Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘custom-design’

FOR ORDER PLEASE EMAIL US AT: LINAANDLIM@YAHOO.COM

OR VISIT OUR FACEBOOK PAGE AT WWW.FACEBOOK.COM/LINAANDLIM

 

 

THE MULTI-PURPOSE BAGS SHOWN IN THIS PAGE ARE ALL HANDSEWN FROM CAREFULLY SELECTED MATERIALS.

VARIOUS PATTERN FROM BATIK, SARONG, OR TRADITIONAL CLOTHS HAVE BEEN CHOSEN TO ENSURE THAT NONE LOOKS ALIKE, SO ONE PIECE IS ONE OF A KIND.

CHEERS
LINA and LIM.H

20121123_202543 20121123_203746 20121123_203831 20121208_195113 20121210_20431220121208_200723  20121210_204413 20121210_204804

Read Full Post »

Jadi ceritanya lagi pengen punya tas batik tapi bukan yang bisa langsung dibeli. Pengennya design sendiri, tapi minta tolong orang buatin hehehe. Kebetulan banget kalo inget postingan yang dulu pernah minta dibuatin tas sama yang-maha-creative SawoKecikCraft, ini pun sama sejarahnya. Pas bongkar-bongkar ternyata ada kain batik sisaan kemeja, nggak banyak, ukuran nanggung, dibuat kemeja pun udah gak muat, jadi mending dijadiin tas aja.

Bertukaran ide di twitter sama email, sampe jadilah si tas ini. Prosesnya kalo nggak salah sekitar sebulan. Maklum aja bahannya dikirim dulu, beberapa gambar diseleksi, pas oke baru dibuat. Finally jadi dan balik lagi ke rumah. Pertama liat udah langsung termehek-mehek. One of a kind nggak ada yang ngembarin. Mikir-mikir lagi kayanya lebih kinclong kalo dipakein beads. Jadi deh diproses untuk kedua kalinya, dipasang beads dengan jaitan tangan dan voila here we go!!

Kalau anda juga pengen yang kaya gini, monggo silahkan contact: linaandlim@yahoo.com

This slideshow requires JavaScript.

Read Full Post »

No, no, bukan saya maksudnya. Beberapa hari yang lalu timeline di Twitter saya diramaikan dengan adanya semacam workshop untuk fashion week di Jakarta. Disebutkan juga bahwa merk-merk dan designers local itu sebenernya punya kesempatan untuk mengembangkan dirinya ke luar negeri. Nggak usah jauh jauh dulu ke luar negeri, mari kita amati yang terjadi di dalam negeri.

Industri fashion local itu kaya nafas senen-kamis, sebentar dibilang eksis, sebentar dilupakan. Beberapa designers pun sepakat untuk menjadikan sebuah atap sebagai wadah untuk showcase designs mereka; pas pembukaan ramenya ajubilah, tapi beberapa bulan setelah itu nggak terdengar gaungnya. Ulasan demi ulasan di majalah mode pun cuman seiprit doang, kalo mereka lagi ada show ya baru dibahas, kalo engga sepertinya lebih menjual apa yang lagi ngetrend di kiblatnya. Kondisi ini kemudian disusul dengan ide-ide baru yang innovative (atau me-recycle conceptnya) supaya lebih bisa diterima dan didekatkan pada si pemakainya. Cuman sayang sekali, nasibnya nggak jauh beda. Beberapa tempat untuk designers local dengan jalur ready-to-wear kayanya kok sulit untuk bertahan. Satu lantai yang full isinya local designers semua bisa dibilang super-sepi untuk ukuran hari biasa. Weekend bolehlah ada crowdnya, tapi dari sekian ratus atau ribu pengunjung yang melantai, 90% itu window-shoppers, 8% nya pegang-pegang doang, nyoba2 doang, sementara 2% nya sukur-sukur jadi beli. Atau kurang dari 2%?

