Feeds:
Posts
Comments

Archive for March 19th, 2010

:: B is for Batik ::

Beberapa tahun yang lalu, batik itu sepertinya hanya keluar dari lemari kalo pas ada kondangan aja. Itu pun menjadi alternatif terakhir kalau baju andalan anda lagi di-laundry, atau kebetulan resepsinya cuman di gedung biasa, bukan di hotel bintang 5. Terus selalu berhasil membuat anda lebih tua beberapa tahun. Padahal dahulu kala, batik itu bukan hanya sekedar motif, tapi juga menyebutkan status sosial seseorang. Setelah saya baca dari kanan kiri, ada motif-motif tertentu yang cuman boleh dipakai oleh kerabat kerajaan, bahkan pada hari-hari tertentu saja dan motif lainnya yang memang diperuntukkan bagi rakyat jelata.

Coba deh anda ingat-ingat, mungkin kesannya formal banget ya kalau anda memutuskan untuk memakai batik di suatu acara. Bahkan mungkin anda dikira pak Lurah atau pak RT setempat. Ya, anda benar, beberapa tahun yang lalu batik dianggep out-of-fashion, kaya kurang gimanaa gitu kalau dipake. Beberapa label pun langsung melekat begitu saja, mulai dari ajudan, pak RT, pasukan pengaman dan lain sebagainya. Pokoknya image batik dulu tuh begitu. Makanya gak jarang ada yang berusaha membela diri, ini motif keraton loh, atau ini batik tulis loh, atau ini batik sutera loh atau bahkan sampai yang ekstrim: ini batik mahal lohh.. Sooooo?

Lalu kita disibukkan gara-gara negara tetangga mengklaim kalau batik itu asalnya dari mereka. Baru deh kita mikir gimana caranya supaya batik ini back to fashion ya. Mari bung rebut kembali. Disulap jadi lebih muda, lebih bisa dipakai. Tanpa embel-embel “engkoh-engkoh” atau “encim-encim“. Hari Jumat pun diikrarkan menjadi hari Batik. Coba deh anda ke SCBD atau ke pusat perkantoran hari ini, pasti semuanya pake batik. Mungkin malah udah ada yang dari kemarin ya.

Dalam sekejap batik pun kembali eksis. Dimana-mana mulai berbatik ria. Ke kondangan hotel bintang 5 pun semua pakai batik. Batik sih tetap batik ya, cuman dikemas dalam design yang berbeda. Lebih wearable. Lebih bisa diterima. Lebih sedap dipandang. Bukan motif bunga yang templok templok gitu. Mau pakai batik dipadankan dengan jeans robek-robek pun silahkan, udah nggak ada aturan pakem soal batik. Sejarahnya, for your info, batik itu berbeda-beda dari kota asalnya. Sebut saja Batik Jogja, Batik Solo, Batik Bali atau Cirebonan yang terkenal dengan mega-mendung nya. Lalu seiring dengan perkembangan budaya itu sendiri, sampai ada yang namanya Batik Encim, yang notabene motifnya dipengaruhi dari Budaya Cina. Tapi tenang aja, memakai batik encim itu nggak langsung membuat anda menjadi encim-encim kok. Singkatnya, kalau anda PD Jaya, pakai apapun juga pasti terlihat bagus kan.

Batik lagi naik daun. Tante-tante yang dulunya memakai atasan brand terkenal seharga jutaan rupiah, sekarang memakai batik (meskipun yang ditenteng tetep aja either LV atau Hermes). Anak-anak muda (termasuk saya) yang dulunya sempat berpikir, kayanya gak mungkin banget berbatik kalau engga pas kondangan, sekarang sah-sah aja ke mall berbatik, jeansnya dari GAP atau Levis terus sepatunya Onitsuka. Nggak ada yang ngelarang.

Akhir kata, semoga aja batik tetap eksis dan bukan sebuah trend sesaat, tapi sesuatu yang bisa bertahan dalam jangka lama, dan tidak lagi dianak-tirikan, atau dikait-kaitkan dengan status sosial seseorang. Siapa tau tahun depan si LV berkolaborasi dengan Iwan Tirta terus mengeluarkan limited edition handbags nya.. Seperti si Murakami beberapa tahun yang lalu..Lucu juga kali ya.

Read Full Post »