Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2010

Anda pasti pernah denger kan lagunya yang liriknya bilang “sapa suruh dateng Jakarta…” Ya kalo itu sih buat kaum pendatang ya..kalo saya kan penduduk asli, yang memang lahir disini.. Jakarta di ulang taunnya yang ke 400 sekian itu memang udah tuir banget.. harus di facelift kanan kiri.. PR yang nggak sedikit.. masalah2 sosial yang semakin merajalela atau bahkan nggak terselesaikan mungkin sampe ulang taunnya yang ke 1000 sekalipun.

Semua ada di Jakarta.. mau hidup enak ala hedon bisa, mau ngirit pun bisa. Adalah seorang teman saya, yang sempet ngomong “Perasaan gaji gue 7 juta per bulan nggak cukup buat gue sendiri”, sementara miris dengernya kalau ternyata sekeluarga yang berisi 5 orang harus mampu hidup di Jakarta hanya dengan 1 juta per bulan. Itu pun kalo pas dikasih rejeki bisa bayar ini itu, kalo enggak ya ngutang, atau makan nasi hadiah tetangga. Sementara on the other side, uang 1 juta itu biasanya dihabiskan untuk makan malam di tempat socialite atau di hotel ternama. Abis semaleman doang. Lalu si hati saya ngomong “Yaa rejeki orang kan beda-beda kali, nasib pun begitu adanya..” dohhhh..

Kalau diliat PR Jakarta banyak banget.. Pertama, program busway yang menurut saya agak aneh.. Kenapa? Karena halte nya suka tiba2 ada di daerah yang nggak terjangkau, terus berita2 miring tentang busway yang udah sering nongol di media massa, plus logikanya kalo engga ada pelebaran jalan, terus diambil 1 jalur buat busway, gimana nggak tambah macet kan.

Kedua, masalah 3in1.. OK, fair enough, we have that 3in1.. tapi ini membuka lapangan kerja baru untuk para jockey tentunya.. Jadi sekalipun sendirian, mau lewat 3in1 tinggal bayar goceng atau ceban kali 2.. beres kan.. Bahkan beberapa temen saya suka langsung nyerobot aja toh juga macet, nggak mungkin kan si bapak polisi mau liatin mobil berjuta itu.

Ketiga, soal macet yang kayanya udah jadi makanan sehari-hari. Jakarta harus macet!! Kalau suatu hari kerja anda nyetir, terus jalanan kosong, wahh berarti ada yang nggak beres nih.. Atau saya mulai manggil2 si hati, ada apa ini ya kok jalanan jadi kosong banget.. jangan-jangan ada ini.. jangan-jangan ada itu. Ya pertumbuhan jalan dan kendaraan yang ternyata berbanding (hampir) terbalik merupakan permasalahan dari dulu.

Lalu kalau anda jalan2 di daerah Senayan, ada pilar-pilar nganggur yang udah mau karatan kan? Masih inget rasanya macetnya ketika pilar2 itu ditanam. Buat apa? OOooo buat monorail. Keren juga ya Jakarta (hampir) punya monorail. Tapi nggak tau kapan beneran bisa jalan. Ada yang tau barangkali? Proyeknya pun terbengkalai. Pilarnya cuman jadi ajang buat taro iklan. Besi2 atasnya udah mulai karatan. Uh humm.. Jadi buat pajangan doang? Atau monorail on display?

Belum lagi segudang masalah sosial lainnya. Rumah2 mewah terus ada tembok tinggi menjulang, di baliknya adalah perkampungan kumuh. Ibaratnya 1 rumah itu bisa jadi buat 20 bedeng kali ya atau 25 atap keluarga. Harusnya slogannya bukan Enjoy Jakarta ya.. tapi Kota serba ada.. mau makan 5ribuan ada, mau makan 5 jutaan juga ada; mau beli shampoo 3 ribuan ada, mau yang 3 jutaan juga ada; mau naek mobil oren, naek bajaj, naek busway pun bisa; mobil pribadi nggak usah disebut ya, dari yang di bawah 100 juta sampe diatas 1M pun banyak bersliweran; mau tempat ibadah banyak, mau video porno juga dimana-mana. Kayanya semua orang juga tau kan. So all in all Jakarta is about choice!