Harga yang di markup sekian puluh (atau bahkan ratus) persen dari bandrol produksi menjadikan ready-to-wear ini kalah saing dengan merek-merek international yang notabene pun sudah jauh dicintai dari sejak dulu. Ibaratnya kalo merek luar itu semakin mahal akan semakin dicari, semakin berkelas, dan semakin-semakin lainnya. Sementara local brands kaya anak tiri, murah aja belom tentu dibeli apalagi kalo mahal, NO WAY!

Saya sendiri pernah ditawari beberapa kali untuk menjadikan design saya sebagai bagian dari industri yang ready-to-wear ini. Masalahnya adalah, pertama dari awal saya ingin sesuatu yang lebih personal dengan si pemakai, nggak cuman asal design, taro aja di rak sukur2 ada yang mau beli; tapi lebih ke apa sih yang mereka perlu, mereka pengen pake dimana, buat apa, acaranya dan sebagainya. Semakin banyak infonya, maka akan semakin complete perencanaan design sehelai pakaian itu sendiri. Bukankah sebagai si pemakai kita akan lebih senang kalo kebutuhan akan sehelai sandang itu dipenuhi, nggak cuman secara visual, tapi kepuasan batin, yang pada akhirnya “ini tuh gue banget!”.

Kedua, bagian dari mass production, bahwasanya baju-baju yang saya design, saya pajang, saya showcase sedemikian rupa, kalo nggak laku mau diapain? Masuk dalam kategori discounted item?  Ketiga, saya sempet takjub kalau ternyata sehelai kemeja batik yang menurut saya sangat biasa aja dibandrol dengan harga mendekati 1juta rupiah, bukan sutra, bukan tulis. Beneran batik biasa. Sementara itu dengan harga yang (kurang lebih sama) saya bisa berkreasi sesuai dengan kemauan si pemakai, berusaha untuk menampilkan kelebihannya dan menutupi kekurangannya. Dengan ukuran sesuai pas dengannya, nggak cuman semena-mena S, M, L, XL. Everyone is different.

Terlebih daripada itu sebagai seorang designer tentunya akan bangga sekali kalo pake baju yang ini-design-gue-loh. One of a kind nggak akan ada yang ngembarin. Cuman nggak semuanya begitu kali ya, buktinya seorang designer local kenamaan pun malah memakai merek yang bukan namanya. And there will be a fashion. Menurut saya, sang designer itu sendiri otomatis akan menjadi ambassador untuk brandnya, bahkan brand image itu pun akan terbentuk dari image dirinya.

All in all, saya sangat percaya bahwa sebuah sesi komunikasi antara si designer dan si pemakai itu sangat penting, supaya tau maunya kaya gimana, supaya bisa pas ukurannya, supaya nggak ada yang ngembarin, supaya special kalau semuanya customised, dan supaya hasil akhirnya sesuai pas banget kaya yang si pemakai mau. Nggak cuman sekedar liat,  milih, nyoba, bungkus atau taro lagi. Option is in your hand (and your wallet!)

Read Full Post »

The Wedding Gown is finally ready to be sent out for wedding in St. Regis Bali next weekend. Click our page for a closer look http://www.facebook.com/pages/Lina-and-LimH/183337348877

This slideshow requires JavaScript.

Read Full Post »

Having gone through my documents in my laptop, I have found some interesting designs that we used to display few years ago (in fact, when we had just started!!). This was like our first mini-collection that inspired by the line. In depth, there was no straight line or cut allowed in the entire project. We believed that the curve could even make yourself look better rather than the line. So please welcome one and only SIMIFLO; See-me-flow, it naturally flows and not restricted by the lines. Earthy tone, dash of silver and maroon have been chosen to complete the entire collection. Enjoy!

This slideshow requires JavaScript.

Read Full Post »

http://linaandlim.weebly.com

Read Full Post »

Batik Mega Mendung dengan aksen overlap-sleeve. http://linaandlim.weebly.com

Read Full Post »

Older Posts »