Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘nanny’s pavilion pacific place’

Saya nggak akan membahas gimana rumah saya yang sekarang saya tempati, tapi ini adalah posting suatu restoran yang lumayan baru di Jakarta, dan menawarkan sebuah konsep yang lumayan unik. Sebenernya sih nggak terlalu unik menurut saya, karena udah ada sebelumnya ditawarkan restoran lain.

Anyway, dengan outlet pertama di Bandung, si Nanny’s Pavilion ini membuka outlet keduanya di Citiloft, yang kemudian berlanjut ke Pacific Place. Tempatnya homey sama persis kaya yang di Bandung, bedanya kalo di Bandung nggak pake AC, suasana makan di kebun, termasuk nyamuk dan serangga lainnya yang siap menemani anda. Saya belum pernah mencoba yang di Citiloft, tapi yang di Pacific Place lumayanlah. It is not the best, but it is ok. Saya berbicara soal konsistensi pelayanan sih. Kalau makanan ya harusnya sama rasanya maupun servingnya. Pasti udah ada buku panduan yang menjamin cita rasanya. Kunjungan pertama pelayananannya ok banget, meskipun waktu itu semua meja occupied, yang kemaren malem agak beda deh, terkesan lama, dan staffsnya nggak terlalu banyak. A good thing is that semua staffs nya punya product knowledge yang lumayan. Jadi anda bisa tanya-tanya dulu sebelum menjatuhkan pilihan.

Pertama kali makan disini, saya dapet meja yang istilahnya ‘bathroom’ lengkap dengan closetnya, tapi yang ini nggak bisa di flush. Lalu si temen saya ini kapok duduk disitu lagi, bukan karena ngga bisa di flush, tapi terkesan weird gitu, takut ada sambungan langsung dan natural instinct dari alam, if you know what I mean.

Talking about the food, the buttermilk fried mushrooms never failed to impress. Nggak terlalu banyak, tapi cukup buat di share ber 4 (atau ber 1 kalau anda sendirian). Kunjungan pertama saya settled bareng Spaghetti apalah itu, yang not bad, but it could have been better dibanding saingannya restoran sejenis di mal tersebut. Kunjungan berikutnya lumayan bervariasi, tomato soup saya pilih menjadi pembuka. Very creamy, asem dan gurih. Kalau anda nggak suka yang neko-neko, tergolong kaum purist, coba yang ini. Isinya ya sesuai judulnya, tomato doang plus beberapa pieces of crouton. Main course nya tuna mayo sandwich. Saya expect ini sandwich roti tawar segi empat terus dipotong jadi 4 bagian. Ternyata saya salah, ini beneran roti segi empat yang utuh, nggak pake dibelah. Rotinya juga udah enak, isinya yummy, dan dibentuk sedemikian jadi harusnya anda nggak berantakan makannya. Kunjungan berikutnya saya coba steak burger sandwich, yang isinya daging cincang ala burger ditutup cheese dengan roti yang sama. Kayanya yang ini memalingkan dunia saya dari si tuna itu.

Saya nggak kesampaian mencoba dessert, karena lumayan kenyang meskipun keliatannya porsi makanannya si Nanny ini imut-imut. Cuman hasil observasi dari meja-meja sebelah, dessertnya menarik juga. Mungkin lain kali harus settle with desserts aja deh kalo kesini. Kalau next time anda kesini, coba minta duduk di meja yang dibuat dari bathtub, lengkap dengan shower puff, shower cap dan bathrobe buat hiasan di dindingnya. O iya, minumnya pesen Nanny’s special cocktail aja, bisa di share untuk ber 4, blackberry versus mango, tapi tetep aja menurut saya blackberry nya lebih nendang dibanding mango nya. Happy eating!

Satu lagi, saya nggak tau ini perasaan saya aja atau sekedar mindset, porsi di Jakarta lebih banyak dibanding porsi di Bandung? Orang Jakarta makan lebih banyak? atau piringnya lebih kecil sehingga keliatan lebih banyak? Oh well, tetep enak kok.

Read Full Post »