Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2010

:: Masa orientasi ::

Sudah beberapa kali pas nggak sengaja lewat di sebuah perguruan tinggi ternama, terus di halaman depannya ada anak2 baru yang lagi ospek katanya atau masa orientasi. Saya udah nggak kaget tuh kalau mereka diharuskan pake atribut layaknya billboard berjalan, rambut dikuncir kanan kiri depan belakang, terus masih pake seragam SMA asalnya, dan atribut lainnya. Sama sekali nggak banget deh. Inikah yang disebut masa orientasi? Orientasi apaan? Tujuan dan gunanya? atau lebih nggak banyak bergunanya? begitu batin saya. Kalau misalnya dalihnya itu untuk memupuk kebersamaan, toh abis orientasi juga menghabiskan sekian tahun bersama. Kalau dalihnya untuk mengakrabkan diri, toh abis orientasi juga masih berantem dan tawuran. Jadi?

Saya jadi inget dulu ketika saya baru mau masuk SMA. Betapa repotnya ya setelah paperwork isi formulir ini dan itu, terus ngurus pembayaran, harus bawa balik lagi bukti pembayaran itu dan sebagainya, padahal SMP dan SMA saya itu satu yayasan. Kerepotan itu nggak terjadi hari itu aja, tapi di hari-hari berikutnya. Tas dari karung semen (yang kudu diwarnai dengan di bleach sesuai warna kelompok), papan nama segede billboard (yang kadang harus disambung pake rantai bekas kaleng marie regal), plus perlengkapan upacara yang kudu standby di tas setiap hari.

Itu belum seberapa dibanding menu makan siang yang agak nyeleneh. Ya, kita diharuskan membawa makan siang sendiri. Mulai dari telor mata sapi yang matanya jereng (kuningnya dempetan di tengah), buncis 3cm sebanyak hari lahir anda, atau keripik ikan teri yang matanya ngadep ke kiri semua. Yang repot nggak cuman yang sekolah, orang rumah pun dibuat repot untuk berburu pisang dempet pagi2 di pasar atau mengecek salak yang beranak dan jeruk yang punya baby. Terus ini dibuat dengan tujuan supaya tahan banting selama tahun ajaran? Kayanya nggak berhubungan sama sekali ya. Belum lagi benda2 aneh yang harus dibawa setiap hari, seperti jarum pentul yang ujungnya kotak?

Saya beruntung sekali untuk bisa melanjutkan sisa masa SMA saya ke luar negeri sampai menyelesaikan bachelor dan master degree saya di luar. Pada kenyataannya di luar itu sangat berbeda dengan yang disebut masa orientasi. Orientasi itu ya beneran orientasi, masa pengenalan. Murid-murid baru beserta orang tua atau wali akan dikumpulkan di sebuah tempat pertemuan. Dimulai dengan pengenalan siapa yang in charge di department apa, lalu beberapa guru senior, lalu dibahaslah pathway atau sistem pembelajaran. Jadi dikasih tau subject ini isinya apa, apa aja yang bakal dipelajari, apa aja sistem evaluasinya, apakah 100% coursework, apakah ada written exam? Terus kapan aja hari liburnya, termasuk tanggal2 penting di kalender akademis. Setelah itu semua akan diajak berkeliling kampus, plus informasi2 penting lainnya seperti gimana caranya kalau mau ganti subject, ketemu siapa kalau mau beli kartu buat fotocopy, harus kemana kalau mau tanya-tanya soal tempat kost atau boarding house. Semua dijelaskan secara terperinci. Then it was a wrap!! Beres masa orientasi. Besok mulai kuliah sesuai timetable masing-masing. Bukankah ini jauh lebih penting?

Balik lagi ke masa awal SMA, pake disuruh joget dan nyanyi gak jelas di depan senior hanya untuk sebuah tanda tangan. Itu harus terkumpul sekian ratus tanda tangan dalam beberapa hari. Kalo nggak terkumpul gimana? Ya dihukum lah. Belum lagi acara dimarah2in tanpa sebab yang nggak jelas? pake acara dibentak2 juga. Anda nggak mau kan udah bayar mahal2 eh anak anda dibentak2. Belum lagi acara tanning bersama. Kok bisa? Iyalah, seharian di lapangan dijemur!! Kaya kerupuk kalau mau digoreng, dijemur dulu kan. Masalahnya ini orangĀ  bukan kerupuk.

Saya jadi agak miris gimana gitu liatnya. Pendidikan emang nggak murah. Sempet terpikir ya gimana kalau murid itu berasal dari kalangan biasa aja. Yang untuk bayar daftar sekolah aja mesti utang kanan kiri, demi, demi pendidikan, demi masa depan cerah. Ughhh kalau cerah, kalau berawan atau hujan atau badai? Belum lagi harus bawa makanan dengan menu daging sebanyak 5 buah, ukurannya 3cm x 3cm x 3cm, atau sate yang tusuknya 7cm. Nggak sekalian aja bawa nasi merah, kuning, ijo. Kalau memang tujuannya untuk belajar moral, untuk kebersamaan, untuk supaya tahan banting, kenapa nggak ngumpulin makanan terus disumbangin ke orang yang kurang mampu? atau mengadakan kelas dadakan di bawah jembatan layang? atau mengumpulkan pakaian bekas lalu disumbangkan? toh juga akan tetap melatih kebersamaan, toh juga tetap ngomongin moral, toh juga memupuk pahala kelakuan baik kan. Apa iya bener tetep mengarah ke tujuannya? atau hanya dalih senioritas semata? Kalau dulu gue diperlakukan begitu, sekarang gue juga akan do the same thing ke adek kelas gue. So? Toh lulus SMA atau kuliah yang diliat hasilnya kan? Bukan pas ospek siapa paling creative buat tas dari karung semen kan? Bukan siapa paling banyak ngumpulin tanda tangan kan? Terus kaya gini ya pendidikan nya? Menurut anda?

