Feeds:
Posts
Comments

Archive for February 21st, 2011

Untuk review kali ini saya harus membuka-buka lagi foto2 nya di postingan sebelumnya supaya yahhh kebayang lagi rasanya dari sekian banyak yang bisa diicipi disini. Tahun lalu saya merayakan ulang tahun saya disini bersama teman-teman dan sebuah kebetulan kalau tahun ini saya juga dapet meja yang sama. Interiornya nggak ada yang berubah, kalaupun ada mungkin di crystal yang menjuntai2 itu dan ruangan di ujung yang somehow terkesan terpisah karena bernuansa merah sendiri. Servicenya outstanding, lebih casual namun tetap formal, attentive tapi tetap discreet, just how I like it to be.

Appetizer – Karena saya udah kelaparan akut menunggu para tamu yang agak molor jamnya (padahal udah ditulis “We are going to start eating by 6.30pm”) akhirnya saya putuskan untuk mencoba dimsum. Banyak pilihannya mulai dari siomay, hakau, kaya pau (must-try), cha siew pau dan sebagainya. Yang saya cari sebenernya dinner roll, tapi nggak keliatan. Belakangan baru tau ada di sebelah Indian corner.

Sushi corner – Sushinya lumayan bervariasi but a-NO for me, somehow saya lagi nggak kepengen sashimi dan sejenisnya kemarin malem. Diputuskan mengambil appetizernya berupa breaded fish dan cold tofu. Breaded fishnya biasa aja, disajikan dengan sedikit BBQ sauce, tapi cold tofunya boleh dicoba. Yang lain ada kimchi bowl (Skip), lalu ada cold soup warna-warni yang disajikan dalam tube (skip juga) dan ada miso soup juga (terpaksa skip juga). Mungkin anda berminat mencobanya next time?

Main Affair – Bebek panggang menjadi pilihan utama saya, Mulia memang paling juara soal bebek, dari hotel manapun di Jakarta. Saya kira bakal dibungkus kaya di Table8, ternyata engga, jadilah potongan bebek yang lumayan gigantic itu menjadi menu sharing (sharing the guilts and the calories). As expected, bebeknya empuk, gurih, nggak terlalu berminyak dan sangat enak, even dimakan gitu aja. Ada Noodle station juga (Skip lagi), tapi beberapa teman saya merem melek dibuatnya, enak banget katanya. Mereka juga ada pilihan non-halal.

Italian Corner – Fussili pasta dengan pesto sauce yang dipesan teman saya agaknya kurang nendang, yang berikutnya saya nggak cobain. Tapi menurut saya pastanya biasa aja. Yang enak justru yang udah dimasak, beef medallion with mushroom sauce, very tender, a must-try item disini. Potongannya keliatan kecil tapi lumayan mengenyangkan. Stuffed baked pasta juaranya malam itu. Teman saya sampai bolak-balik 3 kali buat mencicipinya. Ini bukan baked pasta biasa, dibawahnya dilapisi sejenis pastry, crunchy dan garing, keju sebagai toppingnya pun nggak berlebihan. Nice nice nice. Masih ada Seafood Paella dan sauted vegetables dan roasted chicken dan saya skip semuanya.

Thai Job – Di ujung dekat entrance to the left, ada small Thai corner yang menyajikan beraneka racikan salad sesuai selera anda. Yang saya coba Thai beef curry, steamed dory infused with lemon sauce dan perkedel jagung. Beef currynya enak, sangat authentic, nggak terlalu pedes with a generous serving of beef cubes. Dory nya juga enak, ada aroma lemon dan herbsnya sangat mendominasi, jadi wangi dan empuk. Perkedel jagung nya kelewat garing, mungkin si mbak di rumah lebih enak bikinnya.

Mediterranean Piece – Ada sebuah baskom terbuat dari ice yang berisi mussels, oysters, prawns and the gank. Saya nggak terlalu fancy dengan dua items terakhir, jadi saya cuman ambil musselsnya. Condiments berbagai sauce dan tentunya seiris lemon. Voila, enak banget, musselsnya gendut, salsa saucenya nendang, komplit pokoknya. Saya cuman ambil 3 lohhh. Suer. Ah iya, ada vegetable pizza juga kalau anda nggak tahan untuk nggak nyomot seiris aja.

