Feeds:
Posts
Comments

Archive for February 25th, 2011

Sepertinya hanya segelintir orang-orang terdekat saya yang tau kalau dulu berat saya pernah mencapai 96kg. Gendut banget kaya balon mau meletus, kira-kira begitu lah yang biasanya dilontarkan teman-teman saya.

Sejak duduk di bangku SMP saya mulai merasa ada yang nggak bener di tubuh saya. Pasalnya hampir tiap kali saya mengikuti pelajaran olahraga keesokan harinya saya dipastikan sakit. Kalau teman-teman saya justru merasa segar setelah lari keliling lapangan, saya merasa kebalikannya. Breathless seperti mau pingsan, lemas dan nggak bisa nafas teratur. Ketika itu berat saya masih mencapai angka 70an. Masih teringat ketika itu disuruh lari keliling sekolahan (bukan lapangan) menjadi sebuah nightmare sendiri untuk saya. Bagaimana engga, kalau lewat dari 5 menit maka dapet bonus squat jump dihitung dari berapa menit telatnya. Bisa dipastikan saya orang terakhir yang mencapai garis akhir, dimana teman-teman saya sudah berkumpul dan udah ngobrol. Saya masih harus menyelesaikan acara lari-larian itu dan bonusnya juga. Dipastikan keesokan harinya saya jatuh sakit, badan saya panas dingin. Sejak itu acara olahraga menjadi sebuah mimpi buruk yang berkepanjangan, setidaknya seminggu sekali. Puncaknya saat orang tua saya mendatangi pihak sekolah dan meminta kebijakan supaya saya dibolehkan untuk nggak ikut olah-raga selama sebulan. Panas dingin yang pertamanya biasa aja ternyata menjadi gejala typhus yang lama.

Hampir tiap hari saya berdiri di depan kaca dan rasanya susah untuk menerima diri sendiri. Gendut, jelek, nggak keren seperti teman-teman saya lainnya. Lalu sampai kapan mau begini terus? Makan udah dijaga, olahraga menjadi suatu hal yang sama sekali nggak mungkin. Untungnya saya masih termasuk tinggi jadi julukan pendek dan gendut nggak pernah melekat di saya (setidaknya nggak pernah dipanggil doraemon atau sejenisnya). Kalau pas jam pelajaran kosong dimana teman2 saya memilih untuk bermain sepak bola atau basket, saya lebih memilih duduk di kelas dan menyelesaikan tugas untuk keesokan harinya atau sekedar ngobrol dengan teman yang lain.

Singkat cerita, melanjutkan highschool ke negeri kangguru menjadi pilihan saya saat itu. Jadilah saya hidup nge-kost bersama hostfamily saya yang berasal dari Italy. Yep, Italy, yang terkenal dengan orangnya yang ramah, dan sangat ramah ketika menghidangkan makanan. Pasta, pizza, dessert, ini dan itu jadi makanan saya sehari-hari. Makanan yang selalu tumpah ruah setiap harinya. Untungnya saya mulai terbiasa dengan gerakan jalan kaki kemana-mana. Mau ke city harus jalan kaki ke bus stop dulu atau ke train station. Meskipun jaraknya nggak seberapa jauh, tapi awalnya cukup membuat saya ngos-ngosan.

Saya seperti dibangunkan dari mimpi sepulangnya dari sana. Berat saya mencapai 96kilogram saat itu dan saya harus memakai celana berukuran 38. Rasanya malu pada diri sendiri kalau tiap kali mau beli baju selalu cari yang paling besar. Mau beli celana harus cari yang ukurannya 38. Di negeri kangguru itu masih banyak yang jauh lebih tinggi (dan lebih berat) dari saya, tapi untuk ukuran orang Indo saya termasuk buntek, mau meletus. I have to do something about this. Mau sampai kapan seperti ini.