Read Full Post »

Seinget saya dulu little cake shop yang ini bertempat di United Square (kalau anda tau itu dimana). Sempet pesen profiteroles gitu for my sister birthday cake few years ago. Anyway, spot yang dulu dikuasai Delifrance di Paragon depan market place itu, sekarang telah menjadi singgasana buat Canele.

Kalau dari luar, anda pasti langsung bisa melihat deretan kue berbaris rapih siap untuk diinspeksi. Nggak cuman cakes, mereka juga jual assortments of bread, jadi mulai dari whole grain, french bread, and the gank bisa anda peroleh disini. Sehari sebelumnya saya udah ngopi2 dulu disini bersama seorang teman saya jaman kuliah dulu di Malaysia yang sekarang udah menetap di Singapura bersama istri dan anaknya. Anyway, New York Cheesecake menjadi pilihan saya buat menemani saya ngobrol ngalor ngidul, sementara setelah menimbang dia memutuskan untuk order crepes ala blackforest. Cheesecake pilihan saya, not bad, tapi menurut saya masih biasa aja, something was missing. Lalu Crepes ala blackforestnya saya cuman suka ice cream chocolatenya yang segede bola tennis. It was a really guilty pleasure at the end!

Masih belum puas mencicipi yang lainnya, keesokan harinya saya mencicipi breakfastnya. Yep, they are serving breakfast too, means they open for business quite early. Untungnya, mereka nggak terlalu banyak options. Standardlah, mau american breakfast or continental. Saya nggak terbiasa dengan big breakfast and I put my faith on those danish and pastries items. Sama sekali nggak mengecewakan. Bakery set judulnya datang dengan a piece of croissant, a piece of blueberry muffin and an almond cake. Yang dua pertama not bad, yang terakhir kayanya saya skip for next time. Looking around, interiornya European style, with a long sofa and dark and maroon tone. The drawback: servicenya bisa quite slow kalau resto nya lagi lumayan rame seperti pagi itu, minta bill aja kudu 4 x minta baru dateng deh billnya. Oh well.. saya maklumi deh karena muffin nya enak.. or else I would skip this place next time.

Read Full Post »

Kalau anda udah bosen dengan hotel-hotel bintang 5 yang terlalu formal, atau terlalu resmi, coba yang ini deh. Salah satu property Starwood hotels, tenang aja, tetep bintang 5 kok, tapi less formal, more casual. Tadinya saya menimbang-nimbang antara Kowloon Shangri-La atau W hotel HK ini. Setelah baca beberapa review yang memang positif semua, baik dari lokasi, accessibility dan terutama design nya, maka saya putuskan untuk mencoba hotel yang punya rooftop swimming pool dengan pemandangan yang bikin anda menahan nafas.

Setibanya di HK, 24 menit dengan HK Airport Express, sampailah saya di Kowloon Station yang memang nembus ke Elements Mall. Nah si W ini tepat diatasnya mall tersebut. Jadi anda nggak usah repot kalau mau shopping, atau sekedar makan atau cuci mata, atau mau mejeng juga boleh. Yang di ground level itu adalah foyer, lobby hotelnya sendiri ada di lantai 6. Anda nggak perlu kuatir kesasar, karena ada staff hotel yang selalu standby di foyer itu.

Sepintas memasuki hotel ini kaya masuk club, karena lampunya neon semua, interiornya classy tapi modern. Jadi jangan expect ada candelier kuning-kuning ya, yang ini lampunya neon warna warni, dominasi interior warna hitam. Terus lantai liftnya itu dipasanglah LCD yang ganti2 warna tiap saat, dengan good morning, good afternoon atau good evening. Check in was flawless and what’s better than receiving a complimentary upgrade. Kamarnya aduhai, bikin betah dan nggak mau pulang sejujurnya. Yang bikin saya rela untuk menghabiskan waktu di hotel, servicenya quick and efficient. Bayangkan dimana lagi semua staff memperkenalkan dirinya kepada anda, even mereka baru ketemu anda sekali.

Kamar saya lumayan luas untuk ukuran Hong Kong (dimana terkenal sekali kamar hotel ukuran mini). Pemandangannya ke harbour dan anda bisa liat juga lampu2 city waktu malam. Uniknya, semua hampir automated, tombol2 ada di bawah laci, layar tivi ada di belakang kaca, bathtub pun ada tivinya. Jadi kalau giliran anda nginep sini, begitu masuk kamar, coba deh get in touch with all the room features. Chic, classy, modern, very artistic.

O iya, have I mentioned that the lift button is hiding under the book shelf? You figure it out! Next time take me there ok. Kalau anda masih belum ngiler dengan deskripsi saya, coba liat beberapa snapshots yang ini ya. Semoga anda tergugah lagi dan tambah ngiler untuk stay di W next time. Ajak saya tentunya!!

Read Full Post »