Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘single and available’

Rasanya ajang pencarian jodoh yang ditayangkan di sebuah televisi swasta menjadi sebuah fenomena belakangan ini. Dikemas dalam sebuah acara yang semarak, enak ditonton dan disinilah label “single” dipasang. Siapapun boleh ikut serta, bahkan konon ribuan orang sudah mendaftar dan tunggu dicasting aja.

Kalau diliat sejarahnya, dulu kayanya nggak patutlah orang gembar-gembor di publik lagi mencari tambatan hatinya. Tapi yang seperti saya bilang tadi, merupakan fenomena, dimana orang jadi terang-terangan menunjukkan ini lho saya single.. ada yang mau sama saya? atau saya lagi mencari seseorang.

Sepertinya simple ya, kepribadian seseorang cuman diliat dalam hitungan menit-menit pertama orang tersebut dihidangkan layaknya main course. Penampilan menjadi titik ukur dan penentuan. Kaya garnish di piring, kalau tampilannya ok ya kayanya enak, kalo dari bentuknya udah nggak menarik No way yah.. meskipun siapa tau rasanya enak banget. Terus yang di belakang lampu tinggal nyalain atau matiin. Nyalain berarti yaaa okelahhh, I want to know you better.. bisa diliat lebih jauh, kalau dimatiin ya berarti I’m sorry goodbye. Beberapa round, dan dilihat aja siapa yang masih bertahan sampai detik-detik terakhir.

Ironisnya, disini pulalah orang menjadi sangat subjektif. Nggak jarang lho alasan2 fisik diumbar disini, kurang tinggi, jalanannya bungkuk, ngomongnya nggak jelas, senyumnya gak meyakinkan, giginya nggak rapih, sampai masalah pautan usia. Kalau sudah begitu paling disorakkin penonton atau pemirsa di rumah juga tentunya. Ada juga beberapa kali si seseorang nggak dapet pasangan dari 30 single, ya ikan di laut masih banyak, lautnya pun bermacam-macam kan.

Yang main disini pun antar individu aja, keluarga cuman jadi tim hura-hura istilahnya. Nyantol satu di ajang ini bukan berarti udah berenti ceritanya, tapi masih awalan, yang nantinya ada acara dating dan sebagainya. Sukur-sukur sih kalau memang ketemu penggalan hati disini yang bisa sampai nikah beneran. Kalo engga yaaa.. ngga papa lah yang penting kan masuk TV begitu lah kira-kira.

Ditelaah lebih jauh dari concept social, memang adanya jodoh-menjodohkan ini membuat orang menjadi lebih berani membuka diri, untuk menyatakan bahwa saya ini lho single, ada yang mau nggak? atau sebaliknya, saya mau jadi tukang matiin/nyalain lampu aja. Kalo dinyalain terusss ya keliatan desperadonya.. kalo dimatiin terus berarti cuman mejeng doang.. Padahal siapa tau emang belom sreg ya, sekali seumur hidup, anda nggak mau sampe salah pilih dong.¬†Bahkan para peserta itu melihatnya bahwa ini sebuah “usaha” dalam mencari pasangan hidup.

Ada yang bilang acara ini rekayasa, nggak sedikit pula yang bilang ini acara beneran jodoh-menjodohkan. Terlepas dari semua itu, setidaknya sekarang orang jadi lebih berani berekspresi “emang iya gue single and looking” dengan embel-embel “masa nggak ada yang mau sama gue”. Suka nggak suka ya begitu adanya. Menurut anda?

Read Full Post »