Beruntung my Mom adalah orang yang sangat supportif. Beliau memang penggemar olahraga bahkan sejak sebelum menikah dia udah aktif di sanggar senam, sampai ketika melahirkan saya dan sampai sekarang, sampai saya menulis blog ini. Agak addicted but in a good way. Mulailah dia menyemangati saya untuk berlatih dengan seorang trainer dan merapikan kembali pola makan yang sangat italiano itu. Olahraga teratur dan bervariasi serta diet ketat saya lakukan. Saya tetap berada di meja makan ketika jam makan tiba, tapi saya makan buah dan sayur aja. Itu pun sayur rebus biasa tanpa garam. Sulit pada awalnya, namun menjadi semangat ketika jarum kiloan mulai bergeser ke angka yang lebih layak. Dalam waktu 2 bulan saya sudah menghilangkan 5 kilo dan begitu seterusnya. Saya pun mulai lebih percaya bahwa kalau memang niat ya pasti ada jalan. Tiap orang bilang kurusan saya jadi lebih terpacu untuk kembali ke gaya hidup yang lebih sehat.

Sampailah saya di suatu fase dimana saya harus melanjutkan study ke Malaysia. Beruntung kalau ternyata ada FitnessFirst di dekat kampus dan tempat kost. Berkat dorongan dari seorang teman (yang berukuran extra juga, demi keamanan bersama namanya nggak saya sebut disini) jadilah saya member disana. Hari-hari saya habiskan di gym sepulang kuliah. Tugas-tugas saya selesaikan jauh lebih awal dari dateline nya, semata-mata supaya bisa ke gym! Bahkan ketika final exam tiba, sehari sebelumnya saya masih bisa ke gym. Saya pun menjadi lebih rajin mencari artikel tentang pola makan yang lebih sehat, what’s good what’s not. Setiap kali saya nimbang dan turun, rasanya seperti dianugerahi Piala Oscar, dan itu memicu saya untuk beneran kembali ke pola hidup sehat. Diet ya tetep diet, tapi bukan berarti nggak makan kan. It’s all about what you eat. Kalau olahraga gila-gilaan tapi makan lebih gila lagi ya sama aja bukan. Mulailah saya pelan-pelan untuk me-makeover diri sendiri, menemukan gaya yang dulu sama sekali nggak mungkin.

Sekembalinya dari negeri jiran itu berat saya sukses berada di 75kg. Ukuran celana nggak lagi tuh 38, dengan bangga saya cerita ke mama dan keluarga kalau sekarang celana saya 34 bahkan 32 pun muat. Senangnya. Farewell to 21kg. Kalau anda mau tau seberapa berat itu 21 kg, coba aja angkat barbel 21kg, nah itu deh total lemak dan segala macem yang sudah terbuang. Yang ada badan saya bereaksi keras kalau 2 hari nggak olahraga. Nagih banget.

Ketika melanjutkan S2 ke London – UK, saya pun tetap melakukan gym routine saya. Yang membuat saya lebih senang disana, makanan-makanan yang dijual di supermarket atau dimanapun juga jelas sekali labelnya. Mulai dari yang Fat-free, low GI, gluten free, reduced sugar, sampai asupan calories dan fat nya pun dibuat visible. Jadi bebas menentukan mau makan yang versi full temptations atau mau yang healthier options, semuanya ada. Tanpa sadar gaya hidup begini sukses membawa saya ke angka 70an dan memaintain ini sampai sekarang.

Sepulangnya dari London, saya pun menjadi terbiasa dengan pola hidup disana. Menjadi lebih kritis soal berat badan. Dulu yang saya pikirkan hanya angka terakhirnya yang nongol di timbangan. Sekarang saya baru tau kalau ternyata ada  yang namanya kandungan air, muscle percentage, fat percentage dan lain sebagainya. Saya pun menjadi lebih aware kalau ternyata makan yang terlalu asin atau manis itu nggak bagus buat badan. Saya juga jadi lebih mengerti kenapa orang yang tiap hari ke gym bukan makin sehat tapi makin gendut. Gimana cara diet yang sehat tanpa menyiksa diri, gimana memilih convenient food yang bukan junk food dan lain sebagainya.

So all in all, it is not about predicting your future, but it is all about creating yours. Right here right now.

Read Full Post »