Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘custom-made’

FOR ORDER PLEASE EMAIL US AT: LINAANDLIM@YAHOO.COM

OR VISIT OUR FACEBOOK PAGE AT WWW.FACEBOOK.COM/LINAANDLIM

 

 

THE MULTI-PURPOSE BAGS SHOWN IN THIS PAGE ARE ALL HANDSEWN FROM CAREFULLY SELECTED MATERIALS.

VARIOUS PATTERN FROM BATIK, SARONG, OR TRADITIONAL CLOTHS HAVE BEEN CHOSEN TO ENSURE THAT NONE LOOKS ALIKE, SO ONE PIECE IS ONE OF A KIND.

CHEERS
LINA and LIM.H

20121123_202543 20121123_203746 20121123_203831 20121208_195113 20121210_20431220121208_200723  20121210_204413 20121210_204804

Advertisements

Read Full Post »

No, no, bukan saya maksudnya. Beberapa hari yang lalu timeline di Twitter saya diramaikan dengan adanya semacam workshop untuk fashion week di Jakarta. Disebutkan juga bahwa merk-merk dan designers local itu sebenernya punya kesempatan untuk mengembangkan dirinya ke luar negeri. Nggak usah jauh jauh dulu ke luar negeri, mari kita amati yang terjadi di dalam negeri.

Industri fashion local itu kaya nafas senen-kamis, sebentar dibilang eksis, sebentar dilupakan. Beberapa designers pun sepakat untuk menjadikan sebuah atap sebagai wadah untuk showcase designs mereka; pas pembukaan ramenya ajubilah, tapi beberapa bulan setelah itu nggak terdengar gaungnya. Ulasan demi ulasan di majalah mode pun cuman seiprit doang, kalo mereka lagi ada show ya baru dibahas, kalo engga sepertinya lebih menjual apa yang lagi ngetrend di kiblatnya. Kondisi ini kemudian disusul dengan ide-ide baru yang innovative (atau me-recycle conceptnya) supaya lebih bisa diterima dan didekatkan pada si pemakainya. Cuman sayang sekali, nasibnya nggak jauh beda. Beberapa tempat untuk designers local dengan jalur ready-to-wear kayanya kok sulit untuk bertahan. Satu lantai yang full isinya local designers semua bisa dibilang super-sepi untuk ukuran hari biasa. Weekend bolehlah ada crowdnya, tapi dari sekian ratus atau ribu pengunjung yang melantai, 90% itu window-shoppers, 8% nya pegang-pegang doang, nyoba2 doang, sementara 2% nya sukur-sukur jadi beli. Atau kurang dari 2%?

Harga yang di markup sekian puluh (atau bahkan ratus) persen dari bandrol produksi menjadikan ready-to-wear ini kalah saing dengan merek-merek international yang notabene pun sudah jauh dicintai dari sejak dulu. Ibaratnya kalo merek luar itu semakin mahal akan semakin dicari, semakin berkelas, dan semakin-semakin lainnya. Sementara local brands kaya anak tiri, murah aja belom tentu dibeli apalagi kalo mahal, NO WAY!

Saya sendiri pernah ditawari beberapa kali untuk menjadikan design saya sebagai bagian dari industri yang ready-to-wear ini. Masalahnya adalah, pertama dari awal saya ingin sesuatu yang lebih personal dengan si pemakai, nggak cuman asal design, taro aja di rak sukur2 ada yang mau beli; tapi lebih ke apa sih yang mereka perlu, mereka pengen pake dimana, buat apa, acaranya dan sebagainya. Semakin banyak infonya, maka akan semakin complete perencanaan design sehelai pakaian itu sendiri. Bukankah sebagai si pemakai kita akan lebih senang kalo kebutuhan akan sehelai sandang itu dipenuhi, nggak cuman secara visual, tapi kepuasan batin, yang pada akhirnya “ini tuh gue banget!”.

Kedua, bagian dari mass production, bahwasanya baju-baju yang saya design, saya pajang, saya showcase sedemikian rupa, kalo nggak laku mau diapain? Masuk dalam kategori discounted item?  Ketiga, saya sempet takjub kalau ternyata sehelai kemeja batik yang menurut saya sangat biasa aja dibandrol dengan harga mendekati 1juta rupiah, bukan sutra, bukan tulis. Beneran batik biasa. Sementara itu dengan harga yang (kurang lebih sama) saya bisa berkreasi sesuai dengan kemauan si pemakai, berusaha untuk menampilkan kelebihannya dan menutupi kekurangannya. Dengan ukuran sesuai pas dengannya, nggak cuman semena-mena S, M, L, XL. Everyone is different.

Terlebih daripada itu sebagai seorang designer tentunya akan bangga sekali kalo pake baju yang ini-design-gue-loh. One of a kind nggak akan ada yang ngembarin. Cuman nggak semuanya begitu kali ya, buktinya seorang designer local kenamaan pun malah memakai merek yang bukan namanya. And there will be a fashion. Menurut saya, sang designer itu sendiri otomatis akan menjadi ambassador untuk brandnya, bahkan brand image itu pun akan terbentuk dari image dirinya.

All in all, saya sangat percaya bahwa sebuah sesi komunikasi antara si designer dan si pemakai itu sangat penting, supaya tau maunya kaya gimana, supaya bisa pas ukurannya, supaya nggak ada yang ngembarin, supaya special kalau semuanya customised, dan supaya hasil akhirnya sesuai pas banget kaya yang si pemakai mau. Nggak cuman sekedar liat,  milih, nyoba, bungkus atau taro lagi. Option is in your hand (and your wallet!)

Read Full Post »

Looking back the line, I have found one of many photo-shoots that we have done in the past. Featuring the first mini collection for Lina&Lim.H, supported by local photographer, make up artist and models too. Here we go!! Another work in 2008.

Photographer: PHOTOBYSONDHIAR t: @photobysondhiar

Make up Artist: YARRY

Wardrobe and styling: LINA&LIM.H http://linaandlim.weebly.com

Model: AA

Read Full Post »

“Style is an expression of individualism mixed with charisma. Fashion is something that comes after style”

John Fairchild

Check our Facebook here

Read Full Post »

Kalau diartikan secara kata-kata, it means ‘Under the spotlight’. Bisa jadi karena beberapa hal. Pengambilan angle yang memang under the light, atau bahannya yang memang agak mengkilap. Konsep kali ini agak berbeda dari yang sebelumnya, antara classic dan modern, antara casual dan formal. Bahan katun biasa dikombinasikan dengan kain tenun asal India.

Penasaran? Come and join us in Facebook: CLICK HERE

Read Full Post »

Join our fanpage in FB by clicking here!!

Read Full Post »