Itulah Jakarta, akhir kata semoga panjang umur, semoga nggak macet2an lagi, semoga orang2 warga Jakarta bisa lebih peduli, suka dukanya hidup di Jakarta, tuntutan jaman, selera hidup, yang membuat apa aja ada di Jakarta dan akhirnya membuat Jakarta lebih berwarna. Happy Birthday!!

Read Full Post »

:: Over(X)posed ::

Kayanya kita semua udah mulai eneg ya dengan pemberitaan soal video porno itu yang beredar di masyarakat. Bahkan tanpa menyebut nama nya pun kayanya otomatis semua orang udah tau. Di balik itu semua ya, menurut saya pribadi, pemberitaannya udah menjadi scandal yang memang ‘disengaja’ atau pun ‘engga disengaja’ dijadikan komoditi untuk konsumsi masyarakat atau mendongkrak rating.

Kenapa bisa begitu? Ya, karena pertama, beritanya dimunculkan serentak dalam media massa yang berbeda. Otomatis, kayanya kalau anda nongkrong di depan tivi, setel radio di mobil, atau bahkan temen anda di kantor pun, langsung jadi pokok bahasan. Yang engga tau, jadi tau, karena overexposing. Anda akan dinilai engga gaul kalau engga tau.

Kedua, kalau diliat lagi, sebenernya simple aja kan, mereka berbuat, terlepas dari itu mereka apa bukan, palsu apa asli. Ya udah sih, apa perlu digembar-gemborin seperti itu. Lalu kaya jadi superheroes semua, ikut2 komentar (padahal nggak ditanya). Toh juga udah gede-gede juga kan. Yang membuat saya jadi prihatin, beberapa minggu lalu ada razia handphone di berbagai sekolah yang ‘katanya’ bertujuan untuk membasmi video2 tersebut. Apa nggak salah? Anak2 yang nggak tau jadi tau kan? dan semakin dilarang pasti semakin menjadi2 penasarannya tanpa bimbingan yang seimbang. Pesan moral: harusnya anak2 itu dididik untuk bisa lebih bertanggung jawab dari apa yang mereka perbuat.

Next, karena pemberitaan yang begitu bertubi-tubi, diatas permasalahan kerakyatan lainnya (yang menurut saya jauh lebih penting), akhirnya memancing lah komentar2 yang menurut saya nggak perlu. Nebeng mau terkenal kali ya. Dari berbagai kalangan, pake acara memboikot segala macem, terus mencabut identitas dan sebagainya. Saya setuju dengan seseorang yang bilang ini adalah pembunuhan karakter. What if they are in the same shoes? What’s wrong with these people?

Orang pun punya hak untuk diam, untuk no comment, dan bukan malah dijadikan bulan-bulanan. Come on man, mereka udah dewasa semua gituh. Pada akhirnya juga semua bisa menilai siapa yang benar, siapa yang salah. Kalau memang nyatanya nggak ada yang salah pun juga nggak usah dicari-cari bukan? Lalu si hati saya nyeletuk “Mungkin emang ego budaya kita kaya gitu ya, seneng banget nyala2in orang, dan seneng banget kalo akhirnya ketemu salahnya dimana”.

Kalau diliat disini, peran media harusnya nggak ikutin arus ya, melainkan mengambil sebuah posisi netral, dimana hanya sekedar penyambung berita. Bukan malah mengakomodasi berita yang diminati masyarakat. Dengan kekuatan media untuk bisa meng-overexposing sesuatu harusnya media juga bisa dong mendidik masyarakat, nggak cuman langsung percaya dengan berita apapun, dan harusnya bisa lebih mendidik untuk bisa berpikir out of the box.

Read Full Post »

Saya sendiri nggak inget lagi kapan terakhir saya membongkar isi lemari saya, terus menyeleksi mana yang mau saya pake, mana yang mau saya simpan, mana yang mau saya kasih ke orang lain dan sebagainya. Akhirnya dengan segala niat dan motivasi saya keluarkan pertama koleksi dasi saya.

Sebenernya saya bukan kolektor, tapi seneng aja liat dasi dengan motif2 unik yang saya dapet dari mana-mana, mulai dari Tokyo Disney sampai ke GUCCI store waktu ke Italy beberapa tahun yang lalu. Pas saya bongkar, ternyata banyak banget hasil perburuan saya selama ini. Tertumpuk dan masih tersimpan rapih di sudut lemari saya. Dari semuanya rata-rata masih baru, karena baru dipake cuman sekali, atau malah belum pernah dipake sama sekali. Akhirnyalah dengan niatan baik untuk me-regenerasi dasi-dasi saya ini, saya coba jual di facebook.