Indonesian Kitchen – Masakan Indonesia nya nggak kalah dengan menu lainnya. Empal suirnya juara sekali. Runner upnya si sambel goreng kentang sama tempe. Sebenernya ini adalah accessories nasi bogana hijau, tapi karena saya nggak makan nasi, jadilah saya ambil aja lauknya. Enak, patut dicoba, rasanya very Indonesia. Begitu juga dengan Soto Betawinya, bumbunya sangat terasa dan dagingnya juga empuk. Saya skip emping, rempeyek dan kerupuknya.

Cheese Platter – Assorted keju kalau anda suka ada disini. Tapi entah kenapa camembert yang udah saya lirik dari awal tiba2 hilang gitu aja. Lumayan macem-macem kejunya ada biscuitsnya juga plus anggur buat temennya.

The Sweet Ending – Serabi Pak Ramli jadi juaranya. Saya bingung juga kenapa dinamain serabi Pak Ramli ya? Apa karena si masnya itu namanya Ramli? Anyway, request buat yang coklat doang, karena beneran enak yang isinya coklat aja buat saya. Yummy to the max. Kue Putu, assorted Thai desserts termasuk singkong disantenin itu kayanya di skip aja deh karena menurut saya rasanya biasa aja. Santan buat si singkong itu terlewat gurih jadi rasanya asin. O iya tapi kalau anda penggemar mochi, coba ambil mochinya hitam dan putih, dua-duanya enak.

Di antara dua pilihan es podeng atau es doger, saya pilih es podeng, rasanya juga traditional banget, servingnya pun generous sekali, dengan topping beraneka ragam, suka-suka ambilnya. Sebenernya masih ada frozen yoghurt, ice cream, assorted cakes this and that, but I was wayyy to full. Nggak sanggup lagi deh rasanya meskipun semuanya terlihat menarik.

Masih ada Indian corner yang menyajikan salmon tikka, chicken tikka, naan bread dan sebagainya dan sebagainya yang harus saya skip. Masih ada grilled station yang menyajikan sosis, ikan, daging, ayam, udang dan sebagainya dan sebagainya yang saya skip juga; sederetan kue kue yang dadah-dadah di balik etalase. Ahhh untung saya masih bisa menenangkan diri dan meyakinkan bahwa there is still tomorrow, jadi eat like there IS NO tomorrow. Dengan harga Rp2xxribu rupiah saja, anda bisa menikmati semuanya itu, apalagi kalau anda termasuk yang big eater harus dicoba deh.

Read Full Post »

Read Full Post »

 

 

 

 

 

 

Saya suka sekali segala sesuatu yang berbau wangi – terutama wangi makanan ya. Untuk yang satu ini pemberian dari dua teman dekat saya pas ulang tahun kemarenan ini. Dulu saya nggak terlalu suka bau2 wangi ruangan, apalagi kalau baunya udah mulai mistis seperti jasmine atau sandalwood yang menurut saya baunya mirip kemenyan. Nggak usah nunggu malem jumat kan kalau mau buat merinding disco.

Musim wangi-wangian yang di botol dan dibakar seharga jutaan rupiah sepertinya udah lewat masanya, sekarang beralih ke yang lebih eco-friendly begitu. Diperkenalkanlah saya sama yang satu ini, judulnya room diffuser. Dipercaya bisa membuat se-ruangan semerbak (baca: seruangan ya bukan serumah). Buka kemasannya, masukkan itu sumpit-sumpitnya dan biarkan semalaman, maka keesokan harinya ruangan anda akan semerbak cade and lavender, kaya di eropa sonoan dikit (meskipun cuman di kamar saya). Ah tapi nggak papa deh, sedikitnya bisa mengobati rasa kangen saya buat jalan-jalan lagi kesana di kala winter. Percaya atau engga, bau-baunya mirip yang beginian. Japonica collection dari voluspa begitu judulnya. Once again,thanks guys for making my birthday (always) a memorable one.

Read Full Post »