itu supaya belanja, dengan berbelanja, menjadi konsumtif, segala produksi barang dalam negeri akhirnya mampu diserap dengan daya beli yang ada, nggak pake ikut campur negara lain dan ternyata memang bisa kan keluar dari krisis. Beda dengan kita yang malah disuruh menabung di bank untuk mengatasi krisis tersebut, uang yang diam nggak akan mampu menciptakan apa2 di dalam dunia ekonomi, akhirnya ekonomi jadi mandek, berenti total, produksi jalan terus tapi nggak ada yang mau beli.

Mau sale mau engga, orang kita demen belanja kok, mendingan belanja di dalam negeri kan daripada uang itu harus keluar ke negara tetangga. Jujur aja saya lebih nyaman belanja di negara itu, tax nya jelas bisa di claim balik, sales person nya pun sangat kompeten dan mengerti tentang products yang mereka jual (maaf ya nggak asal nyablak semua dijual perlu nggak perlu – pengalaman buruk belanja barang di Jakarta). Lebih daripada itu, mereka menawarkan variasi barang yang lebih komplit, suasana yang lebih mendukung, dan (sering kali) dengan harga yang lebih murah daripada disini. Anda boleh nggak setuju sama saya, tapi kenyataannya emang begitu.

Saya sendiri nggak setuju dengan artikel tersebut, dibilang konsumtif, emang ukuran nya apa? dengan 170 mall itu terus bisa dibilang konsumtif? Kalau nggak ada demand nggak akan ada supply kan? Look at the other side of life, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan taraf hidup orang banyak, menstimulasi pertumbuhan ekonomi dalam negeri, uang negara nggak terbuang ke negara lain . Jadi jangan salain pengembang atau pendiri mall nya, tapi minta diukur dari segi rencana tata kota nya. Yang menjadi tolak ukur ‘konsumtif’ itu sendiri subjektif banget kan, yang saya nilai konsumtif belom tentu begitu buat orang lain atau sebaliknya.

Kalau kita dengan mudah tergerak langsung beli tiket buat mengunjungi negara itu demi Great sale, terus kenapa engga disini aja belanja disini toh Jakarta juga lagi Great sale kan.

Read Full Post »

Older Posts »