Tiap dasi punya cerita unik sendiri-sendiri. Mulai dari last piece, limited edition, atau cinta pada pandangan pertama. Maksudnya pas pertama kali liat langsung jatuh cinta dan dibeli, saya nggak peduli lagi soal price tag, soalnya udah dibutakan dengan cinta. Ya ampun, ternyata bener adanya cinta itu buta, apalagi kalo pas belanja ya.

Didukung dengan niatan baik pula, seper-sekian dari penjualan items ini akan saya donasikan untuk charity. Jadi silahkan diliat-liat, akan saya update every now and then (karena saya belom sempet foto2in dasi itu satu persatu). Kalau ada yang menyangkut di hati, atau menyangkut di mata, silahkan drop me a message. Happy Shopping!

All you need to do is log-in to your facebook account and copy paste this address in your url: http://www.facebook.com/album.php?aid=176214&id=525584984&saved#!/album.php?aid=176214&id=525584984

Read Full Post »

Hari gini ngomongin regenerasi bukan hal yang tabu atau dilarang bukan, malah merupakan siklus; suka atau nggak suka, life is like a rollercoaster. Suatu saat di kelas saya muncul 2 orang anak kecil, yang kayanya masih belum cukup umur untuk masuk di FF, tapi anyway mereka ada di deretan belakang. Sekilas saya langsung tau mereka pendatang baru nih, teknik masih nggak bener, tapi kok ya cepet banget kalo saya 3C, alias connect, correct and comment. Mereka pun bertahan sampai titik darah terakhir. Saya sampai berpesan “Guys, don’t do this at home!!”, mereka pun manggut-manggut aja di belakang. They catched my eye-contact.

Lalu saya nggak berkesempatan untuk ngobrol jauh sama mereka, tiba-tiba aja saya inget, mungkin ini ya namanya regenerasi. Kalau ditilik jauh, apapun yang kita punya saat ini, sebenernya mau buat apa juga kalau kitanya lebih sibuk mencari, tapi nggak bisa ada waktu untuk menikmati. Lalu si hati saya ngomong, “Ya dung-dung nya elo lah, kalau elu sibuk2 nyari tapi nggak tau gimana menikmatinya”. Kaya sebuah statement ‘If you think money cant buy happiness, then you don’t know where to shop’ itu emang bener kali ya pada saat-saat tertentu.

Percaya atau engga, orang-orang itu ada di sekitar kita. Ibaratnya tiap orang punya mimpi, punya cita-cita, kalau engga punya pun juga nggak papa, tapi begitu mimpi jadi kenyataan, kaya Cinderella, terus mau ngapain lagi? Manusia emang nggak pernah puas, tuntutan hidup pun bertambah panjang. Kayanya hari ini udah puas dengan semuanya, eh besok ada gadget terbaru dan yang sekarang dianggep gak gaul, gak keren, gak semuanya. Nah ini nih, kalau udah dapet semuanya, so what’s next? Mungkin inilah stage dimana saya sekarang. Bukan berarti saya dapet semuanya ya, tapi sempat terlintas kalau regenerasi itu perlu. Buktinya sekuel Cinderella nggak dibuat kelanjutannya bukan, singkatnya live happily ever after. Apa iya anaknya Cinderella dengan sang pangeran akan mengikuti jejak ibunya?

Coba anda berpikir menjadi sedikit lebih egois atau self-centered, anda membangun diri anda sendiri, baik dari hal materi, kepribadian, atau pun personal development ya, tapi ada stage dimana kayanya emang udah sampe Maslow’s hierarchy paling atas, dimana yang anda butuhkan sebenernya adalah suatu recognition dari orang-orang sekitar anda. Lalu apa? Saya jadi inget, pernah ada yang bilang, if you think that you have enough to grow yourself, then it’s time to grow others; dan saya harus setuju dengan yang ini. Singkatnya, regenerasi itu harus ada generasi baru, yang menjadi penerus anda, terus kalo anda tanya, buktinya Madonna nggak regenerasi dengan segala macem kontroversialnya. Yang jelas dia selalu tetap mengekspor dirinya, sampai bertahan tetap menjadi seorang living legend bahkan sampai di era Lady Gaga sekarang ini. Tapi kalo anda udah ubek-ubek diri anda, terus anda bingung semua udah dicoba, bahkan anda nggak tau harus regenerasi kaya apalagi, mungkin udah waktunya, ya itu tadi, time to grow others!

Read Full Post »

:: Miss-miss-an ::

Belakangan ini saya sedikit agak gimana gitu bukan karena munculnya video-video porno artis di masyarakat, tapi karena munculnya orang-orang yang menurut saya sedikit “aneh” di kelas-kelas saya. Salah satunya adalah si miss B ini. Anda tau kenapa saya kasih gelar miss B? Karena dia suka sekali bermain-main dengan tali bra-nya itu ketika di kelas. Ya anda nggak salah baca, beneran maenin tali beha yang sepertinya melorot tapi nggak melorot. Lalu nggak cukup sampai disitu, dia juga menaik2an celananya seolah-olah celananya melorot, padahal engga sama sekali.

Sebenernya sosok si miss B ini terlihat biasa saja, cakep pun engga, jelek juga engga, tapi attitude nya itu yang bikin saya agak miris ngeliat tiap kali dia nongol di kelas saya. Si hati saya sempet ngomong, “jangan-jangan dia salah satu korban di video itu”.. Yaaa nggak tau lagi ya.. Singkatnya dia itu nggak pernah keringetan, make up selalu keringet-proof, alias nggak ilang meskipun ikut kelas sejem. Terlebih lagi, kaya nggak ada tenaganya. Dateng telat, nggak ada effortnya, bener-benerin beha, naek2in celana di kelas, terus apanya yang diolah-ragain?? Si hati saya langsung nyeletuk, “Mungkin dia mau liat elo doang kaliiiii… suit suitttt..” Enak ajaaaa.. menurut loooo..

Harusnya saya nggak usah pusing ya, biarin aja, toh dia nggak menganggu member laen (ehem, agak menganggu kalo dateng telat terus tiba2 ambil spot orang dan dituker sama senyuman yang jauh dari kata manis). Tapi semakin lama kayanya semakin membuat suasana menjadi sedikit panas (Panas karena emosi ya, bukan karena dia maen2in behanya itu). Jadi sebenernya motivasi ikut kelas ngapain? Cuma mau ngaca? Apa mau pamer LaSenza keluaran terbaru? Gerakan juga biasa aja, tenaga bisa dibilang nggak ada, dibenerin pun tetep aja cuek bebek. Terus sering banget berenti di tengah-tengah track. Sit-up acak kadut, push up apalagi.

Jujur aja kadang saya terpancing emosinya, pengen rasanya matiin music, terus turun panggung, then bilang di depan wajahnya “YOUUUUU GET OUTTTTT FROM MY CLASS!!!!!” pake bibir monyong sama jari yang nunjuk2, tapi rasanya nggak etis dan harus lebih punya attitude dong. Marah-marah di depan umum is definitely not my thing. Kasian juga members saya yang lain, yang udah ujan-ujanan, macet2an, bela-belain dateng ke kelas saya. Mereka expect saya untuk lead the class, who cares masalah beginian kan. Akhirnya saya putuskan untuk MEMBIARKAN SAJA. Mau maenin rambut kek, mau benerin tali beha kek, mau narik2 celana yang nggak melorot kek, sampe si hati saya bilang “Kenapa juga nggak dibuka aja semua biar nggak usah ribet kan”.. Hushhh!!

Saya juga heran sekali, kok ada ya orang seperti itu, tapi nyatanya emang ada. Beberapa waktu lalu saya sempet melihat foto dirinya di salah satu party socialitedi majalah socialite ibukota juga dong tentunya. Tapi attitude nya a big NO NO. Terus satu lagi alesan kenapa saya bilang Miss B, karena menurut klasifikasi aset wanita yang sempet di broadcast di BBM saya tempo hari, B itu adalah “Barely there”, jadi asetnya emang hampir nggak keliatan. Pas deh sama nih orang, saya juga anggep dia barely there aja di kelas. Kalau sampai disini anda penasaran, coba deh next time ketika anda ikut kelas saya, anda celingak celinguk, cari yang sesuai sama definisi saya tadi. Nggak susah kok, pokoknya yang begitu masuk kelas pertama kali yang dipegang adalah tali B-nya. Happy hunting!!

Read Full Post »

Saya agak tergelitik dengan sebuah surat pembaca di suatu harian terkenal. Yang saya heran si bapak ini komplain dan protes kenapa minimarket dibiarkan menjamur begitu saja. Menurut dirinya, pemerintah udah seharusnya melindungi pasar tradisional yang memang dari dulu udah ada. Bukan membiarkan bersaing dengan supermarket atau megamarket yang  sekarang udah mulai banyak ditemui dimana-mana. Hmmm.. mungkin si bapak itu salah satu orang yang merasa bersaing langsung dengan keberadaan mega-mega itu.

Coba ya dipikir lebih jauh.. Kalau menurut saya sih, minimarket yang 24 jam itu kan memberikan bantuan 24 jam, nama labelnya aja convenience store.. yang harusnya membuat customer convenient dong, mungkin dari segi letaknya, ataupun dari barang yang didagangkan. Faktanya harga di ministore seperti ini jauh lebih mahal dibandingkan mini atau midi market, atau kenapa nggak ada maksi market ya, jadi kaya panjang rok kan, mini, midi, maksi.. tinggal pilih aja.. Kalau mini ya biasa harganya semakin mahal.. Kalau maxi atau mega ya harganya lebih bersahabat.

Mungkin kekuatiran itu ada, kalau pasar tradisional kalah bersaing dengan pasar-pasar modern dimana mana. Namun pada dasarnya manusia itu makhluk sosial bukan? Dimana lagi ketemu sama tetangga kalau nggak di pasar tradisional, atau nggak usah jauh-jauh deh di tukang sayur sebagai front-liners dari si pasar tradisional. Tawar-menawar itu biasa, apalagi kalo si tukang sayur itu jadi CS anda, atau jadi ajang curhat gossip di pagi hari.. Suami si A didepak dari perusahaannya, terus istri si B ada nyimpen brondong, anaknya si C hidupnya tertekan dan lain sebagainya. Mana mungkin kan anda belanja di supermarket lalu jadi gossip dengan si tukang buah atau si tukang daging. Paling mentok juga mereka tanya ini daging mau dimasak apa bu.. Mana pernah mereka gossip kan.

Atau kalaupun si tukang sayur langganan anda mematok harga lebih tinggi daripada si “Raksasa” itu, anda pun dengan senang hati membayarnya bukan? Toh anda diupdate dengan gossip terbaru, nggak cuman tetangga, termasuk juga video-video porno yang beredar di masyarakat. Itung-itung “cincai” lah ya, win-win solution bukan? Anda senang, si tukang sayur pun demikian. Sementara kalau anda di supermarket, it always goes like “Take it or leave it”. Anda dituntut untuk tau product knowledge sebelum anda membeli. Kadang mau tanya bedanya merk A dan B pun nggak ada satu orang pun yang standby. Bayangkan kalo di megamarket segede lapangan bola, anda harus jalan duluuu dari gawang sendiri sampe gawang lawan,  sampe ke customer service area, baru deh tanya, mbak ini bedanya apa ya.. bagusan yang mana.. kenapa warnanya beda etc.. Itu pun kalau si mbak dengan senang hati melayani.. Kalau engga ya paling harga jadi patokan, lebih mahal berarti lebih bagus (yang belom tentu juga kan).

Singkatnya, saya juga bukan penjual sayur di pasar tradisional, tapi semua ada pasarnya sendiri-sendiri bukan? Saya yakin, di pasar tradisional yang becek, yang kotor, kadang baunya gak jelas, sempit2an, umpel2an.. itu menjanjikan suatu sensasi tersendiri, yang nggak anda dapatkan di pasar-pasar modern, mini, mini, maxi market tersebut. Nah, jadi harusnya mereka saling melengkapi ya, bukan untuk bersaing.. Lalu si hati saya bilang “Buktinya elu ke supermarket terus nggak pernah ke pasar tradisional”.. Saya pun nyaut juga, “Enak aja luuu.. gue ke pasar kok.. pasar yang jual makanan doang..”

Read Full Post »

:: Say Sorry ::

Baru-baru ini saya ber BBM ria dengan salah seorang teman saya yang boleh dibilang sudah eksis di dunia nya, baik di lingkungan teman-teman saya, atau pun di lingkungan karir yang dijalani nya. Setelah sekian lama nggak bertatap muka dengan si cantik ini, tapi dengan niatan untuk stay in touch jadilah iseng-iseng saya menanyakan kabarnya sembari ngadem di dalem mobil, di jalanan yang super macet itu.

Nggak disangka ternyata telah banyak berubah dari dirinya, bukan gendut terus jadi langsing ya (anda pernah denger pantun: main robot bikin pusing, dulu gembrot sekarang langsing?), sama sekali bukan itu. Tapi dulu dia itu terkenal dengan pribadinya yang independent, kuat dan bisa dibilang beda tipis sama keras kepala. Sementara siang itu dia jadi super mellow. Apalagi ya kalo bukan urusan cinta (atau mendadak karena langit tiba2 jadi mendung). Saya bukan dokter cinta, mengobati ilmu alternatif pun nggak bisa, tapi kata hati saya dengerin aja.. toh nggak ada salahnya jadi pendengar yang setia. “Emang gue yang salah, tapi gue udah minta maaf kan.. Apa udah begini doang yah?” begitu curhatnya, saya juga bingung, mau bilang “emang elu yang salah” tapi saya nggak ada bukti.. mau bilang “elu nggak salah” pun saya nggak tau ujung ceritanya gimana. Akhirnya saya diem aja, nggak saya reply tuh baris terakhir.

Terus nggak lama bunyi lagi tuh BBM, “Mungkin ini emang salah gue ya, gue udah say sorry beribu kali, gue juga nggak bermaksud melukai hatinya, masa iya  sih gue tega ngelukain hati orang yang gue sayang”. Wahhhh dalem banget ya curhatannya, sedalam samudra Hindia, mulai lebay kata si hati saya, apalagi kalo pake sayang-sayangan. Bisa berabe nih dan berbuntut panjang ceritanya, mungkin saya harus restart BB saya juga, sembari mikir saya kudu tulis apa. Yang tadinya mau say HI doang, sekarang jadi ajang pembahasan cerita luka di hati.. Duhhh hari gini pikir saya..

Akhirnya saya ikut mikir, bener juga ya, apa iya selama ini saya udah cukup memaafkan orang-orang yang salah ke saya? Apa saya udah cukup sabar, bahwa orang salah itu nggak cuman sekali? Coba bayangkan seorang bayi yang lagi belajar jalan, nggak mungkin kan langsung bisa lari. Buat bisa jalan aja harus jatuh-jatuh dulu, jatuhnya nggak cuman sekali. Udah bisa lari aja bisa jatoh, apalagi yang baru pertama kali merangkak mau jalan kan. Apa iya orang salah itu beneran nggak termaafkan? Bener-bener masuk daftar hitam? Lalu si hati saya bilang, ya enggak segitunya!! Banyak hal-hal yang harus dipertimbangkan, kenapa orang itu berbuat suatu kesalahan (yang menurut kita salah banget), pasti dia punya alesan-alesan tertentu kenapa dia berbuat seperti itu. Ibaratnya, nggak mungkin dong si bayi itu sengaja menjatuhkan diri ketika belajar berjalan, karena dia tau kalo jatoh itu sakit, dan bakal membuat si mama menjerit-jerit sehari-semalem (apalagi kalo si bayi juga nangisnya sehari semalem).

Akhirnya untuk menenangkan hati si wanita cantik temen saya itu, saya bilang begini kira-kira, “Sorry itu bukan menentukan siapa yang bener, siapa yang salah, tapi lebih untuk menghargai diri sendiri, menghargai orang lain. Ibaratnya merendahkan ego masing-masing, supaya semuanya menjadi lebih baik.” Saya pun nggak tau dia tersenyum bahagia di ujung sana, atau jadi meraung-raung sejadi-jadinya, karena message saya terakhir itu di-D, di-R, tapi nggak direply.. Lalu si hati saya sibuk tanya-tanya, “Emang bener there is a rainbow after the storm? Kalau mendung terus, atau tiba-tiba panas kaya Jakarta, mau liat rainbow darimana? ujung genteng?”.. nanananana..

Read Full